Special Plan: Tere Suarakan Kemanusiaan Palestina di Lapangan Banteng
Aksi Suara Global untuk Palestina
Special Plan berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, pada Sabtu (16/5), menghadirkan semangat perlawanan yang kental. Ratusan peserta, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, berpartisipasi dalam Maqdisy Heroes Long March 02, yang menjadi bentuk nyata dukungan kemanusiaan bagi rakyat Palestina. Slogan “Palestina Merdeka” dan “Free Palestina” terdengar menggema sepanjang perjalanan pawai, menunjukkan komitmen peserta dalam menyerukan keadilan global.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Wasilah, yang berupaya memperkuat suara kolektif untuk Palestina. Menurut Tere, seorang mantan musisi yang menjadi inisiatif utama, peristiwa penjajahan oleh zionis Israel masih mengancam kemanusiaan di tanah Baitul Maqdis. “Kita harus menunjukkan bahwa genosida dan penindasan terus berlangsung di Palestina, dan Special Plan adalah salah satu cara untuk menegaskan keberadaan kita di sini,” jelasnya sambil berpakaian muslim hitam.
“Kesadaran kolektif ini penting untuk menguatkan collective action menuju gerakan global. Setiap langkah kecil memiliki arti besar. Kita tidak akan sampai pada kekuatan berskala global tanpa memulainya dari gerakan sederhana seperti ini,” pungkas Tere.
Kelompok Peserta dan Metode Suara
Dalam aksi tersebut, peserta dibagi menjadi lima kelompok yang dipimpin oleh lima pemenang teratas Maqdisy Talent 1447 H. Mereka bertugas menyampaikan yel-yel dan membagikan stiker edukasi kepada masyarakat umum. Tere menilai long march sebagai alat syiar yang efektif, mencontoh perjuangan Nabi Muhammad SAW di Mekah yang penuh semangat.
Program Special Plan juga menitikberatkan pada literasi tentang Baitul Maqdis sejak usia dini. Tere menjelaskan bahwa Maqdisy Talent Hunt 1448 H menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang bertujuan melahirkan 20 orang berjiwa sabar setiap tahun, sesuai pesan Al-Quran Surat Al-Anfal ayat 65. “Insya Allah mereka akan terus dibina agar bertransformasi menjadi pejuang kebenaran yang berani bersuara,” tambahnya.
Aksi Kemanusiaan Bersejarah
Tema aksi kali ini mengusung “Mengenang Nakba dan Belajar dari Gaza yang Tak Pernah Menyerah.” Peristiwa Nakba pada Mei 1948 melambangkan luka sejarah, di mana ratusan ribu orang Palestina diperdaya dan dikeluarkan dari tanah leluhur mereka. Tere menegaskan bahwa kekejaman pasukan IDF terus mengguncang wilayah Tepi Barat dan Gaza, yang berdampak serius pada kehidupan rakyat Palestina.
Acara ini mendapat dukungan dari berbagai tokoh dan influencer, termasuk pegiat dakwah digital @mosfeed_id, penulis buku Gia Josie, serta aktivis seni Gita Hastarika. Zhiyad, seorang warga Palestina, hadir sebagai bentuk semangat perjuangan yang tetap bersemangat meski menghadapi tantangan sehari-hari.
Partisipasi Keluarga dan Simpati Masyarakat
Kehadiran orangtua peserta menunjukkan perhatian khusus terhadap suara anak-anak. Yanuar, salah satu orangtua, datang bersama anak dan istrinya untuk menunjukkan kepedulian. “Kami hadir bukan hanya untuk mendoakan, tetapi juga untuk menyuarakan dukungan terhadap penderitaan saudara kita di Palestina,” ujarnya.
Special Plan berharap mendorong kesadaran masyarakat Indonesia akan isu kemanusiaan Palestina. Dengan menggabungkan kesenian, edukasi, dan aktivisme, acara ini menjadi wadah untuk memperkuat solidaritas tanpa batas. Rencananya, program ini akan dilanjutkan secara rutin untuk menjangkau lebih banyak kalangan.
