Penurunan Pengangguran Belum Cerminkan Pemulihan Lapangan Kerja Formal
Beritabaru1.com – Penurunan Pengangguran Belum Cerminkan Pemulihan lapangan kerja formal secara menyeluruh, menurut analisis terbaru dari para ahli ketenagakerjaan. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, menyampaikan bahwa penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 4,65% pada Mei 2026 belum sepenuhnya mencerminkan kualitas penyerapan tenaga kerja yang pulih. Meskipun angka pengangguran menurun, struktur pasar kerja menunjukkan bahwa pertumbuhan masih didominasi oleh sektor informal rather than formal.
Berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), persentase pekerja formal pada Mei 2026 mencapai 40,70%, meningkat tipis dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 40,58%. Jumlah pekerja formal juga mengalami kenaikan menjadi 60,31 juta orang. Sementara itu, jumlah pekerja informal meningkat lebih signifikan menjadi 87,88 juta orang. “Kelihatan yang meningkat adalah pekerja informal, belum pekerja formal,” kata Bob Azam kepada Media Indonesia, Rabu (5/8).
Fenomena Kembali ke Sektor Pertanian
Bob menjelaskan bahwa peningkatan pekerja justru lebih banyak terjadi di sektor pertanian. Fenomena ini mengindikasikan bahwa sebagian pekerja yang sebelumnya bekerja di perkotaan kemungkinan kembali ke daerah asal dan beralih ke sektor pertanian setelah kehilangan pekerjaan di sektor formal. “Sektor yang meningkat malah justru pertanian,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan pengangguran belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan ekonomi yang sehat, karena banyak pekerja beralih ke sektor tradisional sebagai alternatif.
“Ekspansi industri sekarang belum tentu diimbangi kenaikan rekrutmen karena rasio otomatisasinya terus meningkat,” ujar Bob Azam.
Di sisi lain, Bob menilai ekspansi industri saat ini tidak lagi selalu diikuti peningkatan rekrutmen tenaga kerja. Banyak perusahaan memilih meningkatkan tingkat otomatisasi sehingga kebutuhan tenaga kerja baru menjadi lebih terbatas, bahkan dalam beberapa kasus justru berkurang. Karena itu, ia mendorong pemerintah mempercepat pengembangan sektor-sektor baru yang memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja.
Beberapa sektor potensial tersebut adalah industri hijau yang diproyeksikan mampu membuka hingga 15 juta lapangan kerja baru pada 2030, industri maintenance, repair and overhaul (MRO) yang potensinya masih belum dimaksimalkan, serta industri kreatif. Selain membuka sektor-sektor baru, Bob menekankan pentingnya program peningkatan keterampilan (reskilling) bagi tenaga kerja agar mampu memenuhi kebutuhan industri masa depan.
Namun, menurutnya, hingga kini belum tersedia skema pendanaan yang memadai untuk mendukung program tersebut sehingga pemerintah dinilai masih terlalu mengandalkan perusahaan dalam meningkatkan kompetensi pekerja. Penurunan Pengangguran Belum Cerminkan Pemulihan secara utuh tanpa dukungan kebijakan yang komprehensif.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pasar Kerja
1. Mengapa penurunan pengangguran belum mencerminkan pemulihan lapangan kerja formal? Karena sebagian besar penurunan pengangguran didorong oleh pertumbuhan sektor informal, bukan formal. Pekerja beralih ke sektor informal atau pertanian sebagai alternatif.
2. Berapa persentase pekerja formal pada Mei 2026? Berdasarkan data BPS, persentase pekerja formal mencapai 40,70% pada Mei 2026.
3. Sektor apa saja yang berpotensi menciptakan lapangan kerja baru? Industri hijau, industri MRO, dan industri kreatif merupakan sektor-sektor dengan potensi besar dalam menyerap tenaga kerja.
4. Apa tantangan utama dalam program reskilling tenaga kerja? Belum tersedianya skema pendanaan yang memadai, sehingga pemerintah masih mengandalkan perusahaan dalam meningkatkan kompetensi pekerja.
Dengan memahami dinamika ini, stakeholders dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran untuk memastikan bahwa penurunan pengangguran benar-benar mencerminkan pemulihan lapangan kerja formal yang berkelanjutan.
