165 Bencana Terjadi di Sukabumi pada Mei 2026 – Puluhan Rumah Rusak
165 Bencana Terjadi di Sukabumi – Pada bulan Mei 2026, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengalami sejumlah besar bencana alam yang memengaruhi kehidupan warga setempat. Dalam satu bulan terakhir, tercatat 165 kejadian bencana yang melibatkan berbagai jenis cuaca ekstrem dan peristiwa geologis. Bencana ini menyebabkan kerusakan di sejumlah area, termasuk pemukiman warga dan fasilitas publik. Manajer Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Sukabumi, Daeng Sutisna, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca pada Mei 2026 sangat tidak menentu, dengan hujan deras dan angin kencang yang menjadi penyebab utama 165 bencana terjadi di Sukabumi.
Peluang Bencana yang Meningkat
Dalam wawancara dengan media, Daeng Sutisna menyatakan bahwa suhu udara dan kelembapan yang tinggi di bulan Mei 2026 berkontribusi pada intensitas curah hujan yang memicu berbagai kejadian bencana. Terdapat 104 kejadian longsor tanah yang menimpa wilayah perbukitan di Sukabumi, sementara 32 kejadian cuaca ekstrem melibatkan angin puting beliung dan badai petir. Selain itu, 24 kejadian banjir tercatat, sebagian besar di daerah dataran rendah, yang menyebabkan 475 unit rumah terendam air. Menurut laporan BPBD Sukabumi, 165 bencana terjadi di Sukabumi dalam periode tersebut juga melibatkan 4 pergerakan tanah dan satu kejadian banjir bandang.
Titik-Titik Kerusakan yang Signifikan
Kerusakan akibat 165 bencana terjadi di Sukabumi terutama terlihat pada bangunan perumahan dan fasilitas umum. Dari total 55 unit rumah yang rusak, 21 di antaranya mengalami kerusakan ringan, 19 sedang, dan 15 berat. Daeng Sutisna menjelaskan bahwa kondisi jalan dan jembatan juga terganggu, dengan 64 titik jalan terputus dan 5 jembatan rusak. Selain itu, 11 saluran air mengalami kebocoran, sehingga menghambat aliran air ke daerah terdampak. Fasilitas kesehatan dan pendidikan juga tidak luput dari kerusakan, dengan 3 pusat kesehatan dan 8 sekolah yang terkena dampak dari 165 bencana terjadi di Sukabumi.
Dalam peristiwa tersebut, dua korban luka dilaporkan dan sebanyak 70 kepala keluarga, atau 169 jiwa, terpaksa mengungsi. Kondisi ini memicu BPBD Sukabumi untuk melakukan upaya pemulihan secara intensif. Selain itu, 54 rumah lainnya masih berada dalam bahaya, dengan potensi runtuh atau hancur akibat tanah longsor yang terus terjadi. Masyarakat setempat mengeluhkan kesulitan mengakses kebutuhan dasar, seperti makanan dan air bersih, akibat kemacetan dan kerusakan infrastruktur.
Upaya Pemulihan dan Peringatan
BPBD Sukabumi, dalam upaya menghadapi 165 bencana terjadi di Sukabumi, telah mengaktifkan P2BK (Pos Pemantauan dan Pemetaan Bencana) di setiap kecamatan sebagai garda depan. Tim ini terus memantau kondisi daerah dan mengirimkan bantuan darurat ke titik-titik terparah. Daeng Sutisna menambahkan bahwa kondisi cuaca berpotensi berubah drastis pada akhir Mei, sehingga pihaknya tetap menjaga kesiapan. “Meski tidak ada prediksi hujan deras yang pasti, kita tetap waspada karena 165 bencana terjadi di Sukabumi menunjukkan tren peningkatan risiko,” jelasnya.
Kerugian akibat 165 bencana terjadi di Sukabumi juga mencakup kerusakan pada lahan pertanian. Puluhan hektar sawah di daerah lereng gunung terkena aliran air deras dan tanah longsor, sehingga menyebabkan kehilangan hasil panen. Petani setempat mengeluhkan kesulitan mengganti benih dan alat pertanian yang rusak. BPBD Sukabumi telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan organisasi donatur untuk mendistribusikan bantuan, termasuk perlengkapan kebutuhan dasar dan peralatan pembersihan.
Dengan data yang terkumpul, 165 bencana terjadi di Sukabumi pada Mei 2026 menunjukkan bahwa daerah ini rentan terhadap perubahan iklim dan kondisi cuaca ekstrem. Pemerintah setempat berharap kejadian serupa dapat diminimalkan melalui perbaikan sistem pemantauan cuaca dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang mitigasi bencana. “Kita perlu memperkuat sistem siaga dan memastikan respons cepat terhadap setiap kejadian bencana,” ujar Daeng, menutup wawancara.
