Guatemala Gandeng AS dalam Operasi Militer Melawan Kartel Narkoba
Latest Program menjadi salah satu langkah utama pemerintah Guatemala dalam mengatasi ancaman kejahatan terorganisasi yang terus menggerogoti keamanan nasional. Kerja sama militer dengan Amerika Serikat (AS) ini diperkuat setelah Presiden Guatemala, Bernardo Arevalo, meneken perjanjian dengan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pekan lalu. Tindakan tersebut dianggap sebagai bagian dari strategi tegas yang dipimpin oleh Trump untuk mengguncang jaringan narkoba di kawasan Amerika Latin.
Upaya Memutus Rantai Distribusi Narkoba
Operasi gabungan ini dirancang untuk menyerang basis dan jalur distribusi narkoba yang selama ini dianggap menjadi sumber kekerasan dan korupsi di Amerika Tengah. Guatemala meminta bantuan AS dalam bentuk dukungan akses ke teknologi intelijen, armada udara, serta pelatihan militer untuk meningkatkan efektivitas penindasan. Selain itu, pasukan keamanan Guatemala akan bekerja sama dengan tim spesialis dari AS untuk mengejar para pelaku kejahatan narkoba yang dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas regional.
Trump menegaskan bahwa AS saat ini berada dalam kondisi perang melawan sesuatu yang ia sebut sebagai narco-terrorists atau teroris narkoba.
Kerja sama ini sejalan dengan kebijakan Trump yang telah diterapkan sejak September tahun lalu, saat pemerintah AS mengambil langkah keras terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di Karibia dan Samudra Pasifik Timur. Namun, kebijakan tersebut sering dikritik karena kekurangan bukti konkret sebelum serangan dilakukan. Dengan Guatemala, AS berharap dapat memperkuat kemampuan pengawasan dan penindasan di wilayah yang menjadi pintu masuk utama narkoba ke pasar internasional.
Backgroud Penindasan Kartel Narkoba di Guatemala
Guatemala telah lama menjadi tempat berlabuh bagi kartel narkoba seperti Mara Salvatrucha (MS-13) dan otros grupos yang aktif mengendalikan perdagangan narkoba di kawasan tersebut. Banyak korban tewas akibat konflik antara kartel dan pasukan keamanan, serta masyarakat sipil yang menjadi korban dari aksi brutal para pelaku kejahatan. Dengan penandatanganan Latest Program ini, pemerintah Guatemala berharap dapat mengurangi dominasi kartel dan mengembalikan kontrol ke pemerintah.
Pada Maret 2026, Trump memperkenalkan aliansi pengungkapan kartel yang melibatkan 17 negara, termasuk Ekuador. Kemitraan dengan Guatemala dianggap sebagai bagian dari strategi komprehensif AS untuk menekan jaringan narkoba di seluruh Amerika Selatan dan Tengah. Operasi gabungan ini juga diharapkan dapat mengurangi jumlah narkoba yang masuk ke pasar internasional serta menekan aktivitas pencucian uang yang terkait dengan kejahatan terorganisasi.
Sebelumnya, AS telah bekerja sama dengan Ekuador untuk menyerang gerilyawan penyelundup kokain. FBI juga membuka kantor cabang di negara itu untuk mengejar kasus kejahatan terorganisasi dan korupsi yang melibatkan kepolisian lokal. Dengan memperkuat hubungan dengan Guatemala, AS ingin mengembangkan sistem pengawasan yang lebih efektif dan memastikan operasi militer tidak hanya berfokus pada serangan langsung, tetapi juga pada penggalian informasi terkait jalur perdagangan narkoba.
Kerja sama militer ini memberikan harapan baru bagi masyarakat Guatemala yang terus berjuang melawan kejahatan narkoba. Pemerintah berharap operasi akan mengurangi jumlah pelaku kejahatan dan menurunkan tingkat kriminalitas di wilayah yang terkena dampak. Latest Program juga menegaskan komitmen Guatemala untuk memperkuat hubungan dengan AS dalam menangkal ancaman global yang mengancam keamanan dan ekonomi negara.
