Strategi KIA Indonesia dalam Adaptasi BBM B50
Beritabaru1.com – KIA Indonesia menegaskan bahwa strategi adaptasi mesin diesel mereka terhadap bahan bakar minyak (BBM) B50 sudah siap diimplementasikan. Dengan komposisi 35 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari kelapa sawit, 15 persen Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dan sisanya bahan bakar fosil, perusahaan otomotif asal Korea Selatan ini yakin mesin diesel mereka bisa beroperasi secara optimal meski mengandalkan campuran biodiesel. Harry Yanto, VP Operations PT Kia Sales Indonesia (KSI), menjelaskan bahwa kepastian teknis bahan bakar B50 sudah diuji secara menyeluruh sebelum diterapkan.
Proses Pengujian Mesin Diesel untuk BBM B50
Sebagai bagian dari strategi keberlanjutan, KIA Indonesia melakukan serangkaian pengujian jangka panjang pada mesin diesel mereka. Dalam kegiatan media drive All-New Seltos di Bogor, Sabtu (18/7/2026), Harry Yanto memastikan bahwa uji coba dilakukan pada berbagai kondisi lingkungan, termasuk suhu rendah sekitar 5 derajat Celsius. Tes ini bertujuan memastikan stabilitas karakteristik BBM B50 dan keamanannya dalam menghindari pembekuan di saluran bahan bakar. Proses pengujian mencakup kendaraan dengan jarak tempuh hingga 50.000 kilometer, menggarisbawahi komitmen KIA Indonesia untuk menghadapi perubahan regulasi bahan bakar secara hati-hati.
“Pengujian dilakukan secara komprehensif, termasuk uji performa pada suhu rendah sekitar 5 derajat Celsius untuk memastikan karakteristik bahan bakar tetap stabil dan tidak mengalami pembekuan,” ujar Harry di sela kegiatan media drive All-New Seltos di Bogor, Sabtu (18/7/2026).
Dalam strategi adaptasi ini, KIA Indonesia juga mengatasi miskonsepsi masyarakat tentang komposisi BBM B50. Sebagian besar orang mengira bahan bakar tersebut terdiri dari 50 persen FAME, padahal formula terbaru lebih kompleks. B50 yang diadopsi memiliki kandungan 35 persen FAME berbasis kelapa sawit, 15 persen HVO, dan 50 persen solar fosil. Harry Yanto menegaskan bahwa perubahan ini dirancang untuk menjaga performa mesin diesel modern, terutama yang menggunakan teknologi common rail bertekanan tinggi.
Kesiapan Pasar dan Kebutuhan Bahan Bakar Rendah Sulfur
Berikutnya, KIA Indonesia memperhatikan kesiapan pasar dalam menerima BBM B50. Model diesel yang dijual perusahaan saat ini hanya Kia Carnival Diesel, yang sudah memenuhi standar emisi Euro 4. Harry Yanto menekankan bahwa mesin Euro 4 sangat sensitif terhadap kandungan sulfur, sehingga bahan bakar setara Pertamina Dex—yang memiliki sulfur di bawah 50 ppm—masih direkomendasikan untuk pemakaian sehari-hari. Meski demikian, kehadiran HVO dalam B50 memberikan keuntungan dalam mengurangi risiko korosi di saluran bahan bakar.
“Bedanya antara B40, B30 dengan B50 ini, dia tidak menggunakan 50 persen dari palm oil. HVO ini memang harganya sedikit lebih mahal, tapi bagus untuk campuran solar sehingga tidak menyebabkan korosi yang parah di saluran bahan bakar,” jelas Harry.
Strategi KIA Indonesia tidak hanya fokus pada keamanan mesin, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan. Penggunaan HVO dalam BBM B50 membantu mengurangi emisi karbon, menjawab kebutuhan industri otomotif untuk mendukung inisiatif pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, bahan bakar B50 diharapkan mampu menjaga konsistensi performa mesin, terutama dalam kondisi ekstrem seperti cuaca dingin atau jarak tempuh yang panjang.
Dalam upaya meningkatkan kualitas bahan bakar, KIA Indonesia bekerja sama dengan distributor lokal untuk memastikan keberlanjutan strategi mereka. Dengan memperkenalkan BBM B50, perusahaan ini mendukung transisi menuju energi terbarukan sekaligus menyesuaikan dengan regulasi nasional. Harry Yanto menegaskan bahwa KIA tetap memantau kebijakan pemerintah dan akan menyesuaikan strategi mereka jika diperlukan. Penggunaan BBM B50 juga diharapkan mendorong pengurangan ketergantungan pada bahan bakar minyak mentah.
Kehadiran BBM B50 juga memberikan peluang untuk meningkatkan daya saing industri otomotif Indonesia. Dengan ketersediaan bahan bakar rendah sulfur yang diperkirakan akan merata di seluruh wilayah pada akhir tahun 2027, KIA Indonesia siap memastikan mesin diesel mereka tetap dapat beroperasi maksimal. Strategi ini tidak hanya menguntungkan konsumen, tetapi juga mendukung tujuan pemerintah dalam mengurangi emisi gas buang dan memperkuat ekosistem bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

