Mentan: Gudang Bulog yang Terisi Penuh Jadi Bukti Swasembada Pangan
Mentan – Kementerian Pertanian (Mentan) terus memantau kinerja sistem distribusi pangan nasional, khususnya dalam upaya mewujudkan swasembada pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penuhnya kapasitas gudang Bulog merupakan bukti kuat bahwa Indonesia sedang menuju keberhasilan dalam mengelola produksi dan distribusi bahan pangan secara efektif. Dengan tingkat penyerapan yang stabil serta stok beras yang terus meningkat, Mentan optimis bahwa keberhasilan ini akan berdampak pada ketahanan pangan nasional.
Peningkatan Stok Beras di Gudang Bulog
Dalam kunjungan ke gudang sewa Perum Bulog di Romokalisari, Surabaya, Jawa Timur, Mentan mengungkapkan bahwa dua gudang yang disewa memiliki kapasitas total 8.000 ton. Saat ini, kedua gudang tersebut telah terisi hingga 7.610 ton beras, sehingga hanya tersisa ruang penyimpanan sekitar 390 ton. “Kalau ada yang mengatakan ini diragukan stok yang ada sekarang, ini gudang yang kita lihat ini disewa, kenapa? Sudah full,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Gudang di Kompleks Bumi Maspion Gudang Romokalisari II ini disewa Bulog sejak April 2026 untuk menampung surplus beras dari wilayah Surabaya dan sekitarnya. Sebelumnya, kapasitas gudang Bulog di Surabaya mencapai 200.000 ton dan telah terpenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan tambahan, Bulog menambah dua gudang sewa dengan kapasitas masing-masing 4.000 ton. Penambahan ini diharapkan dapat memperkuat daya dukung sistem distribusi pangan di daerah tersebut.
Pertanian Indonesia dan Kebijakan Swasembada Pangan
Mentan menilai, keberhasilan menyerap hasil panen yang tinggi menunjukkan sinergi yang baik antara pemerintah pusat, Bulog, pemerintah daerah, dan para petani. “Kapasitas gudang lebih dari 3 juta ton, sekarang 5,3 juta ton, sudah sewa 2 juta ton. Kalau ini data tidak benar, Kepala gudang itu dipenjara tuh, langsung masuk,” tambahnya dalam wawancara terpisah.
Kenaikan stok beras juga didukung oleh penyerapan hasil panen dari daerah seperti Gresik, Sidoarjo, dan sekitarnya. Rata-rata penyerapan harian mencapai 1.500 ton gabah, yang setara dengan 750 ton beras. Dengan adanya stok cadangan yang mencapai 5,3 juta ton secara nasional, pemerintah menganggap hal ini sebagai modal penting untuk menjaga stabilitas pasokan pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Produksi beras Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 19,31 juta ton secara nasional, menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini menjadi bukti bahwa strategi swasembada pangan yang diusung Mentan mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Selain itu, Mentan juga menekankan pentingnya pengelolaan gudang yang optimal agar tidak terjadi pemborosan atau ketidakseimbangan pasokan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan bahwa pihaknya terus meningkatkan kapasitas penyerapan dan penyimpanan beras untuk memastikan hasil panen petani terserap secara maksimal. “Produksi pertanian 2026 sangat melimpah dan sampai hari ini total stok Bulog secara nasional 5,3 juta ton. Dengan stok ini, Bulog harus menyewa gudang. Potensi gudang hampir 4 juta ton kami sudah sewa gudang untuk kapasitas 2 juta ton. Bulog sudah persiapan bangun 100 gudang tambahan supaya tidak perlu sewa gudang ke depan,” pungkas Rizal dalam rilis terbaru.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 4 Mei 2026, produksi beras di Jawa Timur diperkirakan mencapai 3,82 juta ton, naik dari 3,63 juta ton periode sama tahun 2025. Luas panen padi di daerah tersebut mencapai 1.167.609 hektare, menunjukkan kenaikan produksi yang signifikan. Mentan memandang bahwa peningkatan ini merupakan hasil dari kebijakan yang dijalankan secara konsisten dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
