Pemkab Bandung Siapkan Danau Retensi untuk Kurangi Risiko Banjir
Key Discussion – Pemerintah Kabupaten Bandung sedang mengembangkan proyek pembangunan danau retensi di beberapa titik strategis, seperti kawasan Tegalluar dan Sukamanah. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah mengurangi dampak air hujan berlebih serta mengatasi masalah banjir yang sering terjadi di wilayah seperti Dayeuhkolot dan sekitarnya. Rapat lintas sektoral yang dipimpin oleh Bupati Bandung Dadang Supriatna di Bandung, Selasa (9/6), membahas langkah-langkah krusial untuk mencegah kejadian bencana tersebut. Program ini menjadi bagian dari Key Discussion yang berfokus pada solusi berkelanjutan di bidang lingkungan dan drainase.
Peluncuran Danau Retensi sebagai Solusi Terpadu
Key Discussion mengungkapkan bahwa danau retensi akan berfungsi sebagai penampung air hujan sementara, sehingga mengurangi tekanan pada sistem drainase alami dan infrastruktur kota. Pemkab Bandung menargetkan pembangunan 10 danau retensi di sepanjang jalur aliran air, termasuk daerah rawan genangan di tengah perkembangan permukiman. Dadang Supriatna menjelaskan bahwa ini bukan hanya upaya teknis, tetapi juga untuk memperkuat kerja sama antar dinas terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. “Kerja sama lintas sektor merupakan inti dari Key Discussion ini, karena banjir tidak bisa ditangani secara terpisah,” kata Dadang.
Dalam Key Discussion, peran masyarakat setempat juga ditekankan. Misalnya, warga di sekitar lokasi danau retensi diminta berpartisipasi dalam pemeliharaan lingkungan dan pengawasan kualitas air. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa proyek tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga mendapat dukungan masyarakat. Selain itu, Pemkab Bandung berharap danau retensi dapat menjadi tempat rekreasi dan ekowisata, sehingga meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat sekitar.
Strategi Kolaborasi dalam Pengelolaan Air
Dalam Key Discussion yang diadakan di Bandung, Bupati Dadang Supriatna menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, institusi seperti Satgas Sungai Citarum, dan masyarakat. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Key Discussion ini mengarah pada kolaborasi yang terstruktur dan berkelanjutan,” ujarnya. Pemkab Bandung akan menyebarluaskan rencana normalisasi sungai, khususnya di daerah muara dan titik rawan genangan, sebagai bagian dari strategi integratif yang diusulkan. Program ini akan diimplementasikan bersamaan dengan pengadaan alat berat, seperti tiga unit ekskavator, melalui perubahan anggaran tahun 2026.
Key Discussion juga menyebutkan bahwa normalisasi sungai dilakukan dengan pendekatan ekosistem. Proses ini melibatkan pengerukan sedimentasi, penghapusan sampah, dan pemulihan aliran air alami. Dengan demikian, danau retensi tidak hanya menjadi penampung air, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas lingkungan sekitar. “Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat proses pembersihan dan pencegahan banjir,” tambah Dadang, menyoroti peran penting Satgas Sungai Citarum dalam memastikan keberhasilan program.
Manajemen Sampah sebagai Bagian dari Solusi Banjir
Key Discussion mengingatkan bahwa manajemen sampah menjadi faktor penting dalam pengendalian banjir. Pemkab Bandung mencatat adanya 174 Tempat Pengolahan Sampah (TPS3R), tetapi kinerjanya belum maksimal. Untuk menyelesaikan masalah ini, kepala desa diberi instruksi untuk meningkatkan pengelolaan sampah di tingkat RT/RW, sambil menunggu fasilitas regional selesai. Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) akan dimanfaatkan sebagai bank sampah, sehingga mengurangi volume limbah yang memasuki saluran air. “Kita perlu memastikan sampah tidak mengalir ke sungai dan danau retensi, karena ini bisa menyumbang genangan yang memicu banjir,” jelas Dadang dalam Key Discussion tersebut.
Dalam Key Discussion, penekanan juga diberikan pada kesadaran masyarakat akan pentingnya pengurangan sampah organik. Kebiasaan membuang sampah ke saluran air dianggap sebagai penyumbang utama dari peningkatan risiko banjir. Dengan adanya KDMP, Pemkab Bandung berharap bisa menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien dan berkelanjutan. Program ini diperkirakan dapat mengurangi hingga 40% volume limbah yang masuk ke sistem aliran air, sehingga memperkuat kemampuan wilayah dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Penyelamatan Air untuk Masa Musim Kemarau
Di sisi lain, Key Discussion menyoroti upaya Pemkab Bandung dalam memetakan area rawan kekeringan. Beberapa titik kritis, seperti desa-desa dengan akses air yang terbatas, akan diberi tangki air dan tandon bersih untuk memastikan ketersediaan air minum. Dadang Supriatna menyatakan bahwa pemerintah pusat telah menyetujui anggaran Rp334 miliar untuk percepatan pembangunan jaringan irigasi di Kabupaten Bandung, yang mencakup 546 titik yang diajukan. “Dana ini akan digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan, sekaligus mengantisipasi tantangan musim kemarau,” ujarnya, menegaskan bahwa Key Discussion ini mencakup penanganan multifungsi.
Key Discussion juga menyoroti pentingnya sistem irigasi yang terpadu. Selain meningkatkan ketahanan pangan, jaringan irigasi ini akan menjadi solusi untuk mengurangi risiko kekeringan di daerah pertanian. Pemkab Bandung menargetkan pembangunan tandon air di 20 titik strategis, dengan dukungan dari PDAM dan BPBD. Dadang menegaskan bahwa proyek ini menjadi bagian dari Key Discussion yang mencakup pengelolaan air secara menyeluruh, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun pertanian. “Kita perlu memastikan air tidak hanya tersedia saat hujan, tetapi juga bisa dijaga saat kemarau tiba,” tambahnya.
