New Policy: Mantan Asisten Jeffrey Epstein Sampaikan Tiga Nama Baru Pelaku Kekerasan Seksual
New Policy memicu gelombang perhatian baru terkait kasus kekerasan seksual yang melibatkan Jeffrey Epstein. Sarah Kellen, mantan asisten miliarder asal Amerika Serikat itu, mengungkapkan tiga nama tambahan yang diduga terlibat dalam jaringan pemerkosaan yang telah menggegerkan dunia. Pengungkapan tersebut terjadi dalam sesi wawancara tertutup dengan Komite Pengawas DPR AS, yang berlangsung pada hari Kamis waktu setempat. James Comer, ketua komite, mengatakan bahwa penemuan nama-nama baru menjadi petunjuk kunci dalam mengungkap lebih banyak fakta mengenai kejahatan Epstein.
Kontroversi dan Kehilangan Kebebasan
Kellen, yang pernah menjadi bagian dari lingkaran elit Epstein, mengungkapkan bahwa dirinya bukan hanya sekadar pelaku kejahatan, tetapi juga korban dari kekerasan psikologis dan seksual. Dalam kesaksian tertutupnya, ia menuturkan bagaimana Epstein memaksa dirinya ke dalam situasi yang tak terduga, termasuk penggunaan teknik manipulasi dan ancaman untuk mempertahankan dominasi. “New Policy ini penting karena membuka mata kita pada bagaimana eksploitasi bisa terjadi secara terstruktur dan tersembunyi,” tambah Kellen, yang juga menyebutkan bahwa kekerasan seringkali terjadi di tengah malam tanpa adanya pengawasan.
“Saya bisa merasakan bagaimana Epstein memaksa saya untuk mengikuti ritual yang berulang, bahkan saat ia memasukkan jari-jarinya ke dalam tubuh saya tanpa pemberitahuan. Di Palm Beach, ia mengangkut saya ke ruang olahraga, menutup ruangan, dan melakukan tindakan kekerasan dengan sengaja,” kata Kellen, seperti yang ditirukan oleh melalui narasi pembukaan.
Pengaruh Ghislaine Maxwell dalam Kasus
Salah satu nama yang disebutkan oleh Kellen adalah Ghislaine Maxwell, yang dikenal sebagai pengikut setia Epstein. Stansbury, anggota dewan dari Fraksi Demokrat, mengajukan pertanyaan kepada Kellen apakah Maxwell layak dipindahkan ke penjara berkeamanan rendah atau diberi pengampunan. Kellen menolak dua opsi tersebut, sebaliknya menuntut perlindungan lebih ketat terhadap Maxwell. “New Policy harus menjamin hukuman yang adil, karena Maxwell adalah salah satu pelaku yang mengubah Epstein menjadi monster,” katanya.
Dalam sesi wawancara, Kellen juga mengungkap bahwa Maxwell terlibat dalam penyebaran praktik kekerasan yang berulang, termasuk mengatur pertemuan rahasia antara Epstein dengan korban-korban lainnya. Ia menegaskan bahwa Maxwell memainkan peran penting dalam menjaga keberlangsungan jaringan tersebut. “New Policy harus menyelidiki semua pihak yang terlibat, bukan hanya Epstein sendiri,” tambah Kellen, yang juga menyebutkan bahwa kejahatan tersebut terjadi lebih dari sekadar tindakan individu.
Proses Investigasi dan Dampak pada Peradilan
Kelompok sumber yang mengikuti sidang menyebutkan bahwa Kellen tidak pernah melihat langsung tindakan kekerasan Epstein, tetapi ia memastikan bahwa semua kejadian terjadi dalam kondisi yang teratur. “New Policy ini akan membantu Komite Pengawas DPR AS menemukan bukti-bukti yang bisa digunakan dalam peradilan,” ujarnya. Kellen menegaskan bahwa informasi yang diberikan dalam wawancara tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menutup semua celah dalam penyelidikan.
Dengan adanya tiga nama baru, investigasi terhadap Epstein kini terbuka untuk mencari hubungan antar pelaku. Comer menegaskan bahwa New Policy memberikan wawasan penting tentang bagaimana jaringan kekerasan ini beroperasi. “Kami menemukan banyak indikasi bahwa ada penyebaran kejahatan yang lebih luas dari yang kami kira sebelumnya,” kata Comer. Namun, ia juga mengingatkan bahwa penyelidikan masih berlangsung, dan New Policy akan terus memperkuat upaya pemerintah AS untuk menindak pelaku kekerasan seksual secara sistematis.
Korban Lain dan Hubungan dengan Epstein
Kellen menyebutkan bahwa beberapa korban kekerasan seksual Epstein dikenal secara baik, sementara yang lain tetap anonim karena takut terhadap ancaman. “New Policy harus menciptakan keamanan bagi korban, agar mereka bisa berbicara tanpa rasa takut,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa kekerasan seksual yang dilakukan Epstein tidak hanya melibatkan kejadian satu kali, tetapi berlangsung secara berulang selama bertahun-tahun. “Mereka memaksa saya ke dalam siklus yang tidak bisa saya hentikan sendiri,” imbuh Kellen.
Dengan tiga nama tambahan yang diungkapkan, New Policy menambah jumlah pelaku yang dikenai tuntutan hukum. Penyelidikan ini diharapkan memberikan kejelasan mengenai bagaimana kekerasan seksual terjadi dalam lingkaran elite dan koneksi ke politik. Kellen menegaskan bahwa kasus ini bukan hanya tentang Epstein, tetapi juga tentang sistem yang menutupi kejahatannya. “New Policy akan menjadi bukti bahwa kita bisa mengungkap kebenaran meskipun ada tekanan dari pihak-pihak yang berkuasa,” katanya.
