Netanyahu Terpukul usai Trump Fokus Akhiri Konflik dengan Iran
Latest Program – Tiga bulan setelah operasi militer AS-Israel dimulai, ketegangan politik di dalam pemerintahan Netanyahu semakin memuncak. Dengan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang lebih menekankan diplomasi daripada konflik langsung, tekanan terhadap pemerintahan Israel berubah menjadi lebih kompleks. Trump, yang sebelumnya dianggap sebagai penentu utama dalam kebijakan Israel, kini dianggap mungkin mengubah arah strategi negara itu, menyisakan ruang untuk ketidakpastian dan kritik.
Perubahan Strategi Trump dan Dampaknya
Awalnya, operasi serangan terhadap Iran dianggap sebagai langkah penting untuk memperkuat aliansi AS-Israel dan melangkah ke arah kesepakatan permanen. Namun, setelah tiga bulan berlalu, pengaruh kebijakan Trump terhadap konflik tersebut mulai terlihat lebih jelas. Kesepakatan yang dibicarakan tidak lagi berfokus pada serangan militer, melainkan pada negosiasi yang berpotensi mengurangi risiko perang. Netanyahu, yang selama ini menjadi pelaku utama dalam operasi ini, kini dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana mempertahankan kepercayaan politik sementara Trump menolak fokus pada upaya penyelesaian.
Kritik Terhadap Kebijakan Trump
Beberapa kritikus, termasuk tokoh analis seperti Nahum Barnea dari Yedioth Ahronoth, menyatakan bahwa keputusan Trump merusak harmoni antara Israel dan AS. Mereka menilai Israel terlalu bergantung pada kebijakan Washington, yang dinilai sering berubah-ubah. “Negara ini sepenuhnya tunduk pada keputusan yang tidak menentu, kosong, dan putus asa,” tulis Barnea, yang dikenal karena kritiknya terhadap perjanjian Trump. Pendapat ini mengisyaratkan bahwa kebijakan Trump bisa memicu konflik internal dalam pemerintahan Netanyahu.
“Semakin besar kemarahan, semakin keras aumannya, semakin besar pula kekalahannya,” lanjut Barnea, yang terkenal mengkritik kebijakan Trump. Penekanan pada kesepakatan diplomasi memperlihatkan bahwa Trump lebih memilih pendekatan berdamai, meski beberapa pihak di dalam pemerintahan Israel masih menekankan pentingnya serangan fisik.
Kesepakatan baru yang dibahas oleh Trump menurut laporan The New York Times tidak melibatkan Israel secara langsung. Pemerintah Tel Aviv kini harus mengandalkan jaringan intelijen lokal untuk memantau dinamika negosiasi. Dalam konteks ini, program nuklir Iran tetap menjadi isu utama, tetapi perjanjian yang diusulkan dianggap lebih santai dibandingkan pendekatan Obama sebelumnya. Netanyahu, yang selama ini menjadi simbol keberanian dalam konflik, kini dianggap gagal memperkirakan dampak keputusan Trump terhadap aliansi strategisnya.
Kritikus seperti Ben Caspit dari Maariv menilai bahwa perjanjian yang diusulkan Trump bisa mempercepat kemajuan nuklir Iran. “Perjanjian yang muncul jauh lebih buruk dibandingkan sebelumnya,” tulis Caspit, yang menambahkan bahwa jika Iran berhasil mengembangkan senjata nuklir, Israel akan menjadi korban langsung. Penekanan pada Latest Program ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa kinerja Netanyahu dalam mengelola konflik akan menjadi sorotan utama.
“Jika mereka (Iran) akhirnya memiliki bom nuklir, maka itu akan menjadi bom milik Bibi,” kata Caspit, merujuk pada Netanyahu. Pernyataan ini menggambarkan kecemasan dalam pemerintahan Israel bahwa kebijakan Trump bisa mengurangi keunggulan strategis mereka di kawasan.
Di sisi lain, situasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei juga memengaruhi dinamika negosiasi. Khamenei, yang dinilai berperan penting dalam pengambilan keputusan terkait senjata nuklir, telah meninggalkan jabatan. Meski kekosongan ini bisa mempercepat proses perundingan, sayangnya tidak sepenuhnya mengurangi ketegangan. Sayap kanan ekstrem dalam koalisi Netanyahu, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, terus mendorong tindakan tegas. Ben-Gvir, dalam postingan media sosial, menyatakan bahwa Netanyahu harus “memukul meja Trump” untuk menegaskan kembali komitmen berperang di Lebanon.
