Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Oreshnik, Serangan Udara Terbesar Hantam Ukraina
Key Discussion: Konflik antara Rusia dan Ukraina memasuki tahap baru setelah serangan udara masif terjadi di Kyiv, yang melibatkan rudal balistik Oreshnik dan puluhan drone. Penyerangan ini dianggap sebagai tindakan militernya yang paling agresif dalam beberapa bulan terakhir, dengan dampak signifikan terhadap infrastruktur sipil dan fasilitas militer.
Strategi Serangan Rudal Oreshnik di Kyiv
Rusia menggunakan rudal Oreshnik, senjata balistik berkekuatan tinggi, dalam serangan terbesar terhadap Kyiv. Rudal ini memiliki jangkauan mencapai ribuan kilometer dan dilengkapi teknologi pengenalan target canggih, memungkinkan pemboman yang akurat. Selain itu, operasi ini juga melibatkan 600 drone yang terbang dalam formasi luas, menambah kerusakan di area-area strategis. Serangan berlangsung sepanjang malam, dengan kekuatan yang menghantam pusat kota dan sekitarnya.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan bahwa Kyiv menjadi korban utama dari serangan tersebut. “Serangan ini menimbulkan kerusakan besar, menghancurkan fasilitas pasokan air, dan merusak pasar sentral,” jelas Zelensky, Minggu (24/5) pagi. Kejadian ini diperparah oleh keberhasilan Rusia mengakses posisi penting di kota tersebut, yang menjadi pusat politik dan militer Ukraina.
Pemerintah Kyiv mengklaim bahwa serangan rudal Oreshnik telah merusak puluhan bangunan, termasuk gedung sekolah dan tempat tinggal. Jumlah korban mencapai setidaknya dua orang tewas dan lebih dari 70 cedera. Wali Kota Kyiv, Vitaly Klitschko, mengungkapkan bahwa kekacauan terjadi di beberapa wilayah, memaksa tim pemadam kebakaran dan pengevakuasi bergerak cepat untuk mengendalikan situasi.
Kritik Internasional dan Respon Diplomasi
“Kami harus menyerang dengan kekuatan yang lebih besar untuk mendemoralisasi musuh,” tulis Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, dalam postingan media sosial.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menilai serangan tersebut sebagai bentuk tindakan teror yang berisiko meningkatkan tekanan nuklir. Ia menyatakan bahwa penggunaan rudal Oreshnik bisa berdampak signifikan pada keamanan internasional. Sementara itu, Perdana Menteri Ukraina, Yulia Svyrydenko, memperkirakan bahwa total korban mencapai empat orang, dengan lebih dari 80 luka-luka akibat ledakan dan serpihan.
Dalam Key Discussion yang diadakan oleh pihak internasional, keberhasilan Rusia dalam menyerang Kyiv menjadi topik utama. Para ahli menyebutkan bahwa operasi ini menggambarkan kemajuan teknologi militer Rusia, terutama dalam penggunaan rudal yang berkecepatan tinggi dan jangkauan jarak jauh. Meski demikian, negosiasi perdamaian yang dimediasi AS masih terjebak dalam kesulitan, dengan keberatan Ukraina terhadap tuntutan Rusia.
Beberapa negara Eropa mengungkapkan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik. Mereka menekankan perlunya penegakan sanksi ekonomi lebih ketat terhadap Moskow, sementara Uni Eropa berencana menggelar pertemuan khusus untuk merumuskan langkah-langkah respons terhadap serangan ini. Dalam Key Discussion terbaru, pihak internasional mempertanyakan apakah Rusia sengaja menghancurkan fasilitas sipil atau hanya sebagai sampingan dalam operasi militer.
