Skip to content
Beritabaru1
fe1b8844-d830-4785-aa70-48971fa106fc-0
  • Home
  • News
  • Sepak Bola
  • Teknologi
  • Internasional
  • Humaniora
  • Politik Dan Hukum
  • Nusantara
  • Hiburan
  • Opini
  • Travelista
  • Ekonomi
  • Megapolitan
  • Kolom Pakar
  • Jelita
  • Olahraga
  • Haji
  • Otomotif
  • Jabar
  • Piala Dunia 2026
  • Kuliner
  • Kesehatan
  • Forum Mahasiswa
  • Fashion
  • Sela
  1. Home
  2. Politik Dan Hukum
  3. Key Discussion: Forum Semanggi Atma Jaya Soroti Gejala Akhir Reformasi dan Menguatnya Oligarki
Politik Dan Hukum

Key Discussion: Forum Semanggi Atma Jaya Soroti Gejala Akhir Reformasi dan Menguatnya Oligarki

Mark Brown Reporter Jumat, 05 Juni 2026 pukul 14:20 WIB 3 min read
0 Views 0 Komentar
Share:
b02ac4c2-2032-448f-83de-81f0f8a97480-0

Table of Contents

Toggle
  • Forum Semanggi Atma Jaya: Key Discussion tentang Fenomena Oligarki dan Reformasi
    • Analisis Buku “Reorganising Power in Indonesia”
    • Perspektif Kontemporer: Dari Reformasi ke Oligarki

Forum Semanggi Atma Jaya: Key Discussion tentang Fenomena Oligarki dan Reformasi

Key Discussion yang diadakan pada Kamis (4/6) di Kampus Atma Jaya, Jakarta Pusat, menjadi ruang diskusi akademik menarik bagi para peneliti dan tokoh politik. Acara ini menyoroti kondisi kekuasaan di Indonesia, terutama mengenai gejala akhir masa Reformasi dan kemunculan oligarki yang semakin dominan. Profesor Vedi R. Hadiz dari University of Melbourne, Australia, menjadi salah satu pembicara utama dalam forum tersebut, menegaskan bahwa perjalanan demokrasi di Nusantara belum sepenuhnya menuntaskan masalah struktural.

Analisis Buku “Reorganising Power in Indonesia”

Buku yang dibahas dalam Key Discussion ini, karya Vedi R. Hadiz bersama Profesor Emeritus Murdoch University, Richard Robison, menjadi dasar untuk memahami dinamika kekuasaan di Indonesia. Dalam buku tersebut, keduanya mengungkap bahwa demokrasi, meski dianggap sebagai alat untuk mengurangi pengaruh oligarki, justru menjadi medium bagi kekuasaan politik dan ekonomi untuk terus berkuasa. Menurut Vedi, ada ketidakselarasan antara visi demokrasi yang ingin meratakan kekuasaan dengan praktik nyata yang justru memperkuat struktur oligarki.

“Semakin demokratis sebuah bangsa, seharusnya kekuatan oligarkis semakin terkikis. Tapi dalam kenyataannya, demokrasi dan oligarki bisa hidup berdampingan dengan sangat mesra dalam mempertahankan kekuasaan,” ujar Vedi.

Key Discussion ini juga menyoroti konsep incumbent populism, yaitu strategi elite politik yang memanfaatkan legitimasi pemilu untuk memperkuat dominasi mereka. Vedi menegaskan bahwa fenomena ini menggambarkan adanya ketergantungan antara sistem demokrasi dengan kekuatan oligarki. Buku terbaru ini merupakan revisi dari karya klasik Reorganising Power in Indonesia yang terbit pada 2004, namun diperbarui dengan analisis kontemporer.

Perspektif Kontemporer: Dari Reformasi ke Oligarki

Dalam konteks masa kini, Key Discussion menyebutkan bahwa buku ini meninjau dinamika politik hingga era pemerintahan Prabowo Subianto. Vedi menjelaskan bahwa oligarki di Indonesia tidak hanya tentang kekayaan ekonomi, tetapi juga tentang integrasi kekuasaan antara politisi, birokrasi, dan kapitalis besar. “Kami tidak hanya berbicara tentang konglomerat tertentu. Kami fokus pada hubungan struktural kekuasaan yang ditandai oleh integrasi kepentingan politik, birokrasi, dan bisnis besar,” tambahnya.

Banyak pihak memperkirakan bahwa Reformasi 1998 membawa perubahan besar, tetapi Vedi menyoroti bahwa kekuatan oligarki justru bertahan dan beradaptasi. “Reformasi menjatuhkan institusi Orde Baru, tetapi tidak menghancurkan oligarki yang menjadi pendukungnya,” ujar dia. Key Discussion ini juga menyoroti bahwa jatuhnya rezim Soeharto meski membuka ruang baru, tetapi kekosongan kekuasaan kini diisi oleh elite lama dengan wajah yang berbeda.

