Key Strategy: Kebutuhan Gas Pembangkit Listrik Diproyeksi Tumbuh 4,5 Persen Tahunan
Key Strategy – Dalam rangka memperkuat ketahanan energi nasional, Key Strategy menempatkan peningkatan kebutuhan gas pembangkit listrik sebagai prioritas utama. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memproyeksikan bahwa konsumsi gas untuk keperluan energi listrik akan naik sekitar 4,5% per tahun hingga 2034. Pertumbuhan ini didorong oleh percepatan electrifikasi di berbagai sektor seperti industri, transportasi, dan kehidupan sehari-hari, sekaligus peningkatan permintaan listrik nasional yang signifikan.
Peran LNG dalam Memastikan Ketersediaan Energi
Key Strategy juga menekankan peran penting Liquefied Natural Gas (LNG) dalam menjaga stabilitas pasokan energi. Dalam forum ke-11th Annual LNG Supply, Transport & Storage Forum 2026 di Bali, Senin (11/5), Rakhmad Dewanto, Direktur Utama PLN EPI, menyampaikan bahwa LNG menjadi solusi kritis untuk memenuhi kebutuhan listrik dan mendukung transisi energi yang lebih hijau. “LNG menjadi tulang punggung dalam menjaga ketersediaan pasokan listrik, terutama dalam menghadapi pertumbuhan permintaan energi yang tidak terduga,” tambah Rakhmad.
Proyeksi dari McKinsey dan Rencana Umum Ketenagalistrikan (RUKN) 2025 menunjukkan bahwa kontribusi energi listrik terhadap total kebutuhan energi primer Indonesia akan meningkat dari 28% pada 2025 menjadi 38% pada 2035. Pertumbuhan ini dominan berasal dari sektor industri, transportasi, rumah tangga, serta data center yang berkembang pesat. Key Strategy menegaskan bahwa pengembangan sumber daya LNG harus diintegrasikan dengan kebijakan nasional untuk memastikan keberlanjutan energi.
Strategi Kebutuhan Gas dan Pengurangan Ketergantungan
Key Strategy menyoroti bahwa kebutuhan gas PLN akan melonjak dari 1.748 BBTUD pada 2026 menjadi 2.490 BBTUD pada 2034. Sebaliknya, penggunaan gas melalui pipa domestik diperkirakan menurun dari 757 BBTUD menjadi 667 BBTUD dalam periode yang sama. Perubahan ini mencerminkan pergeseran strategi energi dari sumber pipa ke sumber LNG, yang lebih fleksibel dan bisa diakses dari berbagai lokasi.
Kebutuhan kargo LNG juga diestimasi meningkat dari 103 kargo pada 2026 menjadi 214 kargo pada 2034. Rakhmad Dewanto menyoroti bahwa tren ini bertujuan menutupi penurunan produksi gas pipa, sehingga memastikan pasokan energi tetap terjaga. “Dengan Key Strategy, kami memastikan bahwa kebutuhan gas pembangkit listrik dapat dipenuhi secara stabil, bahkan dalam situasi krisis pasokan,” jelas Rakhmad. Proyeksi ini juga menggambarkan upaya Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) sebagai bagian dari transisi energi yang lebih ramah lingkungan.
Key Strategy mengindikasikan bahwa kapasitas regasifikasi nasional harus mencapai 3.850 MMSCFD, dengan penyimpanan LNG hingga 1,2 juta meter kubik. Langkah ini tidak hanya memastikan kebutuhan energi listrik tetap terpenuhi, tetapi juga menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Kombinasi infrastruktur LNG dan pengembangan sumber daya terbarukan menjadi pilar utama dalam Key Strategy, terutama mengingat tantangan kenaikan permintaan listrik yang terus meningkat.
Ketersediaan Energi dan Diversifikasi Sumber Daya
Key Strategy menekankan pentingnya diversifikasi sumber daya energi sebagai langkah untuk mengurangi risiko ketidakstabilan pasokan. PT PLN EPI telah memperkuat kerja sama jangka panjang dengan perusahaan seperti Conrad dan Mubadala, yang ditandatangani tahun lalu. Perjanjian ini menjadi bagian dari strategi untuk memastikan pasokan LNG tetap terjaga, sekaligus mengakselerasi pembangunan infrastruktur midstream seperti Floating Storage Regasification Unit (FSRU) dan Onshore Receiving Unit (ORU).
Dalam konteks Key Strategy, pembangunan infrastruktur LNG tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan listrik, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem energi yang lebih efisien. Langkah ini diperlukan karena produksi listrik nasional diperkirakan melonjak dua kali lipat, dari 283,7 TWh pada 2024 menjadi antara 581 hingga 584 TWh pada 2034. Meski EBT (Energi Baru Terbarukan) terus dikembangkan, gas bumi tetap menjadi bagian tak tergantikan dari Key Strategy dalam menjaga keseimbangan sistem tenaga listrik.
Key Strategy memperlihatkan bahwa keberlanjutan energi bukan hanya tentang pengurangan emisi, tetapi juga tentang efisiensi distribusi dan keandalan pasokan. Dengan proyeksi kebutuhan gas pembangkit listrik tumbuh 4,5% per tahun, Indonesia perlu mengelola sumber daya secara strategis. Tantangan utama adalah mengatasi fluktuasi harga global dan memastikan ketersediaan bahan bakar dalam skala besar, sesuai dengan visi nasional untuk energi bersih dan berkelanjutan.
