Meeting Results: Sudirman Said Perkenalkan 3 Pilar Kepemimpinan Lawan ‘Godfather’ di BIMTEK DPRD PKS
Meeting Results – Dalam meeting results yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (13/6/2026), Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said menghadirkan gagasan baru tentang transformasi kepemimpinan. Acara Bimbingan Teknis (BIMTEK) Anggota DPRD PKS Se-Kalimantan ini menjadi platform untuk menyoroti krisis tata kelola yang semakin mengemuka, serta mengusulkan konsep pilar-pilar kepemimpinan sebagai antitesis dari model ‘godfather’ yang sering dikritik. Sudirman menekankan bahwa meeting results kali ini bukan hanya diskusi teknis, tetapi juga kesempatan untuk menyemai perubahan nilai-nilai etis dalam sistem politik.
Memecahkan Krisis Kepemimpinan Modern
Meeting results ini berfokus pada perluasan pengertian kepemimpinan dari segi moral, spiritual, dan institusional. Sudirman Said menyampaikan bahwa model ‘godfather’ — yang menggambarkan kekuasaan yang berkonsentrasi pada individu — sering kali mengabaikan peran sistem dan kekuatan kolektif. Ia menyoroti bahwa fenomena ini menyebabkan kehilangan arah dalam kebijakan negara, karena penguasa cenderung terjebak pada kepentingan jangka pendek.
“Kepemimpinan yang baik tidak bergantung pada figur satu-satunya, tetapi pada sistem yang kuat dan nilai-nilai abadi. Maka, dalam meeting results kali ini, kita harus mengubah cara berpikir tentang tata kelola kekuasaan,”
Menurut Sudirman, pemimpin yang berhasil di masa depan harus mampu membangun solidaritas antar institusi dan menciptakan kepercayaan publik. Ia mencontohkan bahwa dalam filosofi Islam, spiritualitas menjadi dasar utama kepemimpinan, bukan sekadar alat untuk memperkuat otoritas pribadi. Pandangan ini diharapkan mampu menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan di tingkat daerah.
Empat Dimensi Kepemimpinan yang Ideal
Dalam meeting results, Sudirman Said mengusulkan empat dimensi kepemimpinan yang menjadi penantang kuat terhadap model ‘godfather’. Ia menyebutkan tiga pilar utama: kepemimpinan institusional (bukan populis), kepemimpinan kolektif (bukan personal), dan kepemimpinan intrinsik (bukan nominal). Kedua pilar tambahan, yaitu kepemimpinan transformatif dan kepemimpinan inklusif, dianggap penting untuk melengkapi kerangka ini.
“Pemimpin yang memimpin melalui institusi akan lebih transparan, sementara pemimpin yang berspiritualitas bekerja dalam diam, bukan memanggungkan kesalehan,”
Menurut Sudirman, konsep ini didasari oleh teori Paul Webley, yang membagi tangga etika bernegara menjadi tingkatan amoral, legalistik, responsif, hingga etis. Mayoritas pemimpin saat ini, menurutnya, hanya berada di tingkat legalistik, mematuhi hukum tetapi tidak mencapai nilai kemanusiaan. Ia menilai bahwa meeting results ini menjadi ajang untuk mendorong perpindahan ke tingkat etis.
Terlepas dari teori yang diusung, Sudirman menekankan bahwa perubahan harus diawali dari dalam. “Kepercayaan pada Tuhan dan nilai-nilai moral harus menjadi dasar, bukan sekadar alat untuk meraih dukungan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam meeting results, anggota DPRD PKS perlu memahami bahwa kepemimpinan yang baik adalah salah satu kunci untuk memulihkan kredibilitas politik.
Dalam konteks praktis, Sudirman Said menilai bahwa model ‘godfather’ berisiko menciptakan ekosistem politik yang kaku. “Fenomena ini berujung pada pengambilan keputusan yang tidak sehat, karena kekuasaan berada di tangan satu orang atau kelompok tertentu,” jelasnya. Ia menyarankan bahwa pemimpin daerah harus menjadikan meeting results sebagai sarana untuk menganalisis struktur kekuasaan dan mencegah ketergantungan pada figur individu.
Meeting results ini juga dihadiri oleh pengamat tata kelola pemerintahan seperti Yanuar Nugroho. Ia menegaskan bahwa implementasi konsep pilar kepemimpinan bisa menjadi jalan untuk mengurangi konflik kepentingan. “Pemimpin yang bersifat kolektif akan lebih mampu menciptakan kebijakan yang sejalan dengan kepentingan rakyat,” katanya. Kritik ini sejalan dengan pandangan Sudirman bahwa systematisasi kepemimpinan adalah solusi jangka panjang untuk krisis yang terjadi.
