Skip to content
Beritabaru1
fe1b8844-d830-4785-aa70-48971fa106fc-0
  • Home
  • News
  • Sepak Bola
  • Teknologi
  • Internasional
  • Humaniora
  • Politik Dan Hukum
  • Nusantara
  • Hiburan
  • Opini
  • Travelista
  • Ekonomi
  • Megapolitan
  • Kolom Pakar
  • Jelita
  • Olahraga
  • Haji
  • Otomotif
  • Jabar
  • Piala Dunia 2026
  • Kuliner
  • Kesehatan
  • Forum Mahasiswa
  • Fashion
  • Sela
  1. Home
  2. Politik Dan Hukum
  3. New Policy: Wacana Pilkada Asimetris Dikritik, JPPR Sebut Bisa Perkuat Dominasi Elite Politik
Politik Dan Hukum

New Policy: Wacana Pilkada Asimetris Dikritik, JPPR Sebut Bisa Perkuat Dominasi Elite Politik

Matthew Martin Reporter Sabtu, 06 Juni 2026 pukul 14:21 WIB 3 min read
0 Views 0 Komentar
Share:
3cd28340-3e29-4e5d-b46e-77bf3b657964-0

Table of Contents

Toggle
  • New Policy: Kritik terhadap Pilkada Asimetris dan Dominasi Elite Politik
    • Mengapa JPPR Mengkritik Pilkada Asimetris?
    • Dampak Pilkada Asimetris pada Reformasi Pemilu

New Policy: Kritik terhadap Pilkada Asimetris dan Dominasi Elite Politik

New Policy – Dalam konteks reformasi sistem pemilu di Indonesia, kebijakan baru terkait pelaksanaan Pilkada asimetris mendapat sorotan kritis dari Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR). Kritik ini muncul karena wacana kembali ke sistem pemilihan kepala daerah yang tidak serentak dinilai dapat mengurangi transparansi dan keadilan dalam proses demokrasi. Nurlia Dian Paramita, ketua dewan pengarah JPPR, menilai kebijakan baru ini justru bisa memperkuat dominasi elite politik, mengingat sistem asimetris dianggap lebih mudah dimanipulasi oleh kelompok kuat.

Mengapa JPPR Mengkritik Pilkada Asimetris?

“Wacana Pilkada Asimetris yang muncul setelah penyelenggaraan Pilkada Serentak dinilai paradoks karena Indonesia pernah menerapkan pola tersebut sebelum beralih ke sistem serentak,” ujar Nurlia kepada Media Indonesia, Sabtu (6/6). Menurutnya, alasan utama yang digunakan untuk mendorong perubahan ke sistem asimetris, seperti tingginya biaya politik, tidak relevan dengan tujuan utama Pilkada serentak. Kebijakan baru ini, kata Nurlia, lebih mengutamakan kepentingan elit daripada keadilan pemilih.

JPPR mengkritik kebijakan baru ini karena bertentangan dengan prinsip efisiensi anggaran, stabilitas politik, dan keselarasan program pembangunan yang sebelumnya diharapkan dari Pilkada serentak. Nurlia menegaskan bahwa alasan biaya politik tinggi justru tidak selaras dengan semangat sistem serentak, yang bertujuan menyederhanakan proses dan meminimalkan risiko korupsi. “New Policy ini bisa menjadi alat untuk memperkuat dominasi kelompok elite yang sudah lama menguasai sistem pemilu,” tambahnya.

Dampak Pilkada Asimetris pada Reformasi Pemilu

Menurut Nurlia, sistem Pilkada asimetris yang kembali dipertimbangkan memiliki potensi merusak progres reformasi pemilu. Ia menilai bahwa dengan memisahkan penyelenggaraan antar daerah, peran partai politik dalam pendidikan pemilih akan berkurang. “Jika New Policy ini diterapkan, partai kemungkinan lebih fokus pada pemenangan daerah tertentu, sementara fungsi pendidikan politik berpotensi diabaikan,” jelasnya. Selain itu, sistem ini dikhawatirkan akan menguatkan ketergantungan pada konflik elektoral dan politik uang.

JPPR juga mengingatkan bahwa wacana kembali ke sistem asimetris tidak sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan mendesak. Sebagai contoh, pada masa lalu, Pilkada asimetris justru menyebabkan ketimpangan antar wilayah, di mana daerah besar lebih mudah mengakses sumber daya pemilihan. “Dengan New Policy yang baru, kita berisiko kembali ke situasi yang sama, hanya dengan alasan yang berbeda,” tambah Nurlia.

