Pameran 1830 di TIM Sajikan Babad Diponegoro Lewat Seni dan Literasi
Beritabaru1.com – Perang Jawa kerap kali hanya dikenali sebagai pertempuran bersenjata biasa dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Namun, seberapa dalamkah pemahaman kita mengenai dinamika kehidupan, strategi militer, serta kisah kemanusiaan yang tersembunyi di balik peristiwa bersejarah tersebut? Untuk menjawab pertanyaan itu, Melissa Sunjaya, pendiri merek Tulisan, telah menyelenggarakan pameran seni bertajuk 1830: Wearing Our Stories di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Acara yang resmi dibuka pada hari Rabu, tanggal 5 Agustus ini, lahir dari kolaborasi erat antara Melissa dengan Prof. Peter Carey. Sang sejarawan asal Britania Raya ini dikenal luas sebagai biografer Pangeran Diponegoro. Melalui inisiatif ini, riset mendalam yang dilakukan terhadap naskah Babad Diponegoro berhasil ditransformasikan menjadi media wastra dan objek-objek penggunaan sehari-hari.
Pameran seni ini secara garis besar merekam ulang narasi sejarah Perang Jawa yang terjadi antara tahun 1825 hingga 1830. Periode tersebut merupakan titik balik penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Proyek yang telah berjalan sejak tahun 2017 ini bertujuan untuk menghadirkan kembali narasi sejarah yang selama ini kerap terabaikan oleh publik. Baca juga: Humaniora Indonesia
Jadi aku mulai tertarik untuk bagaimana menceritakan sesuatu yang udah banyak orang lupa gitu, atau mungkin belum dilihat 360 sudut pandangnya, ungkap Melissa.
Dalam sambutannya saat pembukaan, Melissa menjelaskan bahwa penggunaan media harian seperti busana dan tas memiliki tujuan strategis. Pendekatan ini ditujukan untuk mendekatkan literasi sejarah kepada masyarakat luas. Wastra jadi agen literasi itu tujuan kita, tegasnya. Melalui pendekatan ini, pengunjung tidak hanya melihat karya seni, tetapi juga merasakan kedalaman sejarah melalui benda-benda yang digunakan sehari-hari.
Tiga Area Utama dalam Pameran
Selama pameran berlangsung, pengunjung dapat menjelajahi berbagai bagian yang disajikan di area pameran. Berikut adalah rincian ketiga area utama tersebut:
Area Koleksi Wastra dan Objek Desain menampilkan ragam tas, busana, dan aksesori harian yang dirancang khusus dengan teknik cetak serigrafi. Setiap karya memuat ilustrasi dan pewarnaan khusus yang menceritakan fragmen Perang Jawa serta simbol-simbol sejarah 1830. Di area ini juga diputar tayangan animasi pendek mengenai figur Pangeran Diponegoro.
Area Instalasi Visual menampilkan karya instalasi kain gantung bercerita (storytelling banners) dan ilustrasi linier yang menceritakan kisah Babad Diponegoro. Karya-karya ini dirancang untuk mengajak pengunjung merasakan atmosfer masa lalu melalui visual yang memukau.
Area Riset dan Arsip Literasi menyajikan buku riset 1830, jurnal bahasa, lembaran manifesto seni, hingga arsip metodologi yang disusun bersama sejarawan Prof. Peter Carey mengenai naskah Babad Diponegoro yang diakui UNESCO sebagai Memory of the World.
Pengalaman membawa karya 1830 ke panggung internasional, seperti Dutch Design Week pada Oktober 2025 lalu, turut melatarbelakangi penyajian pameran ini. Berhadapan dengan masyarakat Eropa yang kerap memandang masa kolonialisme sebagai isu sensitif, Melissa memilih untuk tidak saling menyalahkan. Baginya, narasi masa lalu seharusnya dipahami bersama tanpa rasa canggung agar bisa menjadi jembatan pembelajaran lintas generasi.
Ini kita mesti cerita, kita mesti bisa membuka dialog untuk cerita ini menjadi cerita bersama, karena cerita Indonesia itu mesti bisa jadi cerita dunia. Sebaliknya juga cerita dari Belanda itu mesti bisa kita nikmati juga, gimana caranya itu bisa jadi sebuah jembatan di mana kita enggak salah-salahan, tegas Melissa.
Bagi pengunjung yang ingin datang ke pameran ini, berikut rincian informasi lengkapnya:
Informasi Praktis Kunjungan
Pameran 1830 di TIM Sajikan Babad berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pengunjung dapat menikmati berbagai karya seni dan literatur yang disajikan dengan penuh makna. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan tiket, pengunjung disarankan untuk mengunjungi situs resmi TIM atau menghubungi panitia penyelenggara.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pameran 1830
1. Kapan Pameran 1830 di TIM Sajikan Babad dimulai? Pameran resmi dibuka pada hari Rabu, tanggal 5 Agustus, dan berlangsung selama beberapa minggu ke depan.
2. Siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan pameran ini? Pameran ini diselenggarakan oleh Melissa Sunjaya, pendiri merek Tulisan, dengan kolaborasi Prof. Peter Carey sebagai sejarawan dan biografer Pangeran Diponegoro.
3. Apa yang membuat Pameran 1830 di TIM Sajikan Babad berbeda dari pameran lainnya? Pameran ini menggabungkan seni wastra dengan literasi sejarah, menghadirkan Babad Diponegoro melalui objek-objek penggunaan sehari-hari yang dapat dirasakan langsung oleh pengunjung.
4. Apakah Pameran 1830 di TIM Sajikan Babad cocok untuk anak-anak? Ya, pameran ini sangat cocok untuk semua usia karena menyajikan sejarah melalui visual yang menarik dan objek-objek yang familiar dalam kehidupan sehari-hari.
5. Bagaimana cara mendapatkan informasi terbaru tentang pameran? Pengunjung dapat mengikuti media sosial resmi TIM atau mengunjungi situs web mereka untuk mendapatkan pembaruan jadwal dan kegiatan terkait.
