Humaniora

Pemimpin harus Bisa Ciptakan Makna, bukan hanya Target

1786630800_96c015d9180a6626ba16
Foto : Emily Davis - beritabaru1.com
Daftar Isi
  1. Makna Lebih Penting dari Target: Refleksi dari IDLS 2026
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Makna Lebih Penting dari Target: Refleksi dari IDLS 2026

Beritabaru1.com – Di era yang didominasi oleh metrik, algoritma, dan indikator kinerja, para eksekutif kini menghadapi tantangan yang sering kali tak terlihat dalam laporan keuangan. Kelelahan mental dan krisis makna menjadi isu krusial yang dibahas dalam acara Indonesia Leadership Scale Up (IDLS) 2026. Fenomena di mana pencapaian target bisnis tidak selalu sejalan dengan kepuasan batin menjadi sorotan utama dalam diskusi tersebut.

Menjaga Integritas di Tengah Tekanan Angka

Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyoroti bagaimana tekanan untuk terus menghasilkan angka dapat mengikis sisi kemanusiaan para pemimpin. Menurutnya, peran seorang pemimpin tidak boleh terbatas hanya sebagai penghasil target, melainkan juga harus mampu menjaga integritas dan menemukan kembali makna dari kepemimpinan yang dijalankannya.

“Pemimpin sejati harus memastikan bahwa setiap pencapaian bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari tanggung jawab dan nilai luhur yang dipegang teguh. Jangan sampai kita mengejar target, tapi kehilangan jiwa,” tegas Arif.

Menurut Arif, transformasi organisasi tidak dapat diselesaikan hanya melalui perubahan strategi bisnis atau peningkatan insentif. Justru, hal tersebut perlu diawali dari kualitas pribadi dan ketahanan batin para pemimpinnya. Dalam kesempatan itu, ia juga membacakan Surat untuk Pemimpin yang mengajak para pemimpin melihat kembali hubungan antara kinerja, makna, dan manusia di dalam organisasi.

Fondasi Spiritual dalam Kepemimpinan Modern

Pandangan Arif sejalan dengan gagasan Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia, yang memperkenalkan buku terbarunya berjudul Spiritual Leadership. Ia menilai bahwa kepemimpinan spiritual tidak bertentangan dengan kebutuhan dunia bisnis, melainkan justru dapat menjadi fondasi untuk menjaga keberlanjutan organisasi.

“Target dan angka sangat penting memberi arah dan disiplin organisasi. Namun, kinerja yang berdaya tahan hanya lahir dari jiwa yang hidup. Spiritual Leadership hadir bukan menggantikan strategi bisnis, tetapi menjadi fondasi batin yang kokoh agar strategi dijalankan oleh manusia yang utuh, tangguh, dan bermakna,” ungkap Jamil.

Menurut Jamil, target memang dibutuhkan untuk memberikan arah, sedangkan ukuran kinerja diperlukan untuk menjaga disiplin. Namun, keberlanjutan kinerja pada akhirnya sangat ditentukan oleh kondisi batin pemimpin dan kemampuannya menggerakkan orang lain melalui nilai yang diyakini.

Kepemimpinan Berorientasi pada Manusia

Gagasan mengenai kepemimpinan yang berorientasi pada manusia juga disampaikan oleh Salman Subakat, Co-Founder ParagonCorp. Ia mengatakan bahwa keberhasilan membangun organisasi dalam skala besar perlu ditopang budaya kepemimpinan yang mampu menumbuhkan rasa peduli dan kebersamaan. Salah satu prinsip yang diterapkan adalah Spread Altruistic Love, yakni membangun kepedulian yang tulus di lingkungan kerja.

Menurut Salman, pendekatan tersebut dapat membantu menciptakan budaya organisasi yang suportif sehingga karyawan dapat berkembang bersama perusahaan. Hal ini sejalan dengan upaya para pemimpin untuk tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada proses dan manusia di baliknya.

Ketenangan Batin dan Pengurangan Micromanagement

Ira Puspadewi, Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry periode 2017-2024, berbagi perspektif mengenai pentingnya menjaga ketenangan batin ketika menghadapi tekanan dan krisis. Ia mengedepankan prinsip Surrender with Action, yaitu mengerahkan ikhtiar secara maksimal dalam menjalankan tanggung jawab profesional sekaligus menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Prinsip tersebut menjadi salah satu pegangan Ira ketika harus mengambil keputusan penting dalam situasi penuh tekanan.

Sementara itu, dari sisi pengelolaan tim, Grand Master Grounded Business Coach Fahmi menyoroti kecenderungan pemimpin melakukan micromanagement atau pengawasan berlebihan terhadap anggota tim. Menurutnya, pola tersebut justru dapat menguras energi pemimpin sekaligus menghambat kemandirian anggota organisasi. Karena itu, pemimpin perlu membangun ownership dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dari dalam diri setiap anggota tim.

“Ketika kita mampu menyalakan panggilan jiwa (Amplify Soul Calling) anggota tim, mereka akan bekerja dengan inisiatif dan tanggung jawab penuh. Tim akan bergerak mandiri tanpa harus dibayangi pengawasan yang justru melelahkan pemimpinnya,” jelas Fahmi.

Acara yang Menghimpun Para Pemimpin

Berbagai perspektif tersebut dibahas dalam perhelatan Indonesia Leadership Scale Up (IDLS) 2026 yang diselenggarakan Kubik Leadership. Acara yang berlangsung di Ballroom The Gade Tower, Jakarta Pusat, pada Minggu (9/8), tersebut diikuti lebih dari 600 CEO, pemilik bisnis, dan manajer dari berbagai industri. Direktur Kubik Leadership Atok R Aryanto turut memandu rangkaian diskusi yang membahas tantangan kepemimpinan serta kebutuhan membangun organisasi yang berkelanjutan.

Frequently Asked Questions

What is Pemimpin harus Bisa Ciptakan Makna bukan?

Pemimpin harus Bisa Ciptakan Makna bukan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pemimpin harus Bisa Ciptakan Makna bukan matter?

Pemimpin harus Bisa Ciptakan Makna bukan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment