Sudaryono Resmi Memimpin BGN dengan Tiga Prioritas Kerja
Beritabaru1.com – Kepala BGN Baru Sudaryono Dihadapkan pada serangkaian tugas krusial yang akan menentukan arah kebijakan gizi nasional ke depan. Pengangkatan resmi Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menandai babak baru dalam upaya revitalisasi lembaga tersebut. Ia ditugaskan untuk melakukan transformasi menyeluruh dalam tata kelola organisasi serta meningkatkan efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah digulirkan pemerintah.
Trubus Rahardiansah, Guru Besar Universitas Trisakti, memberikan penilaian bahwa Sudaryono langsung menerima beban pekerjaan yang cukup signifikan. Tiga agenda prioritas yang harus segera ditangani meliputi penguatan sistem tata kelola kelembagaan, peningkatan mutu layanan MBG, serta penjaminan ketepatan sasaran penerima manfaat. Selain itu, terdapat satu poin strategis lainnya, yaitu membuka ruang partisipasi publik yang lebih luas dalam proses pengambilan kebijakan nasional.
Menurut Trubus, pergantian kepemimpinan yang terjadi secara cepat mencerminkan tingginya ekspektasi masyarakat terhadap BGN. Publik menginginkan lembaga tersebut segera melakukan reformasi kelembagaan secara nyata dan terukur. Dalam pandangan akademisi tersebut, isu tata kelola harus menempati posisi prioritas utama, termasuk penyelesaian berbagai masalah struktural yang telah lama mencuat ke permukaan publik.
Tantangan Tata Kelola dan Transparansi Anggaran
Sebagai pimpinan baru, Sudaryono tidak hanya bertanggung jawab menjaga kesinambungan program yang telah berjalan. Ia juga harus membereskan sejumlah persoalan yang selama ini menjadi sorotan media dan masyarakat, mulai dari dugaan korupsi hingga lemahnya sistem pengawasan internal. Besarnya anggaran yang dialokasikan untuk program MBG membuat tuntutan terhadap transparansi dan akuntabilitas menjadi semakin tinggi dan mendesak.
“Jadi tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan yang dulu. Misalnya pengadaan motor listrik yang belum selesai, masalah korupsi pengadaan sarung tangan, kaos kaki, macam-macam itulah. Termasuk SPBG yang bermasalah karena uangnya belum dibayar,” kata Trubus ketika dihubungi, Rabu (22/7).
Fokus pada Kualitas Layanan MBG
Selain aspek tata kelola, Trubus juga menekankan bahwa peningkatan kualitas MBG harus menjadi perhatian utama Sudaryono. Ia mengutip arahan presiden yang menyatakan bahwa pelaksanaan MBG kini lebih menitikberatkan pada mutu, bukan sekadar memperluas cakupan penerima manfaat secara kuantitatif.
Kualitas makanan yang diberikan sangat berkaitan erat dengan keselamatan para penerima manfaat. Karena itu, insiden keracunan yang pernah terjadi tidak boleh terulang kembali. Trubus menjelaskan bahwa kebijakan ke depan seharusnya lebih mengutamakan kualitas layanan daripada sekadar jumlah penerima.
“Nah, ini apakah nanti kebijakannya lebih baik dalam hal pelaksanaan MBG itu berkualitas? Seperti dikatakan Presiden, Presiden kan mengatakan sudah tidak lagi ke kuantitas tapi lebih ke kualitas layanannya,” ujarnya.
“Karena kualitas itu kaitannya dengan keracunan itu. Jangan sampai itu terulang kembali,” imbuh Trubus.
Memastikan Bantuan Tercapai ke Sasaran Tepat
Trubus juga menyoroti pentingnya memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai kepada kelompok yang membutuhkan dan berhak menerimanya. Sudaryono, sebagai Kepala BGN, dinilai perlu memberikan perhatian khusus terhadap wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang memiliki kebutuhan khusus.
Kondisi geografis serta keterbatasan infrastruktur di wilayah-wilayah 3T membuat penerapan MBG memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan daerah lainnya. Hal ini menjadi salah satu tantangan tambahan yang harus diatasi oleh kepemimpinan baru BGN. (H-4)

