Bontang Dorong Talenta Muda Perfilman Melalui Workshop Film Pendek
Acara Diskusi Kreatif di Gedung Mini Teater Dinas Perpustakaan
Key Discussion – Pada Senin (18/5), Kota Bontang mengadakan workshop pembuatan film pendek yang bertujuan menggali potensi kreativitas generasi muda dalam dunia perfilman. Acara ini digelar di Gedung Mini Teater Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Bontang, Jalan HM Ardans. Dalam sambutannya, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menggarisbawahi pentingnya media film sebagai alat promosi budaya lokal. “Dengan film, kita bisa menyampaikan identitas daerah secara lebih dinamis dan menarik,” jelasnya.
Kemitraan dengan Eksperimen Budaya Global
Key Discussion – Neni Moerniaeni menyoroti analogi antara keberhasilan Korea Selatan melalui K-Wave dengan potensi Kota Bontang dalam membangun narasi kota berbasis cerita lokal. Ia menjelaskan bahwa K-Wave mampu memperkukuh imej budaya Korea di dunia internasional melalui karya-karya yang terinspirasi dari akar budaya setempat. “Film dan drama Korea memberi contoh bagaimana budaya daerah bisa menjadi pintu masuk untuk mengakses dunia global,” tambahnya.
“Dengan mengangkat keunikan Bontang dalam film, kita bisa membangun kesadaran masyarakat akan nilai-nilai lokal,” ujarnya.
Key Discussion – Workshop ini dirancang untuk melibatkan para pelajar SMA dan SMK se-Kota Bontang. Peserta diberi kesempatan belajar teknik pengambilan gambar, penyuntingan, serta penyampaian narasi secara efektif. Neni berharap kegiatan ini tidak hanya mengasah keterampilan tetapi juga mendorong kreativitas yang bisa berkembang menjadi industri lokal. “Filmmaker muda harus mengerti bahwa konten dari daerah bisa menjadi daya tarik utama,” lanjutnya.
Warisan Budaya dan Mitos Lokal sebagai Sumber Inspirasi
Key Discussion – Dalam sambutan, Neni Moerniaeni menekankan bahwa Kota Bontang memiliki banyak cerita unik yang bisa dijadikan bahan film. Contohnya, mitos kuyang di Kalimantan, hantu sundel bolong, atau tokoh wewe gombel yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. “Setiap daerah memiliki warisan budaya yang khas, dan Bontang tidak kalah menariknya,” imbuhnya.
Key Discussion – Pelajar yang hadir diberi tugas untuk menggali cerita dari lingkungan sekitar, termasuk budaya, tradisi, dan sejarah Kota Bontang. Neni menyebutkan bahwa hasil karya mereka bisa menjadi representasi baru tentang identitas daerah. “Film pendek ini bisa mengangkat isu lokal, sekaligus menjadi alat komunikasi yang lebih menarik,” jelasnya.
Strategi Membangun Industri Perfilman Lokal
Key Discussion – Selain mengajarkan teknik, workshop ini juga bertujuan membangun jejaring antara pelajar dengan industri perfilman. Neni Moerniaeni menegaskan bahwa Kota Bontang ingin menjadi pusat kreativitas baru di Kalimantan. “Dengan mengasah bakat muda, kita bisa menciptakan industri yang mampu bersaing di tingkat nasional,” katanya.
Key Discussion – Pemkot Bontang berharap kegiatan seperti ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi kreatif. Dengan keterlibatan pemuda, film pendek bisa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, baik melalui penjualan tiket, iklan, maupun kompetisi nasional. “Kota Bontang punya potensi besar untuk menampilkan karya yang berbeda dari yang lain,” lanjut Neni.
Key Discussion – Workshop ini juga dihadiri oleh sejumlah narasumber dari komunitas perfilman lokal dan nasional. Mereka berbagi pengalaman dalam menggarap kisah lokal menjadi narasi yang menyentuh. “Film pendek bukan hanya untuk hiburan, tapi juga untuk menyampaikan pesan sosial,” kata salah satu peserta.
