Prosesi Pemulangan Jenazah 4 Prajurit AS di Dover: Tangis dan Duka
Beritabaru1.com – Di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, berlangsung upacara pemulangan jenazah empat anggota militer Amerika Serikat yang gugur dalam konflik dengan Iran. Suasana hening menyelimuti momen tersebut, di mana keluarga para korban hadir bersama Presiden Donald Trump untuk menyaksikan prosesi bersejarah ini.
Pemindahan empat peti jenazah yang dilapisi bendera Amerika Serikat dari pesawat kargo militer memakan waktu hampir dua puluh menit. Di tengah kesunyian, terdengar tangisan histeris dari salah satu anggota keluarga yang hadir, menambah kedalaman duka yang terasa.
Identitas Para Prajurit yang Gugur
Empat prajurit yang tewas di wilayah Yordania dan Irak tersebut memiliki identitas sebagai berikut: Letnan Satu Tyler James Feehan, Sersan Staf Michael Emmanuel Swinton, Sersan Angel S. Rampersad, serta Prajurit Dua Isabella Gonzales. Mereka berusia antara sembilan belas hingga dua puluh lima tahun dan berasal dari berbagai penjuru Amerika Serikat, mulai dari Hawaii, Carolina Utara, New York, hingga Texas.
Ungkapan Presiden Trump
Sebelum pesawat Air Force One lepas landas menuju Dover, Trump menyampaikan betapa beratnya menghadiri ritual pemulangan jenazah ini. Ia menyatakan:
“Bagi saya, ini salah satu hal tersulit yang harus dilakukan sebagai seorang presiden, tetapi harus dilakukan.”
Saat berbicara di sebuah acara di Marietta, Georgia, Trump kembali mengungkapkan perasaannya. Ia menambahkan:
“Berdiri di sana menyaksikan pemandangan ini sangat, sangat sulit untuk disaksikan. Jujur saja, sangat sulit. Saya pikir ini adalah hal tersulit yang saya lakukan. Dari semua hal yang saya kerjakan, saya pikir ini hal paling berat.”
“Dover Test” dan Respons Publik
Di tengah kepulangan para prajurit, Trump mengklaim bahwa konflik yang telah berlangsung lebih dari empat bulan ini tetap memenuhi apa yang disebut sebagai “Dover Test”. Evaluasi tidak resmi tersebut digunakan untuk menilai apakah dampak suatu perang sepadan bagi rakyat Amerika. Trump menegaskan bahwa rakyat Amerika tidak menolak perang, meskipun mereka tidak menginginkan harga bensin yang tinggi.
Namun, jajak pendapat Washington Post minggu lalu menunjukkan hasil yang berbeda. Sebanyak enam puluh delapan persen warga Amerika menilai perang dengan Iran tidak sepadan untuk diperjuangkan, sementara hanya dua puluh delapan persen yang mendukung. Angka ketidaksetujuan ini lebih tinggi dibandingkan dengan dukungan pada perang Irak maupun Afganistan.
Kesimpulan
Di sisi lain, Trump menegaskan akan membalas kematian para prajurit tersebut dan menyatakan bahwa Iran harus membayar harga yang mahal. Kendati laporan internal militer dan saran pejabat Departemen Pertahanan mengingatkan tingginya risiko eskalasi, serangan udara AS terhadap posisi-posisi Iran sejauh ini masih terus berlanjut. (CNN/Z-2)

