Gangguan Bakteri Usus Akibat Penerbangan Jarak Jauh: Fenomena Gut Jet Lag
Beritabaru1.com – Setelah melakukan penerbangan antarkontinental, banyak penumpang mengalami kelelahan, gangguan tidur, hingga perut kembung. Selama ini, keluhan tersebut umumnya disalahkan pada ketidaksesuaian jam tidur. Namun, studi terkini mengungkap bahwa masalah ini tidak hanya berasal dari otak, melainkan juga dari triliunan bakteri yang menghuni saluran pencernaan kita.
Penelitian yang dilakukan oleh Wroclaw Medical University mengidentifikasi sebuah fenomena baru bernama gut jet lag. Kondisi ini terjadi ketika irama sirkadian tubuh manusia tidak lagi sinkron dengan ritme alami mikrobioma usus. Ketidakselarasan ini dipicu oleh perpindahan cepat melewati beberapa zona waktu sekaligus.
“Sistem pencernaan kita sangat sensitif terhadap perubahan ini karena seluruh poros usus-otak (gut-brain axis) bekerja sesuai dengan ritme sirkadian yang diatur secara ketat,” jelas Kacper Wisniewski, profesor kedokteran di Wroclaw Medical University yang juga merupakan salah satu penulis studi tersebut.
Menurut Wisniewski, ketika sinyal-sinyal biologis menjadi tidak selaras, komunikasi antara otak, sistem kekebalan tubuh, dan usus akan mengalami gangguan sementara. Disregulasi inilah yang memicu munculnya berbagai keluhan pada hari-hari awal setelah tiba di destinasi, mulai dari masalah pencernaan hingga penurunan drastis tingkat energi.
Dampak Terhadap Saluran Pencernaan
Perubahan mendadak pada jadwal makan dan siklus tidur dapat merusak integritas dinding usus. Selain itu, produksi asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids) juga ikut berkurang. Senyawa vital ini memiliki peran krusial dalam menjaga kerapatan dinding usus, menyediakan energi bagi sel-sel usus, serta memelihara fungsi otot saluran cerna.
Konsekuensinya, pelepasan enzim pencernaan dan pergerakan saluran cerna menjadi tidak teratur. Hal ini sering kali menyebabkan perut kembung, rasa begah, atau bahkan sembelit pada para traveler.
“Studi yang melibatkan pekerja shift dan personel maskapai penerbangan menunjukkan bahwa ‘hidup melawan kodrat alam’, melalui kerja shift dan pola makan yang tidak teratur, dapat memengaruhi mikrobioma kita secara signifikan,” kata Dagmara Beata Gawel-Dabrowska, pemimpin tim peneliti.
Langkah Pencegahan
Untuk meminimalkan dampak gut jet lag, para peneliti memberikan beberapa rekomendasi. Penumpang disarankan untuk menyesuaikan jadwal makan dengan waktu siang hari di lokasi tujuan. Hindari makan saat tubuh sedang dalam fase tidur biologis, pastikan kebutuhan cairan terpenuhi, dan pertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen probiotik atau prebiotik sebelum memulai perjalanan.
(Earth/Z-2)

