Skip to content
Beritabaru1
fe1b8844-d830-4785-aa70-48971fa106fc-0
  • Home
  • News
  • Sepak Bola
  • Teknologi
  • Internasional
  • Humaniora
  • Politik Dan Hukum
  • Nusantara
  • Hiburan
  • Opini
  • Travelista
  • Ekonomi
  • Megapolitan
  • Kolom Pakar
  • Jelita
  • Olahraga
  • Haji
  • Otomotif
  • Jabar
  • Piala Dunia 2026
  • Kuliner
  • Kesehatan
  • Forum Mahasiswa
  • Fashion
  • Sela
  1. Home
  2. Humaniora
  3. Pakar Larang Penggunaan Parasetamol untuk Tanaman – Ini Risikonya
Humaniora

Pakar Larang Penggunaan Parasetamol untuk Tanaman – Ini Risikonya

Mark Jones - beritabaru1.com Reporter Senin, 20 Juli 2026 pukul 09:53 WIB 3 min read
0 Views 0 Komentar
Share:
5d2ba392-aaba-4fcc-a96b-98c497596c15-0
Foto : Mark Jones - beritabaru1.com

Pakar Larang Penggunaan Parasetamol untuk Tanaman – Ini Risikonya

Beritabaru1.com – Di tengah semakin berkembangnya kebutuhan pertanian modern, penggunaan parasetamol sebagai bahan penunjang pertumbuhan tanaman kini menjadi perdebatan. Meski sebagian masyarakat percaya bahwa obat nyeri yang sering digunakan manusia ini dapat meningkatkan kesehatan tanaman, para ahli seperti Dr. Efi Toding Tondok, Penanggung Jawab Klinik Tanaman di Fakultas Pertanian IPB University, menyarankan agar penggunaannya dihindari. “Pakar Larang Penggunaan Parasetamol untuk Tanaman karena manfaatnya belum terbukti secara ilmiah,” tegasnya dalam penelusuran terbaru. Dalam konteks pertanian, parasetamol sering dianggap sebagai alternatif murah untuk pupuk atau bahan pengontrol pertumbuhan, tetapi fakta bahwa bahan ini diproduksi khusus untuk tubuh manusia justru memberikan pertanyaan besar tentang efektivitas dan keamanannya bagi tumbuhan.

Fenomena Penggunaan Parasetamol pada Tanaman

Beberapa tahun terakhir, tren penggunaan parasetamol di dunia pertanian semakin populer, terutama di kalangan petani kecil dan penghobi tanaman hias. Penggunaan ini dianggap sebagai cara efektif untuk “menyembuhkan” tanaman yang terkena penyakit, seperti penyakit layu atau busuk akar. Namun, menurut Dr. Efi, bahan kimia ini tidak dirancang untuk berinteraksi langsung dengan sistem biologis tanaman. “Parasetamol bekerja melalui mekanisme antiinflamasi dan analgesik pada manusia, tetapi di tanaman, efeknya justru bisa berbeda dan tidak terprediksi,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa tidak ada bukti ilmiah yang kuat mendukung manfaat parasetamol dalam meningkatkan pertumbuhan atau kekuatan sistem imun tanaman.

Sebagian besar informasi tentang penggunaan parasetamol pada tanaman berasal dari pengalaman empiris. Misalnya, ada laporan bahwa petani mencampurkan parasetamol ke dalam air siraman untuk mengatasi gejala kekeringan atau serangan hama. Namun, Dr. Efi menegaskan bahwa konsentrasi dan dosis yang diberikan kepada tanaman jauh lebih rendah dari dosis obat manusia, sehingga efeknya bisa bersifat kumulatif dan berpotensi merusak tanaman secara perlahan. “Kita tidak tahu bagaimana parasetamol akan bereaksi dengan akar, daun, atau sistem nutrisi tanaman dalam jangka panjang,” tambahnya.

Risiko Jangka Panjang Penggunaan Parasetamol

Dalam jangka waktu yang lebih lama, penggunaan parasetamol pada tanaman bisa membawa dampak signifikan. Salah satu risiko utamanya adalah pengurangan keanekaragaman hayati di sekitar lahan pertanian. “Parasetamol dapat menyebabkan kematian mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah, seperti bakteri pembusukan bahan organik atau jamur pengurai,” kata Dr. Efi. Mikroorganisme ini berperan penting dalam siklus nutrisi tanah, dan bila terganggu, pertumbuhan tanaman akan terhambat. Selain itu, penggunaan parasetamol secara berulang bisa memicu resistensi patogen, sehingga mempercepat munculnya strain jamur atau bakteri yang sulit diatasi oleh pupuk alami.