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 135/PUU-XXII/2024 menjadi dasar untuk mempertahankan Pilkada serentak, meskipun sistem nasional dan lokal tetap dijalankan secara bersamaan. JPPR menilai wacana kembali ke Pilkada asimetris bisa bertabrakan dengan putusan ini, yang menetapkan bahwa semua pemilihan harus dilaksanakan dalam waktu yang sama. “New Policy ini berpotensi menggoyahkan keputusan MK, yang sebelumnya dianggap sebagai langkah progresif untuk demokrasi,” kata Nurlia.

Dalam konteks ini, JPPR menyoroti bahwa kebijakan baru tidak hanya memperkuat dominasi elite politik, tetapi juga mengabaikan kebutuhan masyarakat. “New Policy yang diusung saat ini mungkin terdengar sederhana, tapi ia mengandung dampak jangka panjang yang bisa memperparah ketimpangan dalam proses pemilu,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan bagaimana sistem pemilu baru akan mengakar dalam masyarakat, bukan hanya menguntungkan kalangan tertentu.

Selain kritik terhadap dominasi elite, JPPR juga menyoroti potensi risiko korupsi yang bisa meningkat akibat New Policy ini. Karena penyelenggaraan Pilkada asimetris dianggap lebih fleksibel, daerah yang memiliki sumber daya lebih besar akan lebih mudah memanfaatkan dana untuk kampanye. “Ini bisa membuat perbedaan antara daerah berkembang dan daerah maju semakin melebar dalam pemilu,” jelas Nurlia. Ia berharap pemerintah dan penyelenggara pemilu bisa mengevaluasi ulang kebijakan ini sebelum diimplementasikan.

Bagikan:

Berita Terkait

0b2edacb-c104-424a-8fb3-dc9eda9a848c-0

New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM

27 Jun 2026
1782511855_c89e55d703da44da063a

Sindikat Judi Daring Hayam Wuruk Gunakan Kedok Perusahaan Teknologi

27 Jun 2026
8790e95f-7e53-46c0-881d-1af6c6d62be6-0

Rp13,9 Triliun dari Kasus Judol Hayam Wuruk Tengah Ditelusuri

26 Jun 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

Berita Terbaru

1782510039_d402f84363d336b912cf

Special Plan: Harga Biosolar B50 Harus Kompetitif untuk Tarik Minat Masyarakat

3 jam yang lalu
0b2edacb-c104-424a-8fb3-dc9eda9a848c-0

New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM

3 jam yang lalu
1782510706_6702119ca7efdf53ac61

Key Issue: Klasemen Grup I Piala Dunia 2026: Prancis Sempurna, Senegal Pesta Gol

3 jam yang lalu
1782511360_747e74ee74aeda024e85

Topics Covered: Korban Jiwa Gempa Venezuela Bertambah Jadi 589 Orang, Ribuan Terluka

3 jam yang lalu
1782511855_c89e55d703da44da063a

Sindikat Judi Daring Hayam Wuruk Gunakan Kedok Perusahaan Teknologi

3 jam yang lalu

Kategori

  • Ekonomi (346)
  • Fashion (3)
  • Forum Mahasiswa (1)
  • Haji (28)
  • Hiburan (208)
  • Humaniora (655)
  • Internasional (333)
  • Jabar (58)
  • Jelita (19)
  • Kesehatan (5)
  • Kolom Pakar (3)
  • Kuliner (16)
  • Megapolitan (118)
  • Nusantara (434)
  • Olahraga (135)
  • Opini (52)
  • Otomotif (20)
  • Piala Dunia 2026 (181)
  • Politik Dan Hukum (169)
  • Sela (1)
  • Sepak Bola (427)
  • Teknologi (185)
  • Travelista (31)
  • Uncategorized (1)

About Us

Beritabaru1 menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.

Trending Post

  • Hello world!
  • New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM
  • Key Discussion: Preview Ligue 1 Rennes vs Paris FC, Ambisi Tuan Rumah di Roazhon Park
  • Bawa Kabur Motor Teman – Perempuan di Kukar Ditangkap Polisi
  • Main Agenda: Pengamat Soroti Peran Strategis Indonesia di Tengah Dinamika ASEAN

Quick Links

  • Ekonomi
  • Fashion
  • Forum Mahasiswa
  • Haji
  • Hiburan
  • Humaniora
  • Internasional
  • Jabar
  • Jelita
  • Kesehatan

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • Contact Us

Copyright © 2026 beritabaru1.com. All rights reserved.