Ketika Sungai mengajarkan Arti Kemerdekaan
Sungai sebagai Guru Kehidupan dan Kemerdekaan
Beritabaru1.com – Salah satu kenangan yang tak pernah pudar dari masa kecil saya adalah tentang sungai. Saya dibesarkan di Kampung Pulokencana, sebuah desa di Serang Utara, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya kerap diajak teman-teman untuk berenang di kali. Yang membuat ajakan itu begitu menarik justru ketiadaan paksaan. Berbeda dengan larangan orang tua yang hanya berbunyi, “Jangan mandi di kali,” ajakan bermain air terasa lebih menggoda. Hampir seluruh anak-anak di sana melakukannya. Mereka mandi bersama, mencuci pakaian, beras, hingga ikan. Bahkan sampah pun dibuang ke aliran yang sama. Bagi kami, sungai bukan sekadar air yang mengalir, melainkan ruang sosial tempat masyarakat berinteraksi dan beraktivitas.
Keluarga saya termasuk yang tidak memanfaatkan sungai untuk mandi. Kami memiliki sumur sendiri di rumah. Kakek saya merupakan tokoh agama, sedangkan ibu saya berprofesi sebagai guru. Namun, pilihan kami untuk tidak mandi di kali bukan karena merasa lebih tinggi derajatnya. Alasannya sangat sederhana: kebersihan, kelayakan, dan keamanan. Sebagai seorang anak, saya memandang hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Mungkin ada rasa aneh, namun saya belum mampu menyebutnya sebagai masalah lingkungan. Bagi saya, sungai hanyalah sungai. Orang-orang mandi di sana karena itulah kehidupan yang saya saksikan setiap hari.
Mungkin di sinilah akar masalah lingkungan sering kali muncul: pada hal-hal yang terlalu biasa sehingga tidak pernah dipertanyakan. Ketika berusia lima atau enam tahun, ibu memutuskan untuk menyekolahkan saya jauh dari rumah. Jaraknya sekitar sepuluh kilometer dan berada di kecamatan yang berbeda. Bagi warga sekitar, keputusan itu terdengar tidak lazim. Penumpang angkutan umum bahkan pernah menganggap ibu saya terlalu tega terhadap anak kecil. Saya sendiri merasa santai saja.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, saya kembali berpindah tempat untuk bersekolah di Cianjur, Jawa Barat. Perjalanan pendidikan berlanjut dengan beberapa sekolah di Serang, kemudian kuliah di Jakarta. Saya juga bekerja sebagai wartawan untuk majalah remaja mingguan. Pada akhirnya, saya mengikuti suami ke Belanda ketika beliau menjalani studi doktoral. Perjalanan ini ternyata tidak hanya memindahkan posisi tubuh saya dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi juga secara perlahan mengubah perspektif saya terhadap dunia.
Di suatu hari, saya duduk di pinggir sungai di Leiden. Saya menikmati suasana sambil melemparkan batu-batu kecil ke permukaan air. Bagi saya, itu adalah tindakan yang sangat sederhana, bahkan terasa tidak berarti. Namun, seorang kakek dan nenek yang berada di dekat saya kemudian memberikan teguran. Pesan mereka sederhana: jika ingin menikmati sungai, nikmati ketenangannya. Jangan sampai mengganggunya. Di dalam air tersebut, ada kehidupan lain yang mungkin sedang berlangsung.
Saya terhenyak. Bukan karena merasa sedang melakukan kesalahan besar. Bukan pula karena melempar batu ke sungai tiba-tiba menjadi tindakan yang keliru. Saya terhenyak karena untuk pertama kalinya saya melihat sungai bukan hanya sebagai tempat yang boleh digunakan manusia, melainkan sebagai ruang kehidupan yang juga dihuni makhluk lain. Dalam kesempatan lain, saat menikmati musim semi di sebuah taman di Belanda, saya melihat seseorang memetik bunga. Sekali lagi, saya mendengar teguran serupa dari para lansia di sekitar saya. Jika ingin menikmati bunga, biarkan ia tetap tumbuh. Nikmati warnanya, bentuknya, dan aromanya. Jangan mengambil seluruh keindahannya untuk diri sendiri. Karena setelah dipetik, keindahan itu berhenti pada orang yang memetiknya.
Kalimat-kalimat sederhana itu kemudian tinggal lama dalam pikiran saya. Saya mulai bertanya-tanya: berapa banyak perilaku yang kita anggap biasa sebenarnya lahir dari cara pandang bahwa alam hanya tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia? Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika saya kembali menatap persoalan lingkungan di Indonesia. Data pemerintah menunjukkan bahwa masalah sampah kita bukanlah hal sepele.
Berdasarkan data nasional yang digunakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup untuk Hari Peduli Sampah Nasional 2025, timbulan sampah Indonesia pada tahun 2023 diperkirakan mencapai 56,63 juta ton per tahun. Dari total tersebut, hanya sekitar 39,01 persen yang tercatat terkelola dengan baik. Sementara itu, 60,99 persen atau setara dengan 34,54 juta ton masih belum terkelola. Pada saat yang sama, 306 daerah atau sekitar 54,44 persen Tempat Pembuangan Akhir (TPA) masih beroperasi dengan sistem open dumping.
“Jika ingin menikmati sungai, nikmati ketenangannya. Jangan mengganggunya. Di dalam air itu ada kehidupan lain yang mungkin sedang berlangsung.”
“Jika ingin menikmati bunga, biarkan ia tetap tumbuh. Nikmati warnanya, bentuknya, aromanya. Jangan mengambil seluruh keindahannya untuk diri sendiri.”
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Ketika Sungai mengajarkan Arti Kemerdekaan?
Ketika Sungai mengajarkan Arti Kemerdekaan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Ketika Sungai mengajarkan Arti Kemerdekaan matter?
Ketika Sungai mengajarkan Arti Kemerdekaan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.