PPIT Ingatkan Dasasila Bandung Harus Terus Digaungkan
Key Discussion dalam acara seminar internasional di Bandung baru-baru ini menyoroti pentingnya menjaga semangat Dasasila Bandung yang dideklarasikan pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955. Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT) menekankan bahwa nilai-nilai inti dari KAA 1955, yang kini dikenal sebagai Dasasila Bandung, masih relevan dan perlu dipromosikan secara berkelanjutan dalam konteks kehidupan masyarakat modern.
Makna Dasasila Bandung di Tengah Tantangan Global
“Key Discussion ini membuktikan bahwa semangat yang dideklarasikan dalam KAA 1955 tetap relevan hingga hari ini. Faktanya, semangat itu justru menjadi fondasi yang dibutuhkan oleh dunia global saat ini,”
kata Ketua Umum PPIT, AI Busyra Basnur, dalam acara yang diadakan sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-71 KAA, Hari Lahir Pancasila, dan juga tahun keberadaan PPIT.
Ketua PPIT tersebut mengatakan, di tengah dinamika perubahan politik, ekonomi, dan sosial, Dasasila Bandung tetap menjadi pedoman utama untuk menjaga keseimbangan dalam kerja sama antarnegara. Ia menekankan bahwa isu keamanan global, kesejahteraan, serta keadilan sosial harus menjadi prioritas dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut. “Key Discussion ini mengingatkan kita bahwa Dasasila Bandung bukan hanya sejarah, tetapi juga relevansi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat internasional,” tambahnya.
Peran Masyarakat dalam Revitalisasi Semangat Bandung
Busyra, mantan Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti, dan Uni Afrika (2019–2025), mengungkapkan bahwa semangat KAA 1955 bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perlu didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. “Key Discussion dalam seminar ini menunjukkan bahwa public diplomacy memiliki peran besar dalam menyebarkan nilai-nilai Pancasila dan Dasasila Bandung ke berbagai penjuru dunia,” jelasnya.
Menurutnya, masyarakat memiliki andil signifikan dalam menggerakkan keberhasilan diplomasi publik. “Key Discussion menunjukkan bahwa kontribusi masyarakat bisa mencapai 70% keberhasilan, sementara pemerintah hanya memberikan 30%,” ujarnya. Hal ini membuktikan bahwa keterlibatan publik sangat penting dalam memperkuat hubungan internasional yang berbasis nilai-nilai Pancasila.
Kegiatan seminar ini mengangkat tema “Revitalizing the Spirit of Bandung and Pancasila to Enhance Global People-to-People Cooperation”. Dengan tema tersebut, PPIT ingin menegaskan bahwa Dasasila Bandung tidak hanya relevan untuk Indonesia, tetapi juga bisa menjadi acuan bagi negara-negara lain dalam menghadapi isu global. “Key Discussion memperlihatkan bahwa semangat kerja sama dan solidaritas dari KAA 1955 bisa diadaptasi untuk membangun keharmonisan antar bangsa di era digital,” tambahnya.
Tantangan dan Peluang dalam Penerapan Dasasila Bandung
Dalam Key Discussion, Busyra juga menyoroti tantangan-tantangan yang dihadapi dalam memperkuat semangat Bandung. Ia menyebutkan bahwa perubahan tata dunia saat ini sering kali menimbulkan polarisasi, sehingga semangat kerja sama antarnegara bisa tergerus. Namun, ia menegaskan bahwa peluang untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai tersebut masih terbuka, terutama melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan individu.
Key Discussion ini juga menjadi ajang untuk mengupas peran strategis PPIT dalam memperkuat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok. “Key Discussion menunjukkan bahwa Dasasila Bandung bisa menjadi landasan untuk kerja sama ekonomi, budaya, dan diplomasi yang lebih produktif di masa depan,” kata Busyra. Ia menekankan bahwa komitmen untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut adalah kunci keberlanjutan kemitraan bilateral.
PPIT berharap seminar ini menjadi salah satu bentuk Key Discussion yang mendorong masyarakat untuk terus mengingat dan memperkuat Dasasila Bandung. Dengan menjadikan semangat KAA 1955 sebagai sumber inspirasi, Indonesia dan negara-negara lain bisa menjawab tantangan global dengan cara yang harmonis, berkelanjutan, dan berbasis keadilan.
