Abu Najjeh dan Nakba: Pengusiran Berulang Komunitas Badui di Tepi Barat
Kisah Abu Najjeh dan Nakba Ketiga – Kisah Abu Najjeh dan Nakba menjadi simbol tragis dari siklus pengusiran yang terus berlangsung di wilayah Tepi Barat. Abu Najjeh, seorang tokoh Badui dari komunitas Ein Samiya, mengungkapkan bahwa situasi kini mirip dengan peristiwa Nakba pada 1948. Ia menyebutkan bahwa kekerasan terhadap warga Palestina bukan lagi sekali, melainkan Nakba Ketiga, dengan penderitaan yang semakin intens. Keluarga Kaabneh, yang telah mengalami pemindahan tujuh kali sejak awal abad ke-20, kini terpaksa tinggal di tenda darurat di pinggiran Rammun. Meski dianggap aman, krisis ini terus mengancam keberlanjutan hidup mereka.
Tragedi di Wilayah yang Diklaim Aman
Ketakutan Abu Najjeh terbukti nyata. Saat ia menerima kabar bahwa Yousef Kaabneh, remaja 16 tahun dari keluarga yang sama, tewas dibunuh oleh pemukim Israel, ia langsung memutuskan berpindah ke Jiljilyya. Area tersebut, yang seharusnya berada di bawah otoritas Palestina, justru menjadi saksi bisu kekerasan. Sejarah keluarga Kaabneh menggambarkan penderitaan yang berlangsung selama delapan dekade: Dulu, mereka memiliki ratusan ternak dan sekolah bagi anak-anak. Tapi sejak 2019, pos-pos pemukim ilegal mulai menggerogoti wilayah mereka, menyebabkan pengurangan ternak hingga dari 2.500 ekor menjadi kurang dari 500 ekor.
Krisis air dan akses yang terbatas juga menjadi tantangan besar. Abu Najjeh menyebutkan bahwa air bersih dibeli dengan harga mahal, sekitar 250 shekel per tangki. Lahan yang tersisa tidak lagi layak untuk pertanian atau penggembalaan karena dikelilingi kebun zaitun penduduk lain. “Kami hidup di tanah ini dan mati di tanah ini,” kata Abu Najjeh, mengutip pepatah Badui. “Orang-orang saya membutuhkan saya. Saya harus pergi.”
Perjalanan Berpindah yang Tak Berkesudah
Keluarga Kaabneh terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berusaha mencari ruang untuk bertahan hidup. Setelah meninggalkan Ein Samiya pada Mei 2023, mereka pindah ke Khirbet Abu Falah, lalu ke Rammun. Namun, di mana pun mereka berada, pos-pos pemukim baru terus muncul, hanya beberapa ratus meter dari tenda mereka. Tidak ada listrik, dan kehidupan mereka bergantung pada sumber daya yang semakin langka. Abu Najjeh menilai ini bukan kecelakaan kecil, melainkan bagian dari rencana sistematis untuk mengosongkan wilayah Tepi Barat.
Kisah Abu Najjeh dan Nakba juga menjadi cerminan dari penderitaan rakyat Badui yang sering diabaikan. Komunitas ini, yang memiliki akar sejarah dalam wilayah tersebut, terus diusir dengan alasan berbagai. “Ini upaya membuat hidup kami menjadi mustahil, hingga terpaksa berpindah,” ujar Abu Najjeh. Ia menekankan bahwa kekuatan pemukim Israel jauh lebih dominan, dengan ratusan pria bersenjata menghadapi komunitas kecil yang hanya terdiri dari 7 atau 10 orang.
Krisis yang Bukan Sekadar Sejarah
Pengusiran berulang tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga mengubah cara masyarakat Badui menghidupi budaya mereka. Abu Najjeh menyebutkan bahwa peninggalan nenek moyang, seperti tradisi penggembalaan, kini terancam. Kisah Abu Najjeh dan Nakba ketiga menggambarkan bagaimana wilayah yang telah dihuni selama berabad-abad sekarang menjadi tempat yang tidak aman. Kebun zaitun, air, dan ruang hidup menjadi target serangan yang tidak berkesudah.
Krisis ini juga memperlihatkan bagaimana Nakba tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus menghantui hari-hari sekarang. Abu Najjeh menilai bahwa siklus pengusiran yang terjadi saat ini adalah bagian dari strategi Israel untuk mengusir populasi Palestina secara perlahan. “Kami tidak hanya diusir, tetapi juga ditinggalkan,” jelasnya. Ia mengakui bahwa ketidakadilan kekuatan menjadi faktor utama dalam konflik ini, dengan warga Palestina mempertahankan hak atas tanah mereka sambil menghadapi tekanan fisik dan politik.
Peristiwa Nakba Ketiga dalam Konteks Global
Dalam konteks global, kisah Abu Najjeh dan Nakba ketiga menunjukkan bagaimana peristiwa tahun 1948 terus diulang dengan bentuk yang berbeda. Pemukim Israel, yang sejak awal abad ke-20 terus menempati wilayah Tepi Barat, memberikan tekanan terhadap komunitas Badui dengan cara yang terstruktur. Abu Najjeh menegaskan bahwa pengusiran ini bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga perang melawan identitas budaya. “Nakba bukan sekadar peristiwa sejarah, tapi krisis yang terjadi setiap hari,” kata dia, menjelaskan bahwa masyarakat Badui harus terus berjuang untuk mempertahankan keberadaan mereka.
Kisah Abu Najjeh dan Nakba juga menjadi isyarat bahwa konflik di Tepi Barat belum berakhir. Meski sejumlah wilayah dianggap aman, tekanan terus mengalir. Abu Najjeh meminta dukungan internasional untuk menghentikan pengusiran berulang. “Kami membutuhkan bantuan untuk memperjuangkan hak atas tanah kami,” tuturnya. Ia percaya bahwa Nakba ketiga adalah bagian dari upaya jangka panjang untuk menghancurkan kehidupan warga Palestina dan mengosongkan wilayah mereka.
