Teheran Siap Teruskan Pertempuran Jika Perundingan Buntu
Beritabaru1.com – Pejabat militer Iran menegaskan bahwa mereka siap melanjutkan konflik dengan Amerika Serikat apabila proses negosiasi kembali macet. Meskipun terus mengalami serangan udara, kekuatan bersenjata Teheran diyakini telah beradaptasi dan pulih dari dampak tersebut. Sinyal positif dari Washington mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan terkait Selat Hormuz belum mengubah posisi keras Republik Islam. Dalam situasi tegang ini, Teheran menunjukkan keteguhan untuk tidak mundur dari posisinya.
Presiden AS Donald Trump pekan ini kembali menegaskan tuntutan agar Iran menerima kesepakatan baru atau siap menghadapi penyerahan tanpa syarat. Sementara itu, pembicaraan yang dimediasi Oman dan negara lain masih terus berlangsung untuk mengakhiri konflik antara AS-Israel melawan Iran. Justru di tengah upaya diplomasi tersebut, Teheran mengintensifkan penguatan kapasitas militernya. Langkah ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya bersikap defensif, tetapi juga aktif mempersiapkan diri untuk skenario terburuk.
Pemanfaatan Momen Gencatan Senjata
Mohammad Akraminia, juru bicara militer Iran, menjelaskan bahwa pihaknya memanfaatkan setiap kesempatan dari nota kesepahaman (MoU) yang saat ini ditangguhkan. Pernyataan tersebut disampaikan kepada televisi pemerintah:
“Kami telah memaksimalkan peluang dari MoU dan setiap momen gencatan senjata,” ujar Akraminia.
Menurutnya, militer tidak hanya memperbaiki sistem yang rusak, tetapi juga memproduksi peralatan baru serta mengintegrasikan drone generasi terbaru ke dalam pertempuran. Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan, Majid Ebn-e Reza, mengklaim bahwa produksi rudal dan drone tidak pernah berhenti bahkan satu hari pun. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Iran Siap Lanjutkan Perang Lawan AS jika negosiasi gagal.
Ketahanan Militer yang Signifikan
Laporan media Amerika Serikat pada Juni lalu menunjukkan bahwa Iran masih mempertahankan sekitar 70 persen stok rudal sebelum perang dan 40 persen arsenal drone mereka. Angka produksi drone dilaporkan melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi pra-konflik, meskipun detail pastinya belum diumumkan ke publik. Peningkatan kapasitas ini memberikan kepercayaan diri bagi Teheran dalam menghadapi eskalasi lebih lanjut.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga melaporkan peningkatan akurasi rudal berdasarkan pengalaman tempur di lapangan. Hossein Kanani Moghaddam, mantan komandan senior IRGC, menyatakan bahwa ribuan serangan gabungan AS dan Israel gagal menghancurkan infrastruktur militer Iran karena lokasinya yang tersebar di fasilitas bawah tanah. Strategi ini telah terbukti efektif dalam mengurangi kerugian infrastruktur strategis.
Ketegangan Regional Meluas
Ketegangan tidak hanya terjadi di medan perang langsung. Kelompok Houthi dari Yaman, sekutu Iran, baru-baru ini meluncurkan serangan drone ke Bandara Najran di Arab Saudi. Di Laut Merah, sebuah kapal kargo berbendera India dilaporkan tenggelam setelah dihantam perahu yang membawa bahan peledak. Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa konflik telah meluas ke berbagai titik strategis di kawasan.
Di Selat Hormuz, IRGC terus memperketat kontrol. Beberapa kapal tanker Irak diizinkan melintas melalui rute utara di perairan teritorial Iran setelah koordinasi dengan Teheran. Namun, Iran memperingatkan bahwa rute selatan di perairan Oman tidak dapat digunakan dengan aman selama kondisi perang berlangsung. Hal ini berdampak langsung pada jalur perdagangan internasional.
“Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali melalui serangan militer,” tegas Kanani Moghaddam.
Ia menambahkan bahwa serangan darat AS ke pulau-pulau di selatan hanya akan memicu biaya tinggi bagi Washington karena Iran dipastikan akan merebut kembali wilayah tersebut. Dengan demikian, Iran Siap Lanjutkan Perang Lawan AS jika negosiasi gagal, dan Teheran telah mempersiapkan segala kemungkinan dengan matang.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Situasi Iran dan AS
Apa yang akan terjadi jika negosiasi antara Iran dan AS gagal? Jika negosiasi gagal, Iran Siap Lanjutkan Perang Lawan AS dengan meningkatkan serangan militer dan memperketat kontrol di Selat Hormuz.
Berapa persen stok rudal yang masih dimiliki Iran? Menurut laporan media AS pada Juni, Iran mempertahankan sekitar 70 persen stok rudal sebelum perang dimulai.
Apakah produksi drone Iran terus berjalan? Ya, Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Majid Ebn-e Reza mengklaim produksi drone tidak pernah berhenti bahkan satu hari pun.
Bagaimana posisi Iran terkait Selat Hormuz? Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali melalui serangan militer dan akan mempertahankan kontrol ketat di perairan tersebut.
Siapa yang memediasi pembicaraan antara Iran dan AS? Oman dan beberapa negara lain berperan sebagai mediator dalam pembicaraan untuk mengakhiri konflik antara AS-Israel melawan Iran.
