Historic Moment: Perempuan Diajak Siap Menghadapi Fase Perimenopause
Beritabaru1.com – Di tengah perjalanan hidup yang penuh tantangan, perempuan Indonesia kini diberi kesempatan untuk memahami lebih dini perihal fase perimenopause, sebuah historic moment dalam perjalanan kesehatan reproduksi mereka. Fase ini, yang biasanya terjadi antara usia 40 hingga 55 tahun, mengubah pola hidup dan kebutuhan tubuh perempuan. Perimenopause bukan hanya momen alami, tetapi juga historic moment yang menuntut persiapan mental dan fisik untuk menghadapi perubahan hormonal, emosional, serta fisiologis. Seminar khusus yang diselenggarakan oleh Primaya Hospital bekerja sama dengan Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli menjadi langkah penting dalam memperkenalkan pentingnya kesadaran sejak dini tentang perimenopause.
Mengapa Perimenopause Menjadi Historic Moment?
Fase perimenopause sering dianggap sebagai periode transisi yang diabaikan karena gejalanya tidak selalu menonjol. Namun, perubahan ini bisa memengaruhi kualitas hidup, terutama dalam aspek produktivitas dan kesehatan. Historic moment ini berarti bahwa perempuan harus siap menghadapi tantangan seperti ketidaknyamanan fisik, fluktuasi emosi, dan perubahan metabolisme. Dengan memahami perimenopause, perempuan bisa mengambil langkah tepat untuk menjaga kesehatan secara holistik, sebelum mengalami menopause.
Perimenopause: Fase yang Tidak Boleh Dianggap Remeh
Di dalam seminar, para ahli menekankan bahwa perimenopause adalah tahap penting yang menandai mulai berkurangnya produksi hormon estrogen. Perubahan ini bisa menyebabkan gejala seperti keringat dingin, gangguan tidur, serta perubahan mood. Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG, menjelaskan bahwa historic moment ini juga memengaruhi fungsi organ reproduksi, menjadikannya periode kritis untuk pemantauan kesehatan. “Perimenopause bukan sekadar tanda penuaan, tetapi adalah tahap transisi yang memberi kesempatan untuk mengelola perubahan secara proaktif,” tuturnya.
CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, menambahkan bahwa historic moment ini bisa menjadi titik awal untuk mengadaptasi gaya hidup agar tetap sehat dan aktif. Ia menyoroti pentingnya pendampingan medis yang tepat, karena gejala perimenopause seringkali dianggap sebagai hal wajar dan diabaikan. “Perempuan tidak perlu merasa terisolasi saat menghadapi fase ini, karena ini adalah bagian dari proses alami yang bisa diatasi dengan strategi yang tepat,” pungkas Leona.
Langkah-Langkah untuk Menjaga Kesehatan Selama Perimenopause
Seminar ini tidak hanya membahas gejala, tetapi juga solusi praktis. Susanna Angraini, CEO & Co-Founder Yoona Women, mengajak perempuan untuk tidak malu dalam berbicara tentang perimenopause. Ia menekankan bahwa kebanyakan perempuan mengalami gejala seperti kencing terasa tidak terkendali atau rasa lelah yang berlebihan, dan ini adalah bagian dari kehidupan normal. “Membuka diri dan berdiskusi dengan teman atau keluarga bisa menjadi langkah pertama dalam menghadapi historic moment ini,” ujarnya.
Wulan Maharani Tilaar dari Martha Tilaar SPA menambahkan bahwa perawatan holistik menjadi bagian penting dari penanganan perimenopause. Dengan penggunaan produk kecantikan dan perawatan tubuh yang tepat, perempuan bisa menjaga penampilan dan kepercayaan diri. Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, menyatakan bahwa historic moment ini juga mengajarkan bahwa produktivitas tidak harus berhenti di usia tertentu. “Perimenopause bukan akhir, tetapi awal dari era baru yang bisa dimanfaatkan untuk berkarya lebih cerdas,” katanya.
Lebih lanjut, acara ini menyoroti pentingnya pendidikan kesehatan yang berkelanjutan. Dengan memahami perimenopause sejak dini, perempuan bisa menjaga kesehatan reproduksi, mengurangi risiko penyakit menopause, serta menjaga hubungan baik dengan lingkungan kerja. Seminar ini dianggap sebagai historic moment yang mendorong perubahan pola pikir masyarakat tentang kesehatan wanita, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya perawatan pribadi dan dukungan sosial.
