Key Discussion: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% Meski Tekanan Rupiah dan Defisit Fiskal Masih Ada
Key Discussion – Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% pada kuartal I-2026, tetapi hal ini belum sepenuhnya mencerminkan kestabilan fundamental. Dalam diskusi daring yang digelar Senin (11/5), M. Rizal Taufikurahman, ketua Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyoroti bahwa tekanan pada nilai tukar rupiah terus berlanjut, dengan kurs mencapai Rp17.383 per dolar AS, turun 0,06% dibandingkan kuartal sebelumnya. Defisit fiskal yang mencapai Rp240 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga menjadi sorotan utama dalam Key Discussion.
“Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka yang positif, pengelolaan moneter dan fiskal tetap menjadi kunci untuk menjaga daya tahan ekonomi jangka panjang,” kata Rizal, yang menekankan bahwa kinerja ekonomi belum sepenuhnya didukung oleh kestabilan sektor eksternal dan daya beli rumah tangga yang berkelanjutan.
Kondisi Eksternal dan Tekanan Mata Uang
Key Discussion juga memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berada di luar proyeksi APBN 2026. Rizal menegaskan bahwa kurs yang mencapai Rp17.383 per dolar AS hingga April 2026 melebihi ekspektasi, sehingga mengurangi daya tarik investasi asing. Selain itu, penurunan cadangan devisa hingga US$146,2 miliar, atau US$2 miliar per bulan, menunjukkan kekhawatiran mengenai ketersediaan dana dan kinerja neraca pembayaran.
“Pertumbuhan ekonomi 5,61% tidak cukup untuk menopang stabilitas eksternal yang diperlukan, apalagi dalam Key Discussion mengenai dinamika pasar keuangan global,” tambahnya, yang menyoroti peran inflasi dan ekspor dalam memperkuat nilai tukar rupiah.
Faktor Pendorong dan Tantangan Fiskal
Dari sisi fiskal, pertumbuhan ekonomi Indonesia bergantung pada belanja pemerintah yang meningkat sebesar 21,81% secara tahunan. Rizal mengingatkan bahwa kebijakan stimulus fiskal, meski mendorong aktivitas ekonomi, tidak bisa menjadi motor utama pertumbuhan jangka panjang. Ia menyoroti defisit fiskal yang mencapai Rp240 triliun, dengan penerimaan negara hanya mencapai Rp574 triliun, sementara belanja negara mendekati Rp815 triliun.
“Fiskal kita dalam Key Discussion menunjukkan peningkatan belanja, tetapi peningkatan ini harus seimbang dengan pendapatan yang konsisten agar tidak memperparah tekanan pada neraca keuangan,” kata Rizal, yang menekankan pentingnya pengelolaan anggaran yang lebih efisien.
Kinerja fiskal ini menciptakan ketergantungan pada belanja pemerintah, yang menurut Syakir Kurnia, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro, masih menjadi faktor kritis dalam Key Discussion. Syakir menambahkan bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga, yang tumbuh di atas 5%, menjadi tanda bahwa daya beli masyarakat sedang membaik, tetapi keberlanjutan pertumbuhan ini membutuhkan penyesuaian kebijakan.
“Key Discussion menunjukkan bahwa pemerintah perlu memastikan pengeluaran yang optimal, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat didukung oleh sumber daya yang lebih seimbang,” ujarnya, mengingatkan bahwa tekanan pada sektor fiskal harus diatasi sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% mencerminkan kombinasi antara faktor internal dan eksternal, seperti kebijakan moneter yang lebih longgar serta meningkatnya investasi di sektor infrastruktur. Namun, menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, angka ini merupakan kelanjutan dari tren positif sejak kuartal IV-2025, yang menunjukkan kemampuan ekonomi Indonesia untuk beradaptasi meski dalam Key Discussion yang beragam.
“Pertumbuhan ekonomi 5,61% bukan hanya akibat efek basis rendah, tetapi mencerminkan kebijakan yang konsisten dan dukungan dari sektor swasta,” katanya, yang menegaskan bahwa pemerintah sedang mempercepat distribusi pertumbuhan secara merata.
Dalam Key Discussion, Rizal dan Syakir sepakat bahwa peningkatan daya beli rumah tangga seharusnya diimbangi oleh peningkatan produktivitas. Pertumbuhan konsumsi yang tergantung pada pinjaman online dan penggunaan tabungan, menurut Rizal, menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memperbaiki kondisi keuangan. Ia menambahkan bahwa keberlanjutan pertumbuhan ekonomi akan tergantung pada kemampuan pemerintah untuk mengurangi tekanan pada rupiah dan menstabilkan defisit fiskal.
