Pengelolaan Sampah Berbasis Warga Diperkuat: Limbah Organik Jadi Peluang Usaha
Beritabaru1.com – Pemerintah terus mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Salah satu inisiatif yang mendapat perhatian khusus adalah Pengelolaan Sampah Berbasis Warga Diperkuat, yang bertujuan mengubah limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Program ini menunjukkan bagaimana masyarakat dapat berperan aktif dalam pengelolaan lingkungan sekaligus menciptakan peluang usaha baru.
Universitas Mercu Buana menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi yang mengambil peran strategis melalui program pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini melibatkan warga Meruya Selatan, Jakarta Barat, dalam mengolah limbah organik menjadi produk ramah lingkungan. Dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), program ini resmi berjalan untuk Tahun Anggaran 2026 dengan kontrak pelaksanaan nomor 01-1-4/020/SPK-PKM/V/2026.
Tim Pelaksana dan Lokasi Program
Program yang berjudul “Pemberdayaan Kelompok Masyarakat dalam Inovasi Sabun Cair Organik Ramah Lingkungan untuk Mendukung Ekonomi Hijau Berkelanjutan” ini digelar di RPTRA Manunggal, Meruya Selatan. Fransisca Listyaningsih Utami memimpin program sebagai ketua pelaksana, didampingi Erna Setiany dan Sagir Alva sebagai anggota pelaksana. Tim ini juga didukung oleh para mahasiswa Universitas Mercu Buana yang aktif dalam pendampingan masyarakat.
Kegiatan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memberikan pelatihan praktis langsung kepada peserta. Masyarakat diajak untuk memahami proses pengolahan limbah organik, terutama kulit buah, menjadi eco-enzyme. Bahan ini kemudian menjadi komponen utama dalam pembuatan sabun cair yang ramah lingkungan. Peserta mendapatkan pendampingan menyeluruh, mulai dari pemilahan bahan baku, pembuatan eco-enzyme, penggunaan mesin pengaduk, hingga tahap produksi dan pengemasan.
Produk dan Manfaat bagi Lingkungan
Produk yang dihasilkan memiliki variasi kebutuhan rumah tangga, termasuk sabun cuci pakaian, sabun cuci piring, serta cairan pembersih lantai. Selain fungsi kebersihan, produk ini juga berkontribusi mengurangi volume sampah organik yang menuju tempat pembuangan akhir. Pendekatan ini sejalan dengan upaya memperkuat ekonomi sirkular, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan, serta menciptakan kawasan perkotaan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan.
“Tak hanya memberikan pelatihan produksi, tim pengabdian turut membekali warga dengan keterampilan dasar kewirausahaan. Peserta memperoleh pendampingan mengenai pembuatan logo, merek, desain label produk, dan pencatatan keuangan sederhana agar produk yang dihasilkan memiliki identitas usaha dan siap dipasarkan,” terangnya.
Pendampingan Kewirausahaan untuk Masyarakat
Program ini tidak hanya fokus pada aspek produksi, tetapi juga membekali warga dengan keterampilan dasar kewirausahaan. Peserta mendapat pendampingan dalam pembuatan logo, penentuan merek, desain label produk, serta pencatatan keuangan sederhana. Hal ini bertujuan agar produk yang dihasilkan memiliki identitas usaha yang jelas dan siap dipasarkan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memasarkan produk mereka secara mandiri.
Fransisca menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mendorong masyarakat memanfaatkan sampah organik menjadi produk bernilai tambah yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga. Menurutnya, inovasi sederhana berbasis masyarakat menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung penerapan ekonomi hijau dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.
“Melalui program ini, Universitas Mercu Buana berharap masyarakat mampu mengurangi volume sampah organik dan menghasilkan produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Dampak dan Harapan Jangka Panjang
Pendekatan ini sejalan dengan upaya memperkuat ekonomi sirkular, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan, serta menciptakan kawasan perkotaan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan. Program tersebut juga mencerminkan peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung agenda pembangunan nasional melalui inovasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan warga diharapkan mampu menghadirkan solusi konkret atas persoalan sampah perkotaan serta memperkuat ekonomi masyarakat berbasis pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan,” pungkasnya.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Program
Apa itu eco-enzyme dan bagaimana fungsinya? Eco-enzyme adalah cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah yang dapat digunakan sebagai bahan pembersih ramah lingkungan. Fungsinya meliputi mengurangi bau, membersihkan permukaan, dan menjadi komponen utama dalam pembuatan sabun cair.
Bagaimana cara masyarakat mendapatkan pendampingan dalam program ini? Masyarakat dapat mengikuti pelatihan yang diadakan di RPTRA Manunggal, Meruya Selatan. Pendampingan dilakukan oleh tim dari Universitas Mercu Buana yang mencakup mahasiswa dan dosen sebagai fasilitator.
Apakah produk yang dihasilkan memiliki nilai jual? Ya, produk yang dihasilkan seperti sabun cuci pakaian, sabun cuci piring, dan cairan pembersih lantai memiliki nilai jual. Masyarakat dibekali keterampilan kewirausahaan untuk memasarkan produk secara mandiri.
Berapa lama program ini berlangsung? Program ini berlangsung untuk Tahun Anggaran 2026 dengan kontrak pelaksanaan tercatat dengan nomor 01-1-4/020/SPK-PKM/V/2026. Durasi kegiatan mencakup pelatihan, produksi, dan pendampingan pemasaran.
Bagaimana program ini mendukung ekonomi sirkular? Program ini mendukung ekonomi sirkular dengan mengubah limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi, mengurangi volume sampah ke tempat pembuangan akhir, dan menciptakan rantai nilai dari bahan baku hingga produk jadi.
