Barantin dan FAO Kolaborasi untuk Perkuat Sistem Karantina Hewan
Beritabaru1.com – Dalam menghadapi ancaman penyakit hewan lintas batas yang semakin kompleks, Key Strategy menjadi salah satu pilar utama dalam upaya menjaga ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan ketersediaan produk pertanian Indonesia di pasar global. Peningkatan mobilitas barang dan manusia, serta dampak perubahan iklim, menyebabkan risiko penyebaran penyakit hewan meningkat. Untuk mengatasi hal ini, Badan Karantina Indonesia (Barantin) dan Food and Agriculture Organization (FAO) menggandeng tangan dalam memperkuat sistem karantina nasional melalui pendekatan berbasis sains dan teknologi. Kemitraan ini diharapkan mampu menciptakan pertahanan ekosistem yang tangguh, mengurangi ancaman dari zoonosis, hama, serta penyakit yang dapat mengganggu pertanian dan ekonomi.
Peluncuran inisiatif ini dimulai dengan pelaksanaan Inception Workshop di Jakarta pada 7 Juli 2023, sebagai bagian dari program FAO Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) yang berjudul “Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats.” Program ini didanai sebesar US$200.000 dan bertujuan membangun sistem biosecurity yang lebih adaptif, sehingga Indonesia bisa mengantisipasi risiko sebelum penyakit menyeberang batas negara. Dengan Key Strategy sebagai pendekatan utama, kerja sama ini berfokus pada pembelajaran berkelanjutan, pelatihan teknis, dan implementasi teknologi canggih dalam pengelolaan risiko.
Karding: Sistem Karantina Harus Beradaptasi dengan Tantangan Global
Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menegaskan bahwa Key Strategy dalam menghadapi penyakit hewan lintas batas adalah keharusan untuk menjaga kesejahteraan masyarakat dan memastikan keberlanjutan pertanian nasional. Ia menyoroti bahwa sistem karantina tradisional tidak lagi cukup efektif dalam menghadapi arus barang yang semakin cepat. “Kami ingin membangun mekanisme yang lebih modern, berbasis risiko, dan selaras dengan standar internasional,” ujarnya. Karding menjelaskan bahwa Key Strategy ini melibatkan integrasi teknologi digital, data real-time, serta pengambilan keputusan yang lebih akurat untuk mengurangi kemungkinan penyebaran penyakit lintas batas.
“Barantin tidak ingin menjadi penghalang di perbatasan, tetapi pengamanan pertama dalam memerangi ancaman dari luar. Dengan Key Strategy, kami berupaya mengoptimalkan risiko, memastikan keamanan hayati Indonesia tidak terganggu, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ekspor yang lebih aman,” terang Karding.
Penyakit hewan lintas batas seperti Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK), zoonosis, serta spesies invasif memengaruhi produktivitas pertanian, kesehatan publik, dan juga kesadaran masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, sekitar 23 juta rumah tangga bergantung pada sektor peternakan, sehingga perlindungan kesehatan hewan menjadi prioritas. Key Strategy dalam kerja sama dengan FAO bertujuan memperkuat kapasitas nasional untuk memantau, mengendalikan, dan memitigasi risiko penyakit yang menyebar melalui jalur perdagangan.
Aryal: One Health Sebagai Pendekatan Strategis
Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menekankan bahwa Key Strategy dalam upaya cegah penyakit hewan lintas batas tidak bisa dipisahkan dari pendekatan One Health. Ia menyatakan bahwa interaksi antara kesehatan hewan, manusia, tumbuhan, dan lingkungan harus diintegrasikan untuk menciptakan solusi yang komprehensif. “Sistem karantina hewan adalah bagian dari garis depan dalam menghadapi ancaman lintas batas. Dengan Key Strategy, FAO mendukung Barantin mengembangkan kemampuan analisis risiko yang lebih baik melalui teknologi digital,” kata Aryal.
“Kemitraan ini memastikan Indonesia siap menghadapi tantangan global, menjaga kesehatan masyarakat, serta memperkuat daya saing produk pertanian di pasar internasional,” jelas Aryal.
Key Strategy dalam kolaborasi Barantin dan FAO terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, penguatan kompetensi petugas karantina melalui pelatihan berbasis standar internasional. Kedua, pengembangan sistem digital terintegrasi untuk pemetaan penyakit, surveilans, serta Early Warning System (EWS) yang lebih efisien. Ketiga, peningkatan kesadaran masyarakat melalui kampanye risiko dan pendekatan kolaboratif. Melalui trikombinasi ini, Key Strategy diharapkan mampu menciptakan sistem yang lebih responsif dan transparan.
Keberhasilan Key Strategy akan berdampak signifikan pada sektor pertanian. Sistem karantina yang kuat tidak hanya mencegah masuknya penyakit, tetapi juga memastikan produk pertanian Indonesia tetap kompetitif di pasar internasional. Dengan teknologi yang diintegrasikan, Barantin dan FAO dapat meminimalkan kehilangan ekonomi akibat wabah penyakit, sekaligus meningkatkan kualitas pengawasan dan pengendalian hama. Ini menjadi langkah penting dalam membangun ketahanan nasional dan menjaga kesejahteraan rakyat.
Key Strategy ini juga memperkuat kerja sama antarlembaga dalam mencapai tujuan yang sama. FAO memberikan bantuan teknis dan sumber daya, sementara Barantin bertindak sebagai mitra pelaksana. Melalui kemitraan yang diatur dalam framework risiko, program ini diharapkan bisa menghasilkan data yang akurat, sistem yang terpadu, serta kebijakan yang lebih efektif. Key Strategy ini akan menjadi referensi bagi negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam pangan dunia.

