Indonesia Diperkuat Peran Middle Power di Tengah Pergeseran Geopolitik Global
Beritabaru1.com – Konflik yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi dipandang sebagai perselisihan biasa antara dua negara. Para ahli menilai bahwa ketegangan ini merupakan pertanda kuat bahwa dominasi unipolar global sedang mengalami keruntuhan, membuka jalan menuju tatanan dunia multipolar yang baru. Dalam konteks transisi tersebut, negara-negara kekuatan menengah atau middle powers diharapkan dapat mengambil peran yang lebih signifikan dalam menjaga stabilitas geopolitik maupun ekonomi internasional. Indonesia sendiri diproyeksikan menjadi salah satu aktor penting dalam dinamika baru ini.
Forum Diskusi Global Insight Forum
Pandangan strategis tersebut diungkapkan secara komprehensif dalam diskusi daring yang diselenggarakan oleh Global Insight Forum (GIF). Webinar dengan judul “Perang AS–Iran dan Masa Depan Perdamaian Global: Menakar Dinamika Geopolitik, Efektivitas PBB, dan Strategi Penyelesaian Konflik” ini berlangsung pada hari Sabtu, tanggal 18 Juli. Acara tersebut menghadirkan sejumlah pakar terkemuka, antara lain Direktur Eksekutif GIF Teuku Rezasyah, Senior Fellows GIF Chandra Purnama dan Faisal Nurdin Idris, serta Kepala Program Studi Kawasan Timur Tengah Universitas Indonesia Dr. Mulawarman Hannase. Moderator dalam sesi tersebut adalah Aan Fatwa S.
Keterbatasan Mekanisme Konflik Internasional
Teuku Rezasyah menyampaikan bahwa kompleksitas proses penyelesaian konflik internasional semakin terlihat jelas dari dinamika yang berkembang. Upaya diplomasi yang telah dilakukan melalui berbagai negara mediator belum berhasil menghasilkan penyelesaian permanen. Hal ini disebabkan oleh masih kuatnya rivalitas strategis serta rendahnya tingkat kepercayaan di antara para pihak yang terlibat. Kondisi ini mengindikasikan adanya keterbatasan pada mekanisme penyelesaian konflik yang selama ini mengandalkan lembaga-lembaga internasional.
Kondisi tersebut semakin memperlihatkan keterbatasan mekanisme penyelesaian konflik yang selama ini bergantung pada lembaga-lembaga internasional, kata Teuku dalam keterangan yang diterima, Senin (20/7).
Transformasi Geopolitik Timur Tengah
Sementara itu, Dr. Mulawarman Hannase menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah sedang mengalami transformasi geopolitik terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Persaingan di kawasan yang sebelumnya didominasi oleh konflik ideologi dan sektarian kini bergeser menjadi kompetisi geoekonomi. Fokus utama kini meliputi penguasaan energi, teknologi, serta jalur perdagangan strategis. Perubahan fundamental ini mendorong negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, dan Uni Emirat Arab untuk mengembangkan kebijakan luar negeri yang semakin independen dari pengaruh luar.
Peran Middle Power dalam Keseimbangan Global
Chandra Purnama menekankan bahwa perang antara AS dan Iran harus dipahami sebagai bagian dari perubahan keseimbangan kekuatan global yang lebih luas. Menurutnya, melemahnya dominasi tunggal Amerika Serikat telah membuka ruang bagi negara-negara lain untuk memainkan peran yang lebih besar dalam penyelesaian konflik internasional. Pergeseran tersebut juga menunjukkan bahwa persaingan global pada masa mendatang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga kemampuan menguasai teknologi, energi, dan pengaruh ekonomi.
Faisal Nurdin Idris menambahkan bahwa efektivitas organisasi internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), semakin dipertanyakan dalam menghadapi konflik antarnegara besar. Dominasi negara-negara pemegang hak veto dinilai masih menjadi faktor utama yang menghambat lahirnya penyelesaian yang adil dan efektif. Dalam situasi tersebut, diplomasi negara-negara middle power dipandang akan semakin penting dalam membangun keseimbangan baru dan mendorong proses perdamaian yang lebih inklusif.
Dampak Langsung bagi Indonesia
Para narasumber juga mengingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah memiliki konsekuensi langsung terhadap Indonesia. Gangguan terhadap stabilitas pasokan energi dunia, khususnya apabila jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz terganggu, dapat memengaruhi harga energi domestik, inflasi, hingga stabilitas ekonomi nasional. Oleh sebab itu, Indonesia perlu mempercepat diversifikasi energi dan memperkuat ketahanan nasional agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.
Selain memperkuat ketahanan nasional, Indonesia dinilai memiliki peluang strategis untuk memainkan peran yang lebih besar dalam diplomasi internasional. Dengan posisi geografis yang menguasai jalur pelayaran dunia serta politik luar negeri bebas aktif, Indonesia memiliki modal untuk menjadi penghubung di antara negara-negara middle power, memperkuat kerja sama Global South, serta mendorong terciptanya mekanisme penyelesaian konflik yang lebih inklusif di tengah perubahan lanskap geopolitik global.
Webinar ini menyimpulkan bahwa perubahan geopolitik dunia harus direspons dengan penguatan kapasitas nasional, peningkatan diplomasi strategis, serta pembangunan ekosistem energi dan teknologi yang lebih mandiri. Langkah tersebut menjadi prasyarat penting agar Indonesia mampu mempertahankan kepentingan nasional sekaligus meningkatkan kontribusinya dalam mewujudkan stabilitas dan perdamaian global.

