Kecanduan Scrolling dan Olahraga untuk Otak Sehat
Beritabaru1.com – Facing Challenges, kebiasaan scrolling di media sosial yang terlalu lama justru mengancam kesehatan otak generasi muda. Menurut penelitian, aktivitas ini dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif dan meningkatkan risiko masalah psikologis. Namun, Dosen Fisiologi FK-KKM UGM Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro menekankan bahwa olahraga rutin bisa menjadi solusi efektif untuk mengatasi efek negatif dari kecanduan scrolling.
“Olahraga tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga membantu otak beradaptasi dengan perubahan posisi tubuh dan memperbaiki aliran oksigen,” kata Zaenal, Kamis (16/7).
Dalam konteks modern, banyak orang cenderung duduk terlalu lama karena terpaku pada layar ponsel atau laptop. Menurut Zaenal, ini berisiko mengganggu aliran darah ke otak hingga 60 persen, terutama ketika bangun tidur langsung berdiri. Untuk mencegah hal ini, ia menyarankan perlahan memulai aktivitas dengan mengubah posisi tubuh, seperti duduk atau berbaring, sebelum bergerak aktif. Proses ini membantu tubuh menyesuaikan diri, sehingga fungsi otak tetap optimal.
Pelatihan Posisi Tubuh: Orthostatic Test
Orthostatic test adalah metode yang digunakan untuk menilai kemampuan tubuh beradaptasi dengan perubahan posisi, seperti dari berbaring ke berdiri. Zaenal menjelaskan bahwa sistem jantung, paru-paru, dan sirkulasi menjadi penentu utama dalam proses ini. “Jika otak menerima oksigen cukup, maka kinerjanya akan lebih baik. Namun, jika terjadi gangguan pada sistem dasar, otak pun akan mengalami masalah,” tegasnya. Teknik ini bisa diterapkan setiap hari untuk meningkatkan kesehatan otak secara bertahap.
Menurut Zaenal, kunci utama dalam mengatasi kecanduan scrolling adalah menggabungkan olahraga dengan aktivitas sehari-hari. Contohnya, seorang individu yang sedang menunggu bis bike atau bus bisa melakukan peregangan ringan, seperti mengulurkan tangan atau berjalan kaki. Selain itu, olahraga juga memperkuat neuroplasticity, yaitu kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru, yang sangat penting untuk menghadapi tantangan di era digital.
Manfaat Olahraga pada Otak: Dari Neurotransmiter hingga Kinerja
Menurut Zaenal, olahraga memiliki dampak langsung pada produksi neurotransmiter, seperti serotonin dan dopamin, yang memengaruhi suasana hati dan fokus. Selain itu, aktivitas fisik bisa meningkatkan aliran darah ke otak, membantu mengurangi risiko demensia dan Alzheimer. “Olahraga adalah bagian dari terapi kesehatan berdasarkan konsep Exercise is Medicine. Kombinasi jenis, dosis, dan intensitas yang tepat bisa mengoptimalkan fungsi otak,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa olahraga aerobik, seperti berenang atau bersepeda, lebih baik untuk meningkatkan kognisi dibandingkan olahraga statis. Hal ini karena aliran darah yang terjaga lebih baik selama aktivitas dinamis. Menurut penelitiannya, masyarakat perlu mengatur waktu berolahraga dengan menghindari aktivitas berat setelah makan, agar tidak menyebabkan kram atau gangguan sirkulasi.
Menurut Zaenal, mengatasi kecanduan scrolling melalui olahraga bisa menjadi strategi yang cerdas dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan membangun kebiasaan sehat, tubuh dan otak akan lebih siap menghadapi tekanan di lingkungan digital. Ia menyarankan menggabungkan gerak ritmis dengan otot besar, seperti lari atau jalan kaki, selama minimal 30 menit setiap hari. Dengan cara ini, otak tidak hanya terjaga, tetapi juga terus berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan.

