Skip to content
Beritabaru1
fe1b8844-d830-4785-aa70-48971fa106fc-0
  • Home
  • News
  • Sepak Bola
  • Teknologi
  • Internasional
  • Humaniora
  • Politik Dan Hukum
  • Nusantara
  • Hiburan
  • Opini
  • Travelista
  • Ekonomi
  • Megapolitan
  • Kolom Pakar
  • Jelita
  • Olahraga
  • Haji
  • Otomotif
  • Jabar
  • Piala Dunia 2026
  • Kuliner
  • Kesehatan
  • Forum Mahasiswa
  • Fashion
  • Sela
  1. Home
  2. Jabar
  3. Topics Covered: Hari Pancasila, Yudi Latif Ingatkan Kolonialisme Baru Jauh Lebih Biadab
Jabar

Topics Covered: Hari Pancasila, Yudi Latif Ingatkan Kolonialisme Baru Jauh Lebih Biadab

Nancy Brown Reporter Senin, 01 Juni 2026 pukul 18:32 WIB 3 min read
0 Views 0 Komentar
Share:
0fb5276f-4340-45eb-8a8e-5504daebe34c-0

Table of Contents

Toggle
  • Yudi Latif: Kolonialisme Baru Lebih Biadab Dari Masa Kolonial Belanda
    • Ketimpangan Sosial Menjadi Fokus Utama
    • Kebijakan Demokrasi yang Tidak Mengakar

Yudi Latif: Kolonialisme Baru Lebih Biadab Dari Masa Kolonial Belanda

Topics Covered – Pada perayaan Hari Pancasila di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Senin (1/6), Yudi Latif, tokoh intelektual, menyoroti kondisi sosial, politik, dan ekonomi Indonesia yang semakin memburuk. Ia menyatakan bahwa kolonialisme baru, yang dijalankan oleh bangsa sendiri, jauh lebih biadab dibandingkan penjajahan Belanda. Topik yang ditangani ini menggambarkan tantangan sehari-hari dalam mempertahankan nilai-nilai Pancasila.

Dalam pidato kebangsaannya, Yudi Latif menekankan bahwa penindasan yang terjadi sekarang ini tidak lagi berasal dari luar, melainkan dari dalam negeri. “Operator kolonialisme dan penindasan sejak 1959 sudah menjadi bagian dari bangsa Indonesia sendiri,” ujarnya. Ia menyampaikan peringatan bahwa masyarakat kini sering menganggap tanah mereka sebagai wilayah yang tidak memiliki nilai, sehingga mudah diambil alih oleh pihak berkuasa.

“Industrialisasi masuk, warga setempat dianggap tidak ada. Mereka terusir dari tanah sendiri, kehilangan akses pada lahan dan tanah, sehingga menjadi orang yang paling miskin,” tegasnya.

Yudi Latif menyebutkan contoh nyata dari kolonialisme baru, seperti pengusiran warga Morowali dan Papua akibat aktivitas pertambangan dan perkebunan. Ia menegaskan bahwa permasalahan yang ditangani saat ini lebih kompleks dan mengancam kemerdekaan sejati. “Saat ini, kita harus berteriak untuk menggugat, karena praktik kolonialisme sudah sangat biadab,” tambahnya.

Ketimpangan Sosial Menjadi Fokus Utama

Kolonialisme baru, yang ditangani oleh Yudi Latif, menimbulkan ketimpangan sosial yang semakin parah. Ia menunjukkan bagaimana sumber daya alam dihabiskan tanpa pertimbangan keadilan. “Pulau kecil yang sebenarnya dilarang ditambang, ternyata terus digerus. Bandung utara yang seharusnya jadi kawasan konservasi diubah jadi perumahan,” jelasnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah sering kali mengabaikan kebutuhan rakyat.

“Indeks Solidaritas Antargenerasi menempatkan Indonesia pada peringkat 72 dari 122 negara. Ini menggambarkan bahwa generasi muda kini lebih memprioritaskan kepentingan ekonomi daripada nilai-nilai nasional,” papar Yudi.

Menurutnya, Pancasila tidak boleh hanya menjadi slogan, tetapi prinsip yang diimplementasikan dalam setiap kebijakan. “Pancasila harus mengakar, mengubah tatanan bergaul, serta tata nilai, tata kelola, dan tata sejarah,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kebijakan harus merevolusikan nilai-nilai Pancasila agar benar-benar melayani kepentingan rakyat.

Kebijakan Demokrasi yang Tidak Mengakar

Yudi Latif juga mengingatkan bahwa demokrasi di Indonesia belum sepenuhnya mengakar. “Demokrasi di masyarakat majemuk bisa mempersatukan, bukan memecah belah. Namun, saat ini demokrasi justru memperlebar kesenjangan sosial,” jelasnya. Topik yang ditangani ini menggambarkan bagaimana kebijakan demokrasi bisa berubah menjadi alat kolonialisme.

