Nusantara

Guru Besar ITB Peringatkan Potensi Bahaya Gempa Flores M7,7, Mirip Gempa 1992

1786811864_dfadbcbf2e1de60b8ff1
Foto : Matthew Martin - beritabaru1.com
Daftar Isi
  1. Guru Besar ITB Peringatkan Potensi Bahaya Gempa Flores M7,7
  2. Related Reading

Guru Besar ITB Peringatkan Potensi Bahaya Gempa Flores M7,7

Beritabaru1.com – Guru Besar ITB Peringatkan Potensi bahaya gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi di wilayah Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Profesor Irwan Meilano dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung menyampaikan analisis mendalam mengenai kemiripan peristiwa ini dengan bencana gempa dan tsunami tahun 1992 yang pernah melanda kawasan serupa.

Menurut penjelasan Irwan yang disampaikan di Bandung, kemiripan ini terlihat dari lokasi dan mekanisme gempa. Gempa dangkal dengan kedalaman 15 kilometer di perairan sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo memicu peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika hingga pukul 07.30 WIB. Posisi episentrum saat ini berada kurang dari 40 kilometer dari pusat gempa Flores 1992 yang berkekuatan 7,9.

Struktur Geologis dan Riwayat Kegempaan

Irwan menerangkan bahwa kawasan sumber gempa terletak pada struktur Flores Back-Arc Thrust atau sasar naik busur belakang Flores. Wilayah ini menyimpan catatan kegempaan merusak berskala besar, termasuk gempa magnitudo 6,6 pada tahun 2009 serta rangkaian gempa di utara Lombok tahun 2018. Struktur geologis ini menunjukkan bahwa kawasan Flores merupakan zona aktif yang perlu diwaspadai secara berkelanjutan.

“Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi. Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi. Mudah-mudahan dalam gempa ini tidak diikuti dengan longsoran bawah laut itu,” ujar Irwan.

Pola Gempa dan Kewaspadaan Publik

Pusat Studi Gempa Nasional mencatat bahwa segmen Flores Back Arc masih menyimpan akumulasi energi yang belum terlepas sepenuhnya. Irwan mengingatkan bahwa pola gempa Lombok 2018 berpotensi terulang kembali, di mana gempa utama dapat memicu rambatan retakan pada segmen di sekitarnya. Hal ini menunjukkan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap aktivitas seismik di kawasan tersebut.

“Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan. Gempa susulan di atas enam masih bisa memberikan dampak merusak yang cukup signifikan,” ujar ahli gempa dan kadaster tersebut.

Publik diminta tidak mengendurkan kewaspadaan mengingat puluhan gempa susulan dengan magnitudo signifikan di atas 6,0 masih terus terjadi. Gempa-gempa ini berpotensi memicu kerusakan bangunan pendukung secara akumulatif. [Baca juga: Berita Nusantara Terbaru]

Kombinasi Fatal dan Prioritas Infrastruktur

Kerusakan masif akibat gempa M7,7 dipicu oleh empat kombinasi fatal, yaitu magnitudo besar, kedalaman relatif dangkal antara 10 hingga 15 kilometer, posisi episentrum yang dekat dengan permukiman, serta potensi amplifikasi guncangan akibat kondisi tanah setempat dan kualitas bangunan. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan skenario bencana yang kompleks dan memerlukan respons terkoordinasi.

Irwan mendorong tim tanggap darurat dan pemerintah daerah untuk memprioritaskan asesmen keandalan bangunan sekolah, fasilitas kesehatan, serta gedung pemerintahan. Langkah ini penting guna menopang penanganan korban dan percepatan pemulihan. [Lihat juga: Analisis Gempa Flores 1992]

“Kemungkinan besar gempa ini bisa mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup signifikan pada infrastruktur strategis. Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan. Ini kita sangat berharap bisa recover dalam waktu yang singkat,” kata Irwan menambahkan.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa yang menyebabkan tsunami setelah gempa Flores? Tsunami terjadi karena longsor bawah laut yang dipicu oleh gempa. Ketika lempeng tektonik bergerak, massa air laut terdorong ke atas permukaan, menciptakan gelombang besar yang dapat mencapai daratan.

Berapa lama periode peringatan tsunami setelah gempa? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini tsunami hingga pukul 07.30 WIB untuk wilayah sekitar Nagekeo. Peringatan ini biasanya berlangsung selama beberapa jam hingga kondisi dinyatakan aman.

Bagaimana cara mengetahui apakah gempa akan diikuti tsunami? Gempa dengan magnitudo di atas 7,0 dan kedalaman dangkal (kurang dari 30 kilometer) yang terjadi di laut memiliki potensi tinggi menyebabkan tsunami. Mekanisme gempa juga menjadi indikator penting.

Apa yang harus dilakukan saat gempa susulan terjadi? Segera evakuasi ke tempat tinggi jika berada di pesisir. Lindungi kepala dan tubuh, hindari bangunan yang retak, dan ikuti instruksi dari petugas tanggap darurat setempat.

Berapa lama periode kewaspadaan pasca gempa besar? Periode kewaspadaan biasanya berlangsung selama 2-4 minggu setelah gempa utama, mengingat potensi gempa susulan yang dapat terjadi kapan saja dengan magnitudo signifikan.

Leave a Comment