Pigai: Key Strategy dalam Pembentukan Karakter Calon Manajer Kopdes Merah Putih
Beritabaru1.com – Pembentukan karakter calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) bisa dilakukan melalui Key Strategy yang lebih efektif. Natalius Pigai, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), mengungkapkan bahwa pendekatan fisik seperti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bukan satu-satunya cara untuk melatih mental calon pemimpin. Penekanan ini muncul setelah lima peserta Latsarmil dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia, menimbulkan pertanyaan terhadap metode pelatihan yang digunakan.
Peninjauan terhadap Metode Pelatihan
Pigai mengatakan bahwa sistem pendidikan harus dievaluasi menyeluruh agar bisa meminimalkan risiko serupa di masa depan. Menurutnya, karakter yang baik bisa dibangun melalui nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kecepatan, ketepatan, dan kejujuran. “Key Strategy ini menekankan bahwa mental yang diperlukan tidak harus ditanamkan melalui latihan fisik yang berat,” jelasnya. Ia berharap ada perbaikan dalam desain pelatihan agar lebih sesuai dengan kebutuhan peserta.
Pigai juga menyoroti bahwa tujuan utama dari program SPPI adalah menciptakan generasi pemimpin yang berkualitas, bukan hanya sekadar melatih kebugaran fisik. Dalam konteks pembangunan Indonesia, keterampilan manajerial dan kepemimpinan menjadi aspek yang lebih penting dibandingkan latihan keras yang berpotensi menyebabkan kecelakaan. Dengan Key Strategy yang lebih terarah, proses pembentukan karakter bisa lebih menyeluruh dan mengurangi risiko kesehatan peserta.
Aspek Karakter yang Perlu Diperhatikan
Menteri Pigai menegaskan bahwa karakter calon manajer Kopdes dan KNMP harus dibangun melalui tiga komponen utama, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan mental. Dalam Key Strategy yang dianut, ia menekankan bahwa mental seseorang tidak selalu terkait langsung dengan latihan fisik intensif. “Mental itu bisa dibentuk melalui lingkungan belajar yang baik, kesadaran diri, dan pengalaman di lapangan,” tambahnya.
Menurut Pigai, metode pelatihan militer bisa digunakan sebagai bagian dari Key Strategy, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan peserta. Ia menyarankan adanya pendekatan yang lebih fleksibel, seperti simulasi, diskusi kelompok, atau studi kasus, agar peserta bisa lebih mudah menyerap materi tanpa mengalami kelelahan berlebihan. Selain itu, proses pembentukan karakter juga perlu melibatkan masyarakat sekitar dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan keberlanjutan program.
Pigai berharap evaluasi terhadap Latsarmil ini bisa menjadi langkah awal dalam menyempurnakan Key Strategy pembentukan karakter di masa depan. Ia juga meminta Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mempercepat investigasi terhadap penyebab kematian lima peserta. “Dengan Key Strategy yang tepat, kita bisa memastikan bahwa program ini tidak hanya efektif, tetapi juga aman bagi peserta,” ujarnya. Evaluasi ini menjadi penting untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap program SPPI dan peningkatan kualitas pemimpin lokal.
Kasus kematian lima peserta Latsarmil menyoroti pentingnya Key Strategy dalam membangun sistem pelatihan yang humanis. Pigai menekankan bahwa program seperti SPPI harus menjadi wadah untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, dan sikap tanggung jawab. Dengan pendekatan ini, calon manajer Kopdes dan KNMP tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga menjadi contoh bagi masyarakat dalam berperilaku baik.
Key Strategy yang dianut Pigai juga menitikberatkan pada keberlanjutan program. Ia menyampaikan bahwa setelah evaluasi dan investigasi selesai, hasilnya harus digunakan untuk merevisi kurikulum dan metode pelatihan. “Program SPPI harus menjadi model yang bisa diadopsi oleh institusi lain, asalkan Key Strategy ini dijaga dengan baik,” tegasnya. Dengan demikian, program pembentukan karakter bisa menjadi bagian dari kebijakan nasional yang lebih komprehensif.
