Minyak Brent Turun di Bawah US$84 per Barel, Capai Level Terendah Sejak Juli
Beritabaru1.com – Pasar minyak dunia mencatat koreksi signifikan pada sesi perdagangan Selasa (29/7). Acuan global Brent berhasil menyentuh level di bawah US$84 per barel, menandai penurunan pertama kalinya sejak pertengahan bulan Juli. Berdasarkan data yang dihimpun hingga pukul 13.55 WIB, kontrak pengiriman Oktober untuk minyak mentah Brent mengalami penurunan sebesar 2,34% dari penutupan sebelumnya.
Saat ini, harga Brent tercatat berada di posisi US$83,86 per barel. Dengan menggunakan asumsi kurs pagi hari sebesar Rp18.070 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan Rp1,51 juta per barel. Momentum ini menjadi momen pertama sejak tanggal 17 Juli ketika harga acuan minyak dunia jatuh ke bawah ambang batas psikologis US$84.
Perbandingan dengan Performa Sebelumnya
Pelemahan yang terjadi kali ini berbanding terbalik dengan kondisi pada 23 Juli silam. Saat itu, Brent untuk pengiriman September berhasil melonjak 6,38% hingga mencapai US$100,07 atau sekitar Rp1,81 juta per barel. Fenomena serupa juga terlihat pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI).
Untuk kontrak pengiriman September, harga WTI tercatat melemah 2,28% menjadi US$80,73 per barel, atau setara dengan Rp1,46 juta. Sebelumnya, pada perdagangan 23 Juli, WTI sempat mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 5,36% ke level US$91,48 per barel (Rp1,65 juta). Namun, tekanan pasar pada perdagangan Selasa ini menghapus sebagian besar keuntungan yang sempat diraih pada pekan sebelumnya.
Penurunan harga ini mencerminkan dinamika pasar energi global yang masih fluktuatif. Setelah sempat menembus angka US$100 per barel pada akhir Juli, sentimen pasar kini kembali menekan harga ke level terendah dalam beberapa pekan terakhir. Faktor-faktor seperti permintaan global yang melambat dan peningkatan pasokan dari negara-negara non-OPEC menjadi pendorong utama pelemahan ini.
Dampak Terhadap Pasar Energi Global
Pergerakan harga minyak yang turun di bawah US$84 per barel ini memberikan dampak langsung terhadap berbagai sektor ekonomi. Bagi negara-negara eksportir minyak, penurunan harga dapat mengurangi pendapatan devisa yang signifikan. Sementara itu, konsumen di negara-negara importir akan merasakan manfaat berupa penurunan harga bahan bakar di dalam negeri.
Para analis pasar memperkirakan bahwa volatilitas harga akan terus berlanjut dalam beberapa minggu ke depan. Ketidakpastian terkait kebijakan OPEC+ dan kondisi ekonomi global menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah pergerakan harga minyak dalam jangka menengah.
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan performa pada 23 Juli lalu, di mana Brent untuk pengiriman September sempat melonjak 6,38% hingga mencapai US$100,07 atau sekitar Rp1,81 juta per barel.