Selain itu, Vedi menegaskan bahwa bandingan krisis ekonomi saat ini dengan krisis 1998 bisa menjadi acuan. Meski nilai tukar rupiah mencapai Rp18.035 per dolar AS, melebihi titik terendah 1998, Vedi memperingatkan bahwa gejolak ekonomi saat ini belum tentu memicu reformasi yang serupa. “Kalau dalam 16-18 bulan krisis ekonomi lebih parah, bisa jadi kejadian seperti Reformasi 1998. Tapi, jangan berharap 1998 yang sangat merugikan itu terjadi, karena hasilnya seperti sekarang yang berkuasa justru oligarki,” ujarnya.

Key Discussion juga memperkenalkan tanggapan Profesor Richard Robison, yang menambahkan bahwa oligarki Indonesia sedang mengalami proses sentralisasi kembali. “Kami menyebutnya sebagai akhir Reformasi karena kekuatan ekonomi dan politik kini kembali dire-sentralisasi, meskipun institusi demokrasi masih ada,” katanya. Fenomena ini terlihat melalui penguatan instrumen negara, peningkatan intervensi pemerintah dalam sektor ekonomi, hingga kembalinya pengaruh militer dalam kebijakan pemerintahan.

Vedi menekankan bahwa tantangan terbesar dalam proses perubahan adalah lemahnya masyarakat sipil progresif. “Selama civil society terfragmentasi dan tidak terkonsolidasi, mereka akan mudah dikooptasi kekuasaan dan tidak mampu membangun gerakan sosial yang lebih luas,” ujarnya. Key Discussion ini menjadi jembatan untuk menggali lebih dalam mengenai hubungan antara demokrasi dan oligarki, serta bagaimana dua institusi tersebut berinteraksi dalam menyusun kebijakan dan arah pemerintahan Indonesia saat ini.

Bagikan:

Berita Terkait

0b2edacb-c104-424a-8fb3-dc9eda9a848c-0

New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM

27 Jun 2026
1782511855_c89e55d703da44da063a

Sindikat Judi Daring Hayam Wuruk Gunakan Kedok Perusahaan Teknologi

27 Jun 2026
8790e95f-7e53-46c0-881d-1af6c6d62be6-0

Rp13,9 Triliun dari Kasus Judol Hayam Wuruk Tengah Ditelusuri

26 Jun 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

Berita Terbaru

1782510039_d402f84363d336b912cf

Special Plan: Harga Biosolar B50 Harus Kompetitif untuk Tarik Minat Masyarakat

2 jam yang lalu
0b2edacb-c104-424a-8fb3-dc9eda9a848c-0

New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM

3 jam yang lalu
1782510706_6702119ca7efdf53ac61

Key Issue: Klasemen Grup I Piala Dunia 2026: Prancis Sempurna, Senegal Pesta Gol

3 jam yang lalu
1782511360_747e74ee74aeda024e85

Topics Covered: Korban Jiwa Gempa Venezuela Bertambah Jadi 589 Orang, Ribuan Terluka

3 jam yang lalu
1782511855_c89e55d703da44da063a

Sindikat Judi Daring Hayam Wuruk Gunakan Kedok Perusahaan Teknologi

3 jam yang lalu

Kategori

  • Ekonomi (346)
  • Fashion (3)
  • Forum Mahasiswa (1)
  • Haji (28)
  • Hiburan (208)
  • Humaniora (655)
  • Internasional (333)
  • Jabar (58)
  • Jelita (19)
  • Kesehatan (5)
  • Kolom Pakar (3)
  • Kuliner (16)
  • Megapolitan (118)
  • Nusantara (434)
  • Olahraga (135)
  • Opini (52)
  • Otomotif (20)
  • Piala Dunia 2026 (181)
  • Politik Dan Hukum (169)
  • Sela (1)
  • Sepak Bola (427)
  • Teknologi (185)
  • Travelista (31)
  • Uncategorized (1)

About Us

Beritabaru1 menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.

Trending Post

  • Hello world!
  • New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM
  • Key Discussion: Preview Ligue 1 Rennes vs Paris FC, Ambisi Tuan Rumah di Roazhon Park
  • Bawa Kabur Motor Teman – Perempuan di Kukar Ditangkap Polisi
  • Main Agenda: Pengamat Soroti Peran Strategis Indonesia di Tengah Dinamika ASEAN

Quick Links

  • Ekonomi
  • Fashion
  • Forum Mahasiswa
  • Haji
  • Hiburan
  • Humaniora
  • Internasional
  • Jabar
  • Jelita
  • Kesehatan

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • Contact Us

Copyright © 2026 beritabaru1.com. All rights reserved.