Pemkot Bandung Apresiasi Kolaborasi RSHS dan RSAB Harapan Kita untuk Deteksi Dini Thalasemia
Beritabaru1.com – Upaya memperkuat deteksi dini dan pencegahan thalasemia mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Bandung. Inisiatif yang digagas Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung berkolaborasi dengan RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita ini dilaksanakan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bagi Penyandang Thalasemia dan Keluarga di Bandung pada Minggu (27/7).
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang telah dibangun kedua rumah sakit tersebut. Menurutnya, layanan yang dihasilkan tidak hanya berpusat pada pengobatan, namun juga mencakup aspek pencegahan serta peningkatan kualitas hidup pasien thalasemia.
Atas nama Pemkot Bandung, kami mengapresiasi inisiatif RSHS dan RSAB Harapan Kita yang terus menghadirkan inovasi dalam penanganan thalasemia. Upaya seperti ini sangat penting karena membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini dan pencegahan penyakit genetik.
Dukungan Lintas Sektor untuk Kesehatan Masyarakat
Menurut Farhan, pemerintah kota siap mendukung berbagai program yang mendorong peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui kolaborasi dengan rumah sakit, institusi pendidikan, dan pemerintah pusat. Pemkot Bandung juga mendukung setiap langkah yang memperkuat edukasi kesehatan, skrining, serta pendampingan bagi penyandang thalasemia dan keluarganya.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar layanan kesehatan semakin berkualitas dan mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Farhan juga menilai kehadiran RSHS sebagai rumah sakit rujukan nasional telah memberikan kontribusi besar terhadap pelayanan kesehatan di Kota Bandung dan Jawa Barat (Jabar). Kehadiran RSHS benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kami berharap sinergi yang telah terjalin dengan berbagai institusi kesehatan terus berkembang sehingga masyarakat memperoleh akses pelayanan yang semakin baik, termasuk dalam upaya pencegahan thalasemia.
Apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jabar
Sementara itu, Wakil Gubernur Jabar, Erwan Setiawan menyampaikan apresiasi kepada RSHS, RSAB Harapan Kita, Kementerian Kesehatan, serta seluruh tenaga kesehatan dan peneliti yang menggagas kegiatan tersebut. Thalasemia masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan kerja sama semua pihak.
Berdasarkan data yang disampaikan, prevalensi pembawa sifat thalasemia di Indonesia mencapai sekitar 3–10% dari populasi, dengan sekitar 40% penyandang berada di Jabar. Pemprov Jabar berkomitmen memperkuat upaya edukasi, deteksi dini, dan pendampingan sehingga angka kasus thalasemia dapat terus ditekan. Harapannya kualitas hidup para penyandang juga semakin baik.
Kontribusi RSHS dan RSAB Harapan Kita
Direktur Utama RSHS Bandung, Rachim Dinata Marsidi menerangkan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi bentuk nyata komitmen RSHS dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kolaborasi dengan RSAB Harapan Kita memperkuat upaya penelitian sekaligus edukasi kepada keluarga penyandang thalasemia agar memahami pentingnya deteksi dini dan skrining genetik.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama RSAB Harapan Kita, Reni Wigati, menyebut RSHS merupakan rumah sakit regional terbaik di Indonesia yang memiliki kontribusi besar terhadap pengembangan layanan kesehatan nasional. Saya menjadi saksi bahwa program nasional tidak akan mampu menjangkau masyarakat tanpa kerja keras rumah sakit-rumah sakit regional. Karena itu, kolaborasi dengan RSHS menjadi contoh nyata bagaimana penelitian dan pelayanan kesehatan dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Fokus Kegiatan dan Pencapaian
Ia menjelaskan, fokus utama kegiatan tahun ini adalah mengajak keluarga penyandang thalasemia untuk mengikuti skrining genetik sehingga masyarakat mengetahui status pembawa sifat (carrier) sejak dini dan dapat mengambil langkah pencegahan pada generasi berikutnya.
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Hari Anak Nasional 2026 sekaligus peringatan HUT ke-103 RSHS ini mempertemukan penyandang thalasemia, keluarga pasien, tenaga kesehatan, peneliti, akademisi, serta pemerintah untuk memperkuat edukasi, deteksi dini, dan pendampingan bagi penyandang penyakit kelainan darah bawaan tersebut. Dalam kegiatan tersebut dilakukan edukasi mengenai thalasemia, pemutaran video testimoni pasien, paparan hasil program, hingga pengambilan 90 sampel air liur sebagai bagian dari penelitian dan penguatan data.
Melalui kolaborasi antara rumah sakit, pemerintah, tenaga kesehatan, peneliti, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat upaya pencegahan thalasemia sekaligus meningkatkan kualitas hidup para penyandang dan keluarganya di Indonesia.

