Badan Bahasa Tingkatkan Literasi untuk 700 Siswa SD-SMA di NTT
Meeting Results – Hasil Rapat: Pada acara peringatan Hari Buku Nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur, hasil rapat yang dihadiri oleh Hafidz Muksin, kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan literasi generasi muda. “Rapat kali ini fokus pada peningkatan literasi untuk 700 siswa SD-SMA yang terlibat dalam kegiatan,” jelas Hafidz saat wawancara dengan Media Indonesia, Rabu (27/5). Ia menekankan bahwa program ini dirancang untuk memastikan kemampuan membaca dan menulis siswa sesuai dengan tahap perkembangan pendidikan mereka.
“Salah satu tantangan utama dalam literasi adalah memastikan materi yang diberikan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Kami menyediakan metode yang berbeda untuk SD, SMP, dan SMA,” ujar Hafidz, yang mengungkapkan strategi adaptif dalam penguatan literasi. Siswa SD diberi kesempatan menyampaikan opini tentang cerita, sedangkan siswa SMP diberikan pelatihan membaca cepat. Bagi siswa SMA, program ini melibatkan pelatihan membaca kritis yang berfokus pada analisis dan pemahaman mendalam terhadap teks.
Hasil rapat ini juga menyoroti peran Badan Bahasa dalam mendistribusikan sumber daya pendidikan. Dalam tahun ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Badan Bahasa menyalurkan 200 eksemplar buku ke lebih dari 1.000 sekolah dasar di NTT. “Pada 2026, NTT akan menjadi wilayah prioritas dengan distribusi buku ke seribu lebih SD. Setiap sekolah menerima 200 buku,” tambah Hafidz, yang menyoroti langkah-langkah strategis untuk memperluas akses literasi. Selain buku fisik, Badan Bahasa juga menyalurkan 5.400 buku bacaan berkualitas ke bunda literasi NTT, yang akan menyebarluaskan ke seluruh sekolah.
Hasil rapat menunjukkan bahwa penguatan literasi bukan hanya sekadar distribusi bahan bacaan, tetapi juga terkait dengan pengembangan metode pembelajaran. Dalam rangkaian kegiatan, hard disk eksternal simbolis berisi 1.400 judul buku digital juga diberikan kepada bunda literasi NTT. Flashdisk ini akan diperbanyak dan dibagikan ke bunda literasi kabupaten/kota, memperkaya akses ke sumber daya digital. Selain itu, hasil rapat menyebutkan bahwa program ini menyasar kegiatan lain seperti pelatihan untuk guru dan kepala sekolah guna meningkatkan kualitas pembelajaran di lapangan.
Pelatihan Guru sebagai Pilar Literasi
Hasil rapat juga menekankan pentingnya pelatihan guru sebagai bagian dari penguatan literasi. Wakil Direktur INOVASI Bidang Pengembangan Ekosistem Pendidikan dan Manajemen Subnasional, Handoko Widagdo, menjelaskan bahwa program INOVASI kini memasuki fase ketiga. “Fase pertama fokus pada Literasi Kelas Awal dan Numerasi Kelas Awal, dengan pelatihan guru dan kepala sekolah,” katanya, menambahkan bahwa distribusi buku non-teks juga menjadi bagian penting dalam fase tersebut. Fase kedua dilakukan untuk mendukung kurikulum darurat selama pandemi, dengan melatih guru di Nagekeo menggunakan materi lokal sebagai bahan ajar.
Hasil rapat menegaskan bahwa Badan Bahasa bersama INOVASI akan terus mendukung NTT hingga 2027. Program ini mencakup kegiatan di Kabupaten Sumba Barat, Nagekeo, Timor Tengah Utara, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, dan Ende. “Masyarakat lokal dan guru menjadi mitra kunci dalam menjaga konsistensi program literasi,” papar Handoko, yang menyoroti bahwa pembagian buku bacaan dilakukan secara bertahap untuk memastikan keberlanjutan. Hasil rapat ini juga menyoroti kebutuhan pengembangan kompetensi guru dalam mengadaptasi metode pembelajaran sesuai dengan kondisi daerah.
Hasil rapat menekankan bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat. Hafidz Muksin menekankan bahwa program ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif. “Kami ingin memastikan bahwa literasi menjadi bagian dari budaya masyarakat NTT,” ujarnya, menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan partisipasi siswa dan melibatkan masyarakat dalam proses belajar. Dengan menggabungkan teknologi dan pendekatan lokal, Badan Bahasa berupaya memperkuat literasi sebagai kompetensi utama dalam pendidikan nasional.
