BI dan Pemkab Wonogiri Selidiki Penyebab Inflasi Tertinggi di Jawa Tengah
Beritabaru1.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Solo kini tengah melakukan kajian mendalam bersama Pemerintah Kabupaten Wonogiri untuk menemukan penyebab utama tingginya angka inflasi di wilayah tersebut. Berdasarkan data terbaru yang dirilis, Inflasi Wonogiri Tertinggi Di Jateng tercatat mencapai 0,44 persen pada Juni 2026. Angka ini menempatkan Wonogiri di posisi terdepan dibandingkan kabupaten dan kota lain di Jawa Tengah, termasuk kota Semarang yang hanya mencatatkan 0,42 persen.
Dwiyanto Cahyo Sumirat, Kepala Perwakilan BI Solo, menyampaikan analisis komprehensif dalam forum Srambi yang diselenggarakan pada Sabtu (1/8). Ia memaparkan perbandingan detail antara Wonogiri dengan Surakarta (Solo) serta berbagai wilayah administratif lainnya di Jawa Tengah. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Solo tidak memiliki produksi pertanian dan bergantung sepenuhnya pada distribusi dari luar, inflasinya masih lebih rendah dibandingkan Wonogiri.
“Kita coba lihat posisi antara Surakarta (Solo) dan Wonogiri dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Jawa Tengah, juga inflasi kota Semarang yang mengalami 0,42%, ternyata Wonogiri juaranya,” papar Dwiyanto dalam paparannya.
Analisis Komoditas Pemicu Kenaikan Harga
Secara bulanan atau month to month (mtm), inflasi Wonogiri mencapai 0,44 persen. Angka ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang hanya tercatat 0,30 persen. Namun, secara tahunan atau year on year (yoy) pada Juni 2026, inflasi Wonogiri berada di angka 3,03 persen yang masih dikategorikan terkendali dan berada dalam batas wajar.
Sebagai perbandingan, Kota Solo atau Surakarta yang tidak memiliki produksi pertanian dan bergantung penuh pada pasokan distribusi luar negeri, berhasil mempertahankan inflasi Juni 2026 pada level 3,2 persen. Posisi ini menempatkan Solo di nomor empat setelah Rembang dalam hal stabilitas harga.
Dari pantauan BI, beberapa komoditas menjadi penyumbang utama tingginya inflasi di Wonogiri. Komoditas tersebut meliputi bawang merah, bawang putih, beras, rokok sigaret, dan bensin. Terkait bensin, BI menegaskan bahwa faktor ini tidak dapat dikendalikan karena sepenuhnya bergantung pada pasar global. Untuk informasi lebih lanjut mengenai dampak inflasi terhadap sektor pertanian, [baca artikel terkait di sini](https://mediaindonesia.com/nusantara/917521/inflasi-wonogiri-tertinggi-di-jateng-bi-dan-pemkab-serius-cari-pemicunya).
Status Awas Kekeringan dan Dampaknya
Selain masalah inflasi, Wonogiri juga menghadapi tantangan iklim yang serius. Badan Meterorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menetapkan status Awas untuk wilayah kabupaten gaplek tersebut. Penetapan ini berkaitan dengan kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino yang melanda Indonesia.
“BMKG membagi tiga status terkait situasi kekeringan pada Dasarian ke-3 Juli 2026. Di wilayah Solo Raya, status Waspada meliputi Kota Surakarta (Solo) dan Karanganyar, sedang Siaga di Kabupaten Boyolali, Klaten, Sragen, dan Sukoharjo. Sementara itu, status Awas terjadi Kabupaten Wonogiri,” imbuh Kepala Perwakilan BI Solo.
Kondisi peringatan dini kekeringan pada Dasarian III Juli 2026 diprediksi akan berlanjut hingga Agustus 2026. Hal ini sejalan dengan prediksi curah hujan yang rendah. Wonogiri mencatat curah hujan hanya 0,22 mm, sehingga potensi kekeringan masih sangat tinggi dan memerlukan penanganan segera.
Sebagai daerah agraris, kondisi ini juga meningkatkan risiko gagal panen. Dwiyanto menekankan bahwa situasi ini perlu disikapi serius karena dampaknya terhadap pergerakan inflasi. Hingga saat ini, dinas terkait dan kelompok tani optimis dapat mengatasi masalah dalam tingkat manajerial. BI juga mencatat adanya keseriusan Dinas Pertanian dalam membantu pengadaan sumur pompa untuk mitigasi kekeringan.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Inflasi Wonogiri
Apa penyebab utama inflasi Wonogiri tertinggi di Jawa Tengah? Inflasi Wonogiri tertinggi disebabkan oleh kenaikan harga beberapa komoditas kunci seperti bawang merah, bawang putih, beras, rokok sigaret, dan bensin. Faktor kekeringan akibat El Nino juga berkontribusi terhadap kenaikan harga hasil pertanian.
Berapa persen inflasi Wonogiri pada Juni 2026? Inflasi Wonogiri pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan (mtm) dan 3,03 persen secara tahunan (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan kota-kota lain di Jawa Tengah.
Bagaimana dampak kekeringan terhadap inflasi di Wonogiri? Kekeringan dengan status Awas yang ditetapkan BMKG meningkatkan risiko gagal panen dan kelangkaan pasokan hasil pertanian. Hal ini mendorong kenaikan harga komoditas pangan yang menjadi penyumbang utama inflasi.
Apa langkah pemerintah daerah untuk mengatasi masalah ini? Pemerintah Kabupaten Wonogiri bekerja sama dengan BI dan Dinas Pertanian untuk melakukan mitigasi kekeringan melalui pengadaan sumur pompa dan memastikan pasokan pangan tetap stabil selama musim kemarau.

