Rupiah Terjepit di Tengah Ketegangan Geopolitik AS-Iran dan Ekspektasi Kenaikan BI-Rate
Beritabaru1.com – Perdagangan di pasar valuta asing pada Senin pagi, 20 Juli 2026, diwarnai oleh pelemahan signifikan terhadap mata uang rupiah. Berdasarkan data real-time yang tercatat di pasar, nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 56 poin atau setara dengan 0,31 persen. Penurunan ini menempatkan rupiah pada level Rp17.977 per satu dolar Amerika Serikat, turun dari posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di angka Rp17.921 per dolar AS.
Menurut analisis Rully Nova, seorang analis dari Bank Woori Saudara, faktor eksternal menjadi pendorong utama pelemahan tersebut. Eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalisator yang memicu penguatan indeks dolar AS secara global. Selain itu, harga minyak mentah dunia juga mengalami kenaikan tajam seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Eskalasi Militer dan Dampaknya terhadap Pasar Global
Ketegangan antara kedua negara tersebut memuncak setelah Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM secara resmi mengumumkan dimulainya serangkaian serangan militer baru terhadap wilayah Iran. Langkah strategis ini diklaim bertujuan untuk melemahkan kapasitas Iran dalam mengancam jalur pelayaran komersial vital di Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan choke point krusial bagi perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi menyebabkan volatilitas harga komoditas energi secara global.
Selain itu, langkah militer AS ini juga merupakan respons langsung terhadap serangan yang menargetkan personel militer Amerika Serikat di Yordania beberapa waktu sebelumnya. Sebagai bentuk pembalasan, militer Iran dilaporkan melancarkan serangan drone berskala besar yang menargetkan dua instalasi militer Amerika Serikat yang berlokasi di Kuwait.
Dua target utama serangan drone tersebut adalah gudang amunisi di Camp Al Adiri serta Pangkalan Udara Ali Al Salem. Fasilitas terakhir ini memiliki peran strategis karena menampung sistem rudal Patriot dan radar pertahanan udara yang vital untuk keamanan wilayah. Serangan ini semakin memperburuk sentimen pasar dan mendorong investor untuk mencari safe haven, sehingga dolar AS semakin menguat.
Ekspektasi Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Dari perspektif domestik, pelaku pasar saat ini sedang menyoroti Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada Rabu, 22 Juli 2026. Terdapat ekspektasi yang sangat kuat di kalangan analis bahwa bank sentral akan memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi level 6 persen. Kenaikan ini dipandang sebagai langkah antisipatif untuk menghadapi tekanan inflasi yang meningkat serta volatilitas pasar yang disebabkan oleh faktor eksternal.
“Alasan utama potensi kenaikan suku bunga acuan di antaranya adalah inflasi, nilai tukar Rupiah, serta volatilitas pasar saham yang dipengaruhi oleh tinjauan lembaga rating global,” tambah Rully Nova.
Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik global dan penantian terhadap kebijakan moneter dalam negeri diperkirakan akan terus membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Jika tensi di Timur Tengah terus memanas tanpa ada tanda-tanda penurunan, rupiah berisiko menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Level tersebut merupakan batas mental penting bagi para trader dan investor yang memantau pergerakan mata uang Indonesia.
Selain itu, tinjauan lembaga rating global terhadap prospek ekonomi Indonesia juga menjadi faktor tambahan yang perlu dipertimbangkan oleh bank sentral. Ketegangan geopolitik tidak hanya berdampak pada nilai tukar, tetapi juga dapat mempengaruhi aliran modal asing dan stabilitas pasar keuangan domestik. Oleh karena itu, keputusan BI dalam rapat mendatang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter Indonesia untuk beberapa bulan ke depan.
Para pelaku pasar juga mencatat bahwa pelemahan rupiah saat ini terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS secara global. Hal ini menunjukkan bahwa faktor eksternal memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor fundamental domestik. Namun, jika BI berhasil menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi, hal tersebut dapat membantu menarik kembali minat investor terhadap aset-aset berdenominasi rupiah.
Dengan demikian, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah serta keputusan bank sentral. Investor disarankan untuk memantau secara ketat perkembangan terbaru dari kedua faktor tersebut guna mengantisipasi potensi volatilitas lebih lanjut di pasar valuta asing Indonesia.

