Kutip Falsafah Menang Tanpo Ngasorake, Ketua MPR: Kemenangan Sejati tak Merendahkan
Kutip Falsafah Menang Tanpo Ngasorake: MPR RI Ajak Bangsa Bersatu
Beritabaru1.com – Kutip Falsafah Menang Tanpo Ngasorake menjadi tema utama yang disampaikan Ahmad Muzani, Ketua MPR RI, dalam Sidang Tahunan MPR RI yang diselenggarakan bersama Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI. Acara bersejarah ini berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada hari Jumat, 14 Agustus 2025. Dalam sambutannya, Muzani menekankan pentingnya persatuan bangsa yang harus dirawat secara berkelanjutan melalui keadilan, keteladanan, dan dialog yang beretika.
Sebagai politikus dari Partai Gerindra, Muzani menyampaikan pesan tersebut di hadapan Presiden Prabowo Subianto serta jajaran pejabat negara lainnya. Ia mengingatkan bahwa kritik maupun perbedaan pendapat tidak boleh menjadi penyebab rusaknya persatuan nasional. Sebaliknya, persatuan juga tidak boleh digunakan untuk meredam perbedaan pendapat yang sehat.
Persatuan harus dirawat dari hari ke hari melalui keadilan, keteladanan, dialog, dan rasa saling percaya. Karena itu, menjaga persatuan berarti menjaga keadilan. Kritik tidak boleh digunakan untuk merobek persatuan, sebaliknya persatuan juga tidak boleh digunakan untuk meredam perbedaan pendapat.
Empat Prinsip Falsafah Jawa sebagai Pedoman Hidup
Muzani mengutip filosofi kepemimpinan Jawa untuk mengingatkan seluruh elemen bangsa dan kontestan politik agar bersikap bijak dalam mengelola perbedaan. Ia menyebutkan empat prinsip falsafah Jawa yang menjadi landasan berpikir dalam kehidupan berbangsa:
Nglurug Tanpo Bolo, yang berarti berjuang tanpa membawa massa; Sekti Tanpo Aji-Aji, yang bermakna sakti tanpa jimat; Sugih Tanpo Bondho, yang berarti kaya tanpa harta; dan Menang Tanpo Ngasorake, yang bermakna menang tanpa merendahkan. Keempat prinsip ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang harus dipegang oleh setiap pemimpin dan masyarakat Indonesia.
Kemenangan sejati bukanlah kemenangan yang meninggalkan luka pada saudara sebangsa. Kemenangan sejati adalah kemenangan yang tetap menjaga persaudaraan, yang tidak menghina, tidak merundung, dan tidak mempermalukan mereka yang berbeda pandangan.
Ketua MPR RI ini mengimbau masyarakat maupun para elite politik agar menjadikan prinsip saling menghormati sebagai pedoman utama dalam kehidupan berbangsa. Ia menekankan bahwa kedewasaan berpolitik dan berkomunikasi di ruang publik merupakan benteng utama untuk merawat persatuan nasional di tengah keberagaman perspektif. Baca juga: Dinamika Politik Indonesia untuk memahami konteks lebih luas.
Aplikasi Falsafah dalam Kehidupan Berbangsa
Falsafah Kutip Falsafah Menang Tanpo Ngasorake memiliki relevansi yang kuat dalam konteks politik Indonesia saat ini. Muzani menjelaskan bahwa kemenangan dalam pemilu atau perdebatan politik seharusnya tidak membuat pihak yang menang merasa lebih tinggi atau merendahkan pihak lain. Hal ini sejalan dengan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Dalam sambutannya, Muzani juga menyoroti pentingnya dialog antar generasi dan antar kelompok sosial. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk saling mendengarkan dan menghargai perbedaan pendapat. Dengan demikian, persatuan bangsa dapat terjaga meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam berbagai aspek kehidupan.
Kemenangan sejati adalah kemenangan yang tetap menjaga persaudaraan, yang tidak menghina, tidak merundung, dan tidak mempermalukan mereka yang berbeda pandangan. Pesan inilah yang harus kita pegang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
FAQ: Kutip Falsafah Menang Tanpo Ngasorake
Apa makna Menang Tanpo Ngasorake? Menang Tanpo Ngasorake berarti menang tanpa merendahkan. Prinsip ini mengajarkan bahwa kemenangan seharusnya tidak membuat pihak yang menang merasa lebih tinggi atau merendahkan pihak lain.
Kapan Muzani menyampaikan pidato ini? Ahmad Muzani menyampaikan pidato ini pada hari Jumat, 14 Agustus 2025, saat membuka Sidang Tahunan MPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Siapa saja yang hadir dalam sidang tersebut? Hadir dalam sidang tersebut antara lain Presiden Prabowo Subianto, anggota DPR RI, anggota DPD RI, serta para pejabat negara lainnya.
Bagaimana cara menerapkan falsafah ini dalam kehidupan sehari-hari? Kita dapat menerapkan falsafah ini dengan tidak merendahkan orang lain saat kita berhasil, menghargai perbedaan pendapat, dan menjaga persaudaraan meskipun ada perbedaan pandangan.
Apakah falsafah ini hanya berlaku untuk politik? Tidak, falsafah ini berlaku untuk semua aspek kehidupan, termasuk politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Prinsip menang tanpa merendahkan dapat diterapkan dalam berbagai situasi.