“Kita harus memperjuangkan kemerdekaan sejati, bukan hanya kemerdekaan formal. Mimpi Indonesia tidak pernah salah, yang salah adalah kemampuan kita untuk mengejarnya,” pungkas Yudi.

Dalam pidatonya, Yudi Latif menyoroti pentingnya kesadaran kolektif masyarakat untuk mengecam praktik-praktik yang merusak keadilan. “Kemerdekaan baru adalah jembatan emas, tetapi kemerdekaan sejati membutuhkan perjuangan terus-menerus. Kita harus mengingatkan bahwa Pancasila adalah fondasi kehidupan bersama,” tambahnya. Topik yang ditangani ini mengingatkan bahwa persatuan harus didasarkan pada keadilan sosial.

Kolonialisme baru, yang ditangani Yudi Latif, menunjukkan bagaimana kebijakan ekonomi dan politik bisa berubah menjadi ancaman terhadap kemerdekaan. Ia mencontohkan bahwa perusahaan besar sering kali mengambil alih lahan warga tanpa kompensasi adil. “Kita harus bangkit untuk menggugat, karena keadilan sosial makin jauh,” katanya. Dalam konteks ini, Pancasila berperan sebagai alat untuk merevolusikan tata kelola negara.

Yudi Latif menegaskan bahwa penindasan yang ditangani oleh bangsa sendiri memerlukan tindakan kolektif. “Indonesia harus berteriak, karena kolonialisme baru sudah sangat biadab. Masyarakat kini sering menganggap tanah mereka sebagai sumber penghasilan, bukan warisan sejarah,” ujarnya. Dengan demikian, kebijakan yang ditangani harus merevolusikan nilai-nilai Pancasila agar mewujudkan keadilan dan persatuan.

Bagikan:

Berita Terkait

1782230582_417ef9361768f1542b19

Facing Challenges: Dedi Mulyadi Minta Pelaku Penyekapan Perempuan di Bandung Dihukum Berat

24 Jun 2026
1782231512_0a3b8e3b364c0f770fa3

Dedi Mulyadi Apresiasi Polda Jabar Usai Tangkap Taufik Hidayat

24 Jun 2026
1781923861_37def09283ce44d4bbe4

Main Agenda: Pemkot Tasikmalaya Siapkan Solusi, Perajin Terjepit Kenaikan Harga Kedelai Impor

20 Jun 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

Berita Terbaru

1782510039_d402f84363d336b912cf

Special Plan: Harga Biosolar B50 Harus Kompetitif untuk Tarik Minat Masyarakat

10 jam yang lalu
0b2edacb-c104-424a-8fb3-dc9eda9a848c-0

New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM

10 jam yang lalu
1782510706_6702119ca7efdf53ac61

Key Issue: Klasemen Grup I Piala Dunia 2026: Prancis Sempurna, Senegal Pesta Gol

10 jam yang lalu
1782511360_747e74ee74aeda024e85

Topics Covered: Korban Jiwa Gempa Venezuela Bertambah Jadi 589 Orang, Ribuan Terluka

10 jam yang lalu
1782511855_c89e55d703da44da063a

Sindikat Judi Daring Hayam Wuruk Gunakan Kedok Perusahaan Teknologi

10 jam yang lalu

Kategori

  • Ekonomi (346)
  • Fashion (3)
  • Forum Mahasiswa (1)
  • Haji (28)
  • Hiburan (208)
  • Humaniora (655)
  • Internasional (333)
  • Jabar (58)
  • Jelita (19)
  • Kesehatan (5)
  • Kolom Pakar (3)
  • Kuliner (16)
  • Megapolitan (118)
  • Nusantara (434)
  • Olahraga (135)
  • Opini (52)
  • Otomotif (20)
  • Piala Dunia 2026 (181)
  • Politik Dan Hukum (169)
  • Sela (1)
  • Sepak Bola (427)
  • Teknologi (185)
  • Travelista (31)
  • Uncategorized (1)

About Us

Beritabaru1 menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.

Trending Post

  • Hello world!
  • New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM
  • Key Discussion: Preview Ligue 1 Rennes vs Paris FC, Ambisi Tuan Rumah di Roazhon Park
  • Bawa Kabur Motor Teman – Perempuan di Kukar Ditangkap Polisi
  • Main Agenda: Pengamat Soroti Peran Strategis Indonesia di Tengah Dinamika ASEAN

Quick Links

  • Ekonomi
  • Fashion
  • Forum Mahasiswa
  • Haji
  • Hiburan
  • Humaniora
  • Internasional
  • Jabar
  • Jelita
  • Kesehatan

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • Contact Us

Copyright © 2026 beritabaru1.com. All rights reserved.