New Policy: Dikepung Demonstrasi Sebulan Penuh, Presiden Bolivia Sebut Negara di “Titik Kritis”
New Policy – Dalam upaya mengatasi krisis yang terus menghimpit, New Policy menjadi salah satu langkah strategis yang diambil oleh Presiden Bolivia Rodrigo Paz. Pernyataan serius ini dikeluarkan setelah aksi demonstrasi yang berlangsung hampir sebulan, memicu kelangkaan bahan pokok, bahan bakar, serta obat-obatan penting. Dengan dukungan dari Amerika Serikat, Paz baru saja memasuki jabatan selama enam bulan terakhir, saat negara menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. New Policy dianggap sebagai titik balik untuk menstabilkan situasi yang memanas di Bolivia.
Protes Massal dan Tuntutan Masyarakat
Pemimpin yang berusia 58 tahun ini kini berada di tengah tekanan besar dari masyarakat yang tidak puas dengan kondisi hidupnya. Golongan pekerja berpenghasilan rendah serta kelompok etnis Pribumi yang mendominasi kota politik La Paz terus mengancam akan memaksa pengunduran dirinya. “New Policy adalah bagian dari solusi yang diperlukan untuk mengembalikan ketertiban, dan negara ini telah mencapai titik kritis,” ujarnya dalam acara publik di La Paz. Ia menyerukan upaya dialog untuk meredakan ketegangan yang meruncing.
“Siapa pun yang ingin menghancurkan bangsa ini harus berhadapan dengan presiden ini dan seluruh kekuatan Konstitusi,” tegas Paz pada hari yang sama, menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadapi kritik secara terbuka.
Perubahan Kuasa dan Darurat Militer
Sebelumnya, pada Selasa (26/5), Kongres Bolivia menghapus pembatasan kuasa presiden untuk menyatakan status darurat. Keputusan ini memungkinkan Paz mengerahkan pasukan militer sebagai bagian dari New Policy untuk menenangkan massa. Meski menekankan pentingnya komunikasi, ia tetap siap menggunakan instrumen konstitusional, seperti deklarasi darurat, untuk memutus blokade di La Paz. New Policy ini menunjukkan penyesuaian strategi pemerintah dalam menghadapi krisis.
Paz juga menegaskan dukungan penuh kepada kepolisian dan angkatan bersenjata, menyatakan mereka memiliki kepercayaan dari masyarakat. Pernyataan tersebut diluncurkan saat aksi demonstrasi ribuan perempuan Pribumi yang mengenakan rok tradisional berlapis menggelar perayaan Hari Ibu di Bolivia. Mereka berjalan kaki di La Paz sebagai bentuk dukungan kepada pekerja transportasi yang mogok, sekaligus mengkritik kebijakan pemerintah.
Aksi protes awalnya dimulai pada awal Mei dengan tuntutan serikat buruh terkait gaji, pasokan bahan bakar, serta manajemen ekonomi. Namun, beberapa minggu terakhir, La Paz berubah menjadi pusat perang, dengan bentrokan berulang kali terjadi antara polisi anti-kerusuhan dan peserta aksi. Untuk meredakan kemarahan, Paz sempat menawarkan solusi dengan berjanji memotong separuh gajinya sendiri. New Policy ini sekaligus menunjukkan upaya untuk memperlihatkan komitmen mengatasi krisis.
Di sisi lain, pemerintahannya menuduh mantan presiden Evo Morales, yang kini bersembunyi akibat dugaan tindakan perdagangan anak-anak, sebagai dalang penjatuhkan krisis saat ini. Evo Morales, yang dianggap sebagai simbol perjuangan rakyat, menjadi korban dari perubahan politik yang dijalankan oleh New Policy. Dengan menyingkirkan sosok yang dianggap terlalu berpengaruh, Paz berusaha menegaskan otoritasnya dan memperkuat kebijakan baru yang diterapkan.
