Israel Kuasai Empat Bangunan di Al-Aqsa, KPIPA Minta Kepedulian Umat
Latest Program memperhatikan penguasaan Israel terhadap empat bangunan di Masjid Al-Aqsa yang dianggap sebagai bagian dari upaya penguasaan keseluruhan kawasan suci tersebut. Organisasi perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsa (KPIPA) menyoroti pentingnya kepedulian umat Islam global terhadap isu ini, mengingat strategi Israel yang terus berkembang dalam mengubah status quo di kota suci Yerusalem. Tindakan pengambilalihan bangunan-bangunan tersebut bukan hanya mengancam keberadaan Masjid Al-Aqsa, tetapi juga menggambarkan langkah-langkah sistematis yang bertujuan memperkuat dominasi pihak Yahudi di wilayah tersebut.
Strategi Israel dalam Penguasaan Al-Aqsa
Menurut Nurjanah Hulwani, Ketua KPIPA, upaya Israel untuk menguasai Al-Aqsa telah direncanakan secara matang sejak 1948. Strategi ini terbagi dalam tiga pilar utama: perubahan kebijakan otoritas pengelolaan, modifikasi infrastruktur, dan pengakuan internasional terhadap hak Israel atas kawasan tersebut. KPIPA menekankan bahwa langkah terbaru, yaitu pengambilalihan empat bangunan, adalah bagian dari agenda “Yahudisasi Al-Quds” yang bertujuan mengubah identitas Islam di kawasan yang dianggap sebagai pusat spiritual umat Muslim.
Salah satu contoh kebijakan Israel dalam tindakan ini adalah pembatasan akses ibadah selama Ramadan hingga Idul Fitri 2026, dengan alasan situasi darurat regional. Setelah dibuka kembali, pihak Israel kemudian meluncurkan tindakan lain, seperti mengosongkan dan menyerap beberapa bangunan administrasi Wakaf Islam yang berada di bawah pengawasan Kerajaan Yordania. Nurjanah mengungkapkan bahwa ini adalah bentuk strategi taktis untuk menggantikan peran otoritas lokal secara de facto, memastikan pengambilalihan kontrol atas berbagai aspek di kawasan Al-Aqsa.
Kepedulian Umat dalam Menghadapi Ancaman
KPIPA menyerukan kepedulian umat Islam dunia agar tidak lengah terhadap upaya penguasaan Al-Aqsa. Nurjanah menyatakan bahwa kesucian Masjid Al-Aqsa adalah tanggung jawab bersama, seperti dijelaskan dalam Surah Al-Isra ayat 1, yang menekankan pentingnya menjaga keberadaan tempat suci ini sebagai simbol identitas umat Islam. Dalam konteks Latest Program, KPIPA meminta dukungan melalui advokasi, edukasi, hingga tekanan diplomatik untuk mencegah langkah-langkah yang merusak integritas Al-Aqsa.
Nurjanah juga mengapresiasi keteguhan warga Al-Quds yang tetap melaksanakan salat di gerbang-gerbang meski akses terbatasi. “Dukungan dari umat Islam dunia sangat vital untuk memastikan Al-Aqsa tidak ditinggalkan dalam perjuangan mempertahankan haknya,” kata Nurjanah. Ia menambahkan bahwa tanpa respons yang cepat, Israel akan semakin yakin untuk menyelesaikan agenda Yahudisasi mereka, yang selama ini dianggap sebagai ancaman terhadap keberadaan kawasan suci tersebut.
Konteks Sejarah dan Signifikansi Bangunan Tersebut
Penguasaan empat bangunan di Al-Aqsa memiliki konteks sejarah yang penting. Sebagai pusat ibadah umat Islam, kawasan ini memiliki makna spiritual dan politik yang luar biasa. Bangunan-bangunan yang diambil alih oleh Israel, seperti ruang administrasi, adalah bagian dari struktur yang memungkinkan pengelolaan kawasan secara efektif. Nurjanah menjelaskan bahwa pihak Israel tidak hanya menyerap bangunan fisik, tetapi juga mengubah kebijakan penggunaannya untuk mengikis identitas Islam.
Dalam Latest Program, KPIPA menekankan bahwa penguasaan ini merupakan bagian dari perang gerilya yang lebih luas antara pihak Yahudi dan umat Islam. “KPIPA berupaya membangun kesadaran masyarakat bahwa Al-Aqsa bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol keberagamaan dan keadilan global,” jelas Nurjanah. Tindakan Israel dalam menyerap bangunan ini juga dikaitkan dengan upaya mengubah status kawasan suci menjadi “wilayah khusus” yang lebih mudah dikelola secara de facto.
Perspektif Internasional dan Tantangan Masa Depan
KPIPA menyoroti bahwa dunia internasional perlu lebih aktif dalam menangani isu penguasaan Al-Aqsa. Nurjanah mengatakan, “Langkah Israel tidak bisa dipandang sebagai peristiwa lokal, karena dampaknya mengguncang seluruh umat Muslim.” Ia menambahkan bahwa kepedulian umat Islam dunia harus diwujudkan dalam bentuk dukungan langsung kepada Palestina, termasuk tekanan politik dan diplomasi yang memperkuat posisi Yordania dalam mempertahankan otoritas atas kawasan suci tersebut.
Dalam konteks Latest Program, KPIPA juga mendorong partisipasi masyarakat global dalam berbagai kampanye dan advokasi. Nurjanah menegaskan bahwa Al-Aqsa adalah warisan yang tidak boleh diabaikan, karena diamnya dunia hanya akan memperkuat keberanian Israel. “Masyarakat internasional perlu menyadari bahwa Al-Aqsa adalah bagian dari keberadaan Islam, dan setiap langkah penguasaannya adalah langkah perang yang berdampak besar,” tambahnya.
Langkah-Langkah KPIPA untuk Memperkuat Solidaritas
KPIPA telah mengambil langkah-langkah konkret dalam memperkuat kepedulian umat Islam terhadap isu Al-Aqsa. Salah satu strateginya adalah mengadakan serangkaian diskusi dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak dari penguasaan Israel. Nurjanah menyebutkan bahwa upaya ini bertujuan menyatukan perhatian umat Islam dunia, baik melalui media maupun dialog dengan pihak internasional.
Dalam Latest Program, KPIPA juga menekankan pentingnya kerja sama antar organisasi Islam di berbagai negara. “KPIPA berharap bisa membangun koalisi yang lebih kuat untuk mendukung Palestina dalam menegakkan hak-hak mereka atas Al-Aqsa,” kata Nurjanah. Selain itu, KPIPA juga mengajak umat Islam untuk terus memantau perubahan terkini di kawasan tersebut dan berpartisipasi dalam berbagai tindakan strategis untuk mempertahankan integritasnya.