Menurut penelitian di bidang agronomi, parasetamol tidak efektif dalam meningkatkan kadar air tanah atau mengatur pertumbuhan akar tanaman. “Pakar Larang Penggunaan Parasetamol untuk Tanaman karena bahan ini hanya efektif saat digunakan dalam dosis tertentu yang ditujukan untuk manusia, bukan untuk lingkungan tumbuhan,” paparnya. Risiko terbesar terjadi pada tanaman seperti cabai, tomat, dan bawang, yang rentan terhadap perubahan kimia di tanah. Parasetamol bisa mengikat nutrisi tertentu, mengganggu proses fotosintesis, atau memicu perubahan pH tanah yang tidak sehat. “Penggunaan ini bisa berujung pada ketergantungan tanaman pada bahan kimia dan menurunkan kualitas hasil panen,” jelas Dr. Efi.

Sebagai solusi, para pakar menyarankan penggunaan pupuk alami yang lebih sesuai dengan kebutuhan tumbuhan. “Pakar Larang Penggunaan Parasetamol untuk Tanaman karena pupuk kandang, kompos, atau pupuk organik lebih ramah lingkungan dan aman,” kata Dr. Efi. Bahan-bahan ini memperkaya kandungan nutrisi tanah secara alami, serta tidak menyebabkan kerusakan sistem biologis tanaman. Dalam konteks ekonomi, parasetamol juga dianggap lebih mahal dibandingkan alternatif lain, sehingga tidak efektif untuk skala pertanian yang luas. “Pupuk alami lebih murah, lebih mudah diperoleh, dan bisa digunakan secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Dengan memahami risiko penggunaan parasetamol pada tanaman, para petani dan penghobi tumbuhan perlu lebih selektif dalam memilih bahan penunjang. Penerapan bahan kimia seperti parasetamol seharusnya didasari penelitian yang memadai dan pengujian di lapangan. “Pakar Larang Penggunaan Parasetamol untuk Tanaman karena tujuan penggunaannya bisa menyimpang dari kebutuhan tumbuhan itu sendiri,” tutup Dr. Efi. Pemahaman yang lebih dalam tentang interaksi bahan kimia dengan lingkungan tumbuhan akan membantu mengurangi dampak negatif dan meningkatkan kualitas pertanian secara keseluruhan.

Bagikan:

Berita Terkait

1785938661_e83bd536096d6601b7d1

Perluas Ekosistem dan Layanan Kesehatan untuk Masyarakat

5 Agu 2026
1785938891_8ab2d80520fe9e173d5d

Pengelolaan Sampah Berbasis Warga Diperkuat, Limbah Organik Disulap Jadi Peluang Usaha

5 Agu 2026
6ca9ed4f-3497-47ae-b15c-f8f81c36ba6b-0

8 Arti Mimpi Marah-marah di Jalan, Pertanda Ingin Didengar

3 Agu 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

Berita Terbaru

1785938626_1c04a77b0955634707fc

Rehat 48 Jam Piala Presiden 2026, Panitia: Kami Paham Kondisi Fisik Para Pemain!

18 thetic yang lalu
1785938462_6caae4c57b53891c198e

Pengamat Minta Masyarakat Jangan Terpancing Konten Demo Agustus

56 thetic yang lalu
1785938750_1f6d0ac7f79022978937

Industri Taman Rekreasi Gerakkan Pertumbuhan Pariwisata

1 menit yang lalu
1785938661_e83bd536096d6601b7d1

Perluas Ekosistem dan Layanan Kesehatan untuk Masyarakat

2 menit yang lalu
1785938670_46a5b6db42413440ef6f

Korsel Dilanda Gelombang Panas, Liga Bisbol Profesional Korea Dibatalkan

2 menit yang lalu

Kategori

  • Ekonomi (470)
  • Fashion (5)
  • Forum Mahasiswa (2)
  • Haji (28)
  • Hiburan (272)
  • Humaniora (832)
  • Internasional (434)
  • Jabar (82)
  • Jelita (19)
  • Kesehatan (7)
  • Kolom Pakar (5)
  • Kuliner (20)
  • Megapolitan (169)
  • Nusantara (582)
  • Olahraga (195)
  • Opini (73)
  • Otomotif (31)
  • Piala Dunia 2026 (264)
  • Politik Dan Hukum (254)
  • Sela (1)
  • Sepak Bola (490)
  • Teknologi (241)
  • Travelista (41)
  • Uncategorized (1)

About Us

Beritabaru1 menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.

Trending Post

  • Hello world!
  • Rehat 48 Jam Piala Presiden 2026, Panitia: Kami Paham Kondisi Fisik Para Pemain!
  • Preview Ligue 1 Rennes vs Paris FC, Ambisi Tuan Rumah di Roazhon Park
  • Misi Psyche NASA Abadikan Foto Langka Mars Berbentuk Bulan Sabit
  • Preview Ligue 1 PSG vs Brest, Misi Wajib Menang untuk Les Parisiens

Quick Links

  • Ekonomi
  • Fashion
  • Forum Mahasiswa
  • Haji
  • Hiburan
  • Humaniora
  • Internasional
  • Jabar
  • Jelita
  • Kesehatan

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • Contact Us

Copyright © 2026 beritabaru1.com. All rights reserved.