Kongres AS Tanyakan Nuklir Israel, ini Jawaban Menlu Marco Rubio
Key Discussion menjadi topik utama dalam sidang Kongres AS yang diadakan Rabu (3/6/2026). Pertanyaan tentang keberadaan senjata nuklir Israel memicu perdebatan sengit di ruang rapat, terutama saat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dihadapkan dengan serangkaian pertanyaan tajam dari anggota Partai Demokrat. Meski menjawab secara taktis, Rubio tidak memberikan jawaban eksplisit, yang menegaskan sikap ambiguitas diplomatik Washington dalam masalah ini.
Key Discussion dalam Sidang Kongres AS
Castro, salah satu anggota Kongres, memulai Key Discussion dengan menanyakan apakah AS akan menyokong penggunaan senjata nuklir Israel di wilayah konflik. Rubio menjawab dengan menekankan bahwa pemerintah AS tidak ingin memicu reaksi negatif dari pihak-pihak lain. “Sebagian besar dunia mengakui bahwa Israel memiliki senjata nuklir,” ujarnya, sambil mengingatkan bahwa kebijakan ini diterapkan selama bertahun-tahun.
Castro menilai jawaban Rubio kurang memuaskan, karena tidak menjelaskan posisi pemerintah secara jelas. “Jika mereka memang memiliki senjata nuklir, kita tidak tahu apa ‘garis merah’ mereka untuk menggunakan senjata tersebut,” tegas Castro dalam blok kutipan yang memperkuat kekhawatirannya. Ini menunjukkan bahwa Key Discussion bukan hanya sekadar pertanyaan teknis, tetapi juga refleksi ketidakpuasan terhadap transparansi kebijakan luar negeri AS.
Tantangan Transparansi Strategis AS
Kebijakan diam AS terhadap program nuklir Israel dianggap sebagai bentuk ambiguitas strategis yang telah berlangsung lama. Castro dan 30 anggota parlemen lain menekankan bahwa keterbukaan informasi menjadi kunci dalam merancang kebijakan nonproliferasi yang efektif di wilayah Timur Tengah. “Kita tidak bisa membuat kebijakan koheren jika terus berdiam di belakang layar,” kata Castro, yang menyoroti risiko reputasi AS dalam Key Discussion ini.
Menurut Rubio, sikap diam ini diperlukan untuk menjaga keseimbangan kepentingan dalam hubungan dengan Israel. Ia menjelaskan bahwa pembahasan lebih lanjut tentang senjata nuklir Israel harus dilakukan secara rahasia, karena melibatkan pertimbangan politik dan militer yang rumit. Hal ini memicu reaksi tajam dari anggota Kongres, yang merasa AS tidak mampu memberikan jawaban akurat dalam Key Discussion.
Isu senjata nuklir Israel semakin sensitif setelah beberapa pejabatnya melontarkan pernyataan kontroversial. Pada November 2023, Menteri Warisan Budaya Amichai Eliyahu sempat menyebutkan bahwa penggunaan bom nuklir di Gaza adalah pilihan yang logis. Di sisi lain, politikus pro-Israel seperti Randy Fine menyerukan perlunya kekuatan nuklir dalam menyelesaikan konflik Palestina, membandingkannya dengan serangan AS ke Jepang pada Perang Dunia II.
Key Discussion ini juga menjadi momen penting bagi pemerintahan Biden, yang berusaha memperkuat hubungan dengan negara-negara Timur Tengah. Dengan mengingatkan konsistensi kebijakan nuklir Israel, Castro meminta klarifikasi lebih lanjut dari Departemen Luar Negeri. “Kita butuh jaminan bahwa AS tidak hanya mendukung Israel secara diam-diam, tapi juga memberi tanggung jawab terhadap risiko yang ditimbulkan,” tuturnya, yang menjadi inti dari Key Discussion ini.
Sementara itu, respons dari Rubio menegaskan bahwa kebijakan nuklir Israel adalah bagian dari strategi luar negeri AS. Ia menjelaskan bahwa pemerintah tidak ingin memicu perang kecil dengan Arab Saudi atau Iran, meski keterbukaan tetap menjadi prioritas. “Kita harus memastikan bahwa keputusan kita tidak terlihat sebagai pengorbanan untuk kepentingan Israel,” tegas Rubio, yang mengakhiri Key Discussion dengan tawaran kompromi antara transparansi dan konsistensi politik.
