Nusantara

Kopi Kerinci Go Global: Dari Petani, Perempuan, Lingkungan hingga Gen Z

1786620600_195e6e762c0b99b8ef71
Foto : Michael Jones - beritabaru1.com
Daftar Isi
  1. Kopi Kerinci Menuju Pasar Global: Melampaui Kualitas Rasa
  2. Related Reading

Kopi Kerinci Menuju Pasar Global: Melampaui Kualitas Rasa

Beritabaru1.com – Kopi Kerinci Go Global kini menjadi sorotan penting dalam industri kopi dunia. Membawa kopi specialty Kerinci ke kancah internasional menuntut lebih dari sekadar cita rasa yang unggul. Di balik setiap cangkir yang dinikmati, tersimpan rangkaian tantangan kompleks mulai dari kesejahteraan petani, kelestarian alam, pemberdayaan perempuan, hingga adaptasi teknologi dan regulasi perdagangan. Isu-isu ini menjadi sorotan utama dalam Seminar Internasional “Petani Kopi Go Global” edisi ke-10 yang diselenggarakan oleh Koperasi Produsen Petani Alam Korintji Internasional (ALKO) pada Kamis, 13 Agustus.

Kegiatan hybrid ini menghadirkan dua tema besar, yakni “Positioning of Indonesian Kerinci Specialty Coffee in the World Trade II” serta “The Opportunities of Gen Z’s Lifestyle Shifts in Influencing the Global Economic Order” dengan penekanan pada agroforestri dan pemberdayaan perempuan. Peserta yang hadir mencakup petani, pelaku bisnis, akademisi, komunitas, hingga penikmat kopi yang mengikuti secara daring maupun luring. Informasi lebih lanjut tentang kegiatan ini dapat diakses melalui portal berita lokal.

Perdebatan dan Gagasan dari Para Narasumber

Sejumlah ahli berbagi wawasan mengenai isu-isu krusial. Bagas Hasporo mengulas dampak kebijakan deforestasi Uni Eropa, sementara Katya Groska menyoroti peluang pasar Inggris bagi kopi Indonesia. Herlina membahas hilirisasi, Agung Wibowo mengangkat agroforestri dan peran perempuan, Prayono Atyanto menjelaskan diplomasi kopi, dan Asep Muhammad Awaludin membahas generasi Z serta teknologi.

Diskusi tidak hanya berhenti pada presentasi. Interaksi aktif dari peserta, termasuk mahasiswa bernama Tumino dan perwakilan komunitas, membawa pembahasan dari level global menuju realitas di kebun kopi. Agung Wibowo menekankan bahwa kopi bukan sekadar biji yang disangrai dan ditumbuk.

“Kopi itu hanya persoalan biji kopi disangrai, ditumbuk, diberi air, itu kopi. Tapi cerita di balik itu tidak kalah serunya,”

Menurut Agung, narasi kopi mencakup petani penghasil, lingkungan budidaya, perempuan dalam rantai produksi, hingga penerimaan konsumen dunia. Ia juga mempertanyakan apakah visi ALKO, “Preserves Nature and Empowers People”, hanyalah slogan atau benar-benar menjadi pedoman organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa Kopi Kerinci Go Global bukan hanya tentang ekspor, tetapi juga transformasi sosial di tingkat lokal.

Pemberdayaan Perempuan dalam Ekosistem Kopi

Agung menyoroti kontribusi perempuan yang terlibat mulai dari penanaman, pemeliharaan, panen, pascapanen, hingga perdagangan dan manajemen. Namun, keterlibatan ini belum sebanding dengan kepemilikan dan pengambilan keputusan. Perempuan yang resmi memiliki atau mengelola usaha kopi masih berkisar antara 20 hingga 30 persen.

Untuk memperluas ruang partisipasi, ALKO membentuk kelompok-kelompok perempuan. Agung menjelaskan bahwa kelompok ini penting agar perempuan dapat menyampaikan gagasan secara lebih leluasa. Pada tahun 2026, ALKO telah mendirikan lima kelompok perempuan dengan masing-masing sekitar sepuluh anggota. Inisiatif ini sejalan dengan upaya Kopi Kerinci Go Global untuk menciptakan ekosistem yang inklusif.

Seorang mahasiswa S1 Budidaya Tanaman Perkebunan yang hadir memberikan tanggapan menarik. Ia mengaku dipersiapkan menjadi pengelola kebun, namun menyadari bahwa perempuan membutuhkan lebih dari keterampilan teknis produksi. Akses lahan, modal, teknologi, dan posisi dalam pengambilan keputusan juga sangat krusial.

Peserta tersebut mengajukan pertanyaan tentang bentuk pemberdayaan paling efektif untuk meningkatkan kepemilikan perempuan dari kisaran 20-30 persen menuju 50:50. Pertanyaan ini menggeser fokus diskusi dari sekadar jumlah pekerja perempuan menjadi persoalan mendasar mengenai kepemilikan aset, akses modal, penguasaan teknologi, dan otoritas keputusan.

Keterkaitan dengan Pelestarian Lingkungan

Pemberdayaan masyarakat dalam ekosistem kopi juga terkait erat dengan pelestarian alam. Agung memaparkan salah satu inisiatif sosial ALKO berupa program pembersihan jalur pendakian dengan konsep satu kilogram sampah ditukar dengan satu bungkus kopi bubuk. Selain mengumpulkan limbah, ALKO mendorong pemanfaatan sampah plastik menjadi produk bernilai guna seperti tas dan wadah.

Program ini tidak hanya membantu menjaga keindahan alam Kerinci, tetapi juga memberikan insentif ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, Kopi Kerinci Go Global menunjukkan komitmen holistik terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kopi Kerinci Go Global

Apa itu Kopi Kerinci Go Global? Kopi Kerinci Go Global adalah inisiatif untuk membawa kopi specialty Kerinci ke pasar internasional dengan memperhatikan aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Berapa persen perempuan yang memiliki atau mengelola usaha kopi di Kerinci? Perempuan yang resmi memiliki atau mengelola usaha kopi berkisar antara 20 hingga 30 persen.

Kapan seminar internasional ALKO edisi ke-10 diselenggarakan? Seminar internasional tersebut diselenggarakan pada Kamis, 13 Agustus.

Apa visi ALKO dalam konteks Kopi Kerinci Go Global? Visi ALKO adalah “Preserves Nature and Empowers People”, yang menekankan pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana ALKO mendukung pemberdayaan perempuan? ALKO membentuk kelompok-kelompok perempuan, dengan lima kelompok yang didirikan pada tahun 2026, masing-masing beranggotakan sekitar sepuluh orang.

Leave a Comment