Krisis Mental Israel: Trauma Perang dan Meningkatnya Brutalisasi Masyarakat
Krisis Mental Israel sedang mengalami peningkatan yang signifikan akibat konflik berkelanjutan yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir. Dari genosida di Gaza hingga serangan pada 7 Oktober 2023, serta eskalasi perang dengan Iran, Libanon, dan Suriah, trauma mendalam telah menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Menurut data dari Maccabi Healthcare Services, sekitar 33 persen penduduk Israel melaporkan kebutuhan akan bantuan kesehatan mental profesional, menandakan bahwa krisis ini bukan hanya sekadar kejadian sementara.
Penurunan Kesehatan Mental di Kalangan Militer
Dalam konteks militer, krisis mental Israel terlihat lebih jelas. Laporan Kementerian Pertahanan menunjukkan bahwa kasus gangguan stres pasca-trauma (PTSD) di kalangan tentara Israel meningkat hampir 40 persen sejak September 2023. Proyeksi medis memperkirakan bahwa angka ini bisa mencapai 180 persen pada 2028 jika kondisi tidak berubah. Meski wajib melaporkan jumlah tentara yang diberhentikan karena masalah kesehatan mental, pemerintah Israel tampak enggan merilis data secara transparan, sehingga masyarakat tidak sepenuhnya memahami skala permasalahan ini.
Kebiasaan Brutalisasi dan Penurunan Kualitas Hidup
“Proses brutalisasi yang mengerikan sedang merayap ke dalam arus masyarakat, secara lambat dan mengganggu,” kata Presiden Israel Isaac Herzog dalam pidato resmi. Ia menyoroti peningkatan kekerasan internal, termasuk serangan oleh pemukim ilegal terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan kekerasan terhadap komunitas Kristen. Ini menunjukkan bahwa trauma perang tidak hanya memengaruhi psikologi individu, tetapi juga berdampak pada kebiasaan sosial sehari-hari.
Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Israel kini lebih sering mengalami kecemasan, kebiasaan marah, dan penurunan kemampuan untuk membangun hubungan interpersonal. Data dari Survei Kesehatan Mental Nasional menunjukkan bahwa angka kejadian depresi dan kecemasan di antara penduduk Israel meningkat seiring berjalannya waktu. Generasi muda terutama menjadi korban utama, dengan survei N12 menunjukkan bahwa pemilih muda (usia 18-21 tahun) mengalami tekanan psikologis yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Peran Fasisme dan Perubahan Struktur Sosial
Sosiolog Yehouda Shenhav-Shahrabani menilai bahwa kekerasan telah menjadi bagian dari kehidupan politik Israel sejak 1948. Namun, konflik terkini memberikan dorongan baru untuk gerakan fasisme yang sebelumnya tertutup oleh narasi liberal. “Sejak 7 Oktober, elemen fasis ini menjadi lebih nyata. Anda bisa melihatnya di mana-mana,” jelasnya. Menurut analis, kecenderungan untuk mengambil tindakan ekstrem semakin menguat karena ketidakpercayaan terhadap institusi negara yang dianggap tidak mampu melindungi warga dari ancaman luar.
Krisis Mental Israel juga memengaruhi cara masyarakat berinteraksi. Pengamatan menunjukkan bahwa kekerasan antar-individu semakin umum, termasuk tindakan kekerasan oleh keluarga terhadap anggota mereka sendiri. Hal ini mencerminkan bagaimana trauma kolektif dapat mengubah struktur psikologis masyarakat secara mendalam. Para ahli kesehatan mental mengingatkan bahwa pemulihan dari krisis ini membutuhkan waktu yang lama, bahkan beberapa tahun.
Implikasi Jangka Panjang dan Tantangan Masa Depan
Zahava Solomon, profesor dari Tel Aviv University, menjelaskan bahwa trauma masa lalu seperti Holocaust membentuk sikap korban absolut yang kini mengancam hubungan masa depan dengan Palestina. Menurutnya, krisis mental Israel bisa mendorong masyarakat menjadi lebih agresif atau beralih ke strategi negosiasi, tetapi perubahan ini tidak bisa terjadi secara instan. “Tidak ada obat instan, yang ada hanya proses pemulihan yang sangat panjang,” tegas Solomon. Ia menambahkan bahwa kesadaran akan krisis ini perlu disampaikan secara luas agar masyarakat dapat bersiap menghadapi dampak jangka panjang.
Para ahli kesehatan mental juga mengingatkan bahwa kesadaran akan krisis mental Israel semakin penting dalam konteks global. Dengan peningkatan jumlah korban trauma dan kecemasan, pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk memperkuat sistem layanan kesehatan mental. Selain itu, pendidikan dan kampanye kesadaran harus dilakukan secara rutin untuk mengurangi efek trauma dan membangun kepercayaan kembali terhadap institusi negara.
