Perbankan Syariah Dorong Pengembangan UMKM Industri Halal
Latest Program – Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) kembali menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah melalui program terbaru yang menargetkan pengembangan UMKM. Inisiatif ini fokus pada produksi perlengkapan haji, seperti mukena, kain ihram, batik haji, dan tas serut, yang dihasilkan oleh pengrajin lokal di Pekalongan, Jawa Tengah, serta Bandung, Jawa Barat (Jabar). Dengan pendekatan berbasis komunitas, BSI berharap mengangkat daya saing produk halal Indonesia di pasar internasional.
Kemitraan untuk Meningkatkan Kapasitas UMKM
Kemitraan antara BSI dengan UMKM bukan hanya sekadar kolaborasi, tetapi juga bentuk pemberdayaan bersama yang menekankan keberlanjutan. Dalam program ini, 37 UMKM telah dipilih melalui proses seleksi yang ketat, termasuk persyaratan kualifikasi produksi dan sertifikasi halal. Tujuan utama adalah memastikan kualitas produk memenuhi standar internasional, sekaligus membuka akses baru ke pasar global.
Kemas Erwan Husainy, Direktur Retail Banking BSI, menjelaskan bahwa keterlibatan UMKM dalam industri haji membawa dampak ganda. “Selain memenuhi kebutuhan jemaah, program ini juga menjadi wadah untuk membangun ekonomi syariah yang inklusif,” katanya dalam wawancara Selasa (19/5). Ia menegaskan bahwa BSI tidak hanya menjadi penggerak keuangan, tetapi juga pelaku pengembangan kompetensi bisnis para pengusaha kecil dan menengah.
Inovasi Ekonomi Syariah dalam Pemasaran Global
Program terbaru BSI mencakup berbagai inisiatif pemasaran global, termasuk promosi produk halal melalui media sosial dan partisipasi dalam pameran internasional. Dengan adanya fasilitas pembiayaan ritel dan pendampingan sertifikasi, UMKM diharapkan bisa mengembangkan brand mereka secara mandiri. Kemas menyebutkan bahwa peningkatan eksposur produk budaya Indonesia menjadi tujuan utama dari kolaborasi ini.
Salah satu UMKM yang terlibat dalam program ini, Ahmat Failasuf, mengungkapkan kebanggaan atas kepercayaan BSI untuk memproduksi batik haji. “Batik Indonesia menjadi simbol identitas bangsa, dan keikutsertaan kami dalam program ini membantu memperkuat eksposur budaya di Tanah Suci,” katanya. Dengan dukungan BSI, produsen lokal bisa meningkatkan kapasitas produksi serta memenuhi standar ekspor.
Program terbaru BSI juga memprioritaskan keberlanjutan lingkungan melalui penggunaan bahan baku daur ulang dan metode produksi ramah lingkungan. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menyukseskan pengembangan industri halal berkelanjutan. Dukungan dari BSI diharapkan mendorong UMKM menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih luas dan terpadu.
Langkah Nyata Meningkatkan Akses Pasar
Dalam rangka memperkuat akses pasar, BSI menggandeng lembaga ekspor dan importir untuk membantu UMKM menjangkau konsumen internasional. “Kami memberikan pelatihan manajemen produksi dan pengemasan untuk meningkatkan daya saing produk,” tambah Kemas. Selain itu, BSI juga menyediakan layanan finansial khusus, seperti pembiayaan berbasis syariah, guna mendukung skala usaha para pengrajin.
Program terbaru ini mencakup sekitar 104 ribu mukena, 85 ribu kain ihram, dan 190 ribu potong batik yang diproduksi oleh UMKM. Kuantitas tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan 169 ribu jemaah haji yang telah melakukan pembayaran melalui BSI. Selain itu, 600 kursi roda juga disiapkan untuk memberikan kenyamanan bagi jamaah lanjut usia dan berkebutuhan khusus selama proses haji.
Penyediaan produk terbaru BSI menjadi bukti bahwa perbankan syariah tidak hanya fokus pada layanan keuangan, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam pemberdayaan ekonomi lokal. Kolaborasi ini memberikan ruang bagi UMKM untuk mengakses teknologi dan infrastruktur yang lebih modern, serta memperluas jaringan pemasarannya. Dengan adanya program terbaru, BSI berupaya memastikan UMKM menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
