Meningkatkan Kesadaran Publik: Edukasi Investasi Resmi Semakin Digalakkan
Beritabaru1.com – Program peningkatan literasi keuangan terus diperkuat oleh berbagai pihak. Langkah ini bertujuan mencegah masyarakat mengalami kerugian akibat tawaran investasi tidak berizin yang semakin banyak bermunculan. Salah satu pendekatan utamanya adalah mendorong masyarakat untuk lebih teliti dalam mengidentifikasi produk perbankan yang resmi dan terpercaya.
Kolaborasi Media sebagai Saluran Edukasi
I Putu Agus Sinom Artawan, yang menjabat sebagai Distribution Head 5 untuk wilayah Jateng-DIY di Bank Mandiri Taspen, menyoroti pentingnya kerja sama dengan media. Melalui edukasi yang disalurkan kepada jurnalis dan platform media, informasi mengenai produk perbankan resmi dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Hal ini diharapkan mampu melindungi publik dari berbagai modus penipuan yang terus berkembang di sektor keuangan.
Lebih lanjut, Sinom menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengajukan kredit. Setiap permohonan harus disesuaikan dengan kebutuhan aktual dan kemampuan finansial peminjam. Masyarakat perlu memastikan bahwa seluruh proses pengajuan berjalan sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh lembaga keuangan.
“Kami juga ingin mengedukasi masyarakat agar memahami bahwa setiap pengajuan kredit harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan membayar. Masyarakat juga harus mengetahui semua proses pengajuan dilakukan sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku,” ujar Sinom di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (24/7).
Mengenal Ciri Produk Perbankan Sah
Menurut Sinom, produk perbankan yang sah memiliki beberapa ciri khas yang mudah dikenali oleh masyarakat awam. Pertama, informasi mengenai produk dan mekanisme pengajuan harus disajikan secara transparan kepada calon nasabah. Kedua, proses kredit dilakukan secara bertahap, dimulai dari permohonan nasabah hingga tahap persetujuan akhir.
Tahapan tersebut meliputi pemenuhan dokumen persyaratan seperti KTP dan Kartu Keluarga, verifikasi data, analisa kredit, serta telekonfirmasi kepada calon peminjam. Sinom menegaskan bahwa tidak ada pinjaman yang bisa langsung cair tanpa melalui prosedur yang jelas. Semua proses melibatkan verifikasi dan analisa untuk memastikan kebenaran pengajuan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Media Gathering Banking Insight 2026 dengan tema “Membedakan Investasi Resmi dan Investasi Ilegal di Tengah Maraknya Penawaran Keuangan Digital”. Selain prosedur, produk resmi bank juga menyediakan informasi lengkap mengenai suku bunga, jangka waktu, serta hak dan kewajiban nasabah yang dijelaskan secara terbuka.
Produk Pembiayaan dan Prinsip Dasar Investasi
Dalam kesempatan yang sama, Sinom memperkenalkan beberapa produk pembiayaan dari Bank Mandiri Taspen. Produk tersebut antara lain Kredit Mantap Prapensiun, Kredit Mantap Pensiun, dan Kredit Mantap bagi pegawai aktif. Setiap produk dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik masing-masing segmen nasabah.
Sementara itu, Dian Purnomo Jati, akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, menekankan bahwa literasi keuangan merupakan benteng utama masyarakat. Ia menyarankan penerapan prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis, sebagai panduan dalam memilih investasi. Prinsip ini membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih rasional.
Prinsip pertama, Legal, berarti memastikan produk berasal dari lembaga jasa keuangan yang memiliki izin resmi dan berada di bawah pengawasan regulator. Masyarakat dapat memanfaatkan kanal resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memverifikasi legalitas tersebut. Prinsip kedua, Logis, berkaitan dengan penilaian kewajaran imbal hasil yang ditawarkan.
“Kalau ada yang menawarkan imbal hasil fantastis, jangan langsung percaya. Pastikan dulu legalitasnya dan pahami bisnis prosesnya. Investasi yang sehat menawarkan keuntungan yang logis, bukan janji keuntungan pasti tanpa risiko,” tegas dosen Manajemen Keuangan FEB Unsoed tersebut.
Dian memberikan gambaran bahwa bunga deposito perbankan umumnya berkisar 2,5-4 persen per tahun, sementara Bank Perekonomian Rakyat (BPR) sekitar 5-6 persen per tahun. Informasi ini membantu masyarakat membedakan antara penawaran yang realistis dan yang terlalu tinggi. Kegiatan edukasi ini merupakan kolaborasi antara PT Kolaborasi Mediapreneur Nusantara (PRMN) dengan Bank Mandiri Taspen untuk memperkuat pemahaman publik terhadap ekosistem keuangan digital yang aman. (Ant/E-3)

