Aroma Dunia Kopi dari Pasar Santa Menembus Mancanegara
Solving Problems – Pasar Santa, Jakarta Selatan, bukan hanya tempat jual beli bahan pokok, tetapi juga jadi pangkuan bagi para pengusaha yang ingin menjajah pasar global. Dunia Kopi, sebuah warung kecil di bawah pasar tersebut, menjadi contoh nyata bagaimana spirit problem-solving mampu mengubah bisnis tradisional menjadi kekuatan ekspor. Suradi, pemilik warung yang telah berkiprah selama 13 tahun, memulai perjalanan baru dalam dunia kopi setelah membeli warung milik temannya yang sempat pindah ke Amerika Serikat. Dari sana, ia belajar cara menyaring kualitas biji kopi, yang kini jadi inti dari keberhasilan usahanya.
Menghadapi Tantangan dalam Perjalanan Bisnis
Dulu, Suradi hanya menjual bahan pokok. Tapi saat memutuskan untuk beralih ke kopi, ia harus menghadapi banyak tantangan. Pertama, memahami jenis biji kopi yang berbeda, seperti arabika, robusta, liberika, dan excelsa, adalah langkah awal yang melelahkan. Kedua, membangun relasi dengan para pengusaha dan pelaku ekspor membutuhkan strategi yang tepat. Dengan problem-solving yang konsisten, ia memulai dari nol, mempelajari proses pengolahan dan pengemasan kopi, hingga membangun jaringan pemasaran ke luar negeri. “Awalnya, banyak yang meragukan bisnis kopi kecil-kecilan di pasar tradisional. Tapi dengan memahami kebutuhan pelanggan, saya bisa mengadaptasi produk dan membangun kepercayaan,”
ujarnya.
Dalam prosesnya, Suradi juga menghadapi masalah ketersediaan biji kopi berkualitas. Ia harus berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk menemukan varietas unik seperti bourbon, caturra, sigararutang, dan lini S795. Proses seleksi ini memakan waktu dan biaya, tetapi hasilnya jelas. Dunia Kopi kini menyajikan biji kopi dari Brasil, Ethiopia, hingga Timor Leste, sementara untuk kopi Indonesia, hampir semua wilayah penghasil terdapat di sini. “Dulu, kopi bubuk lebih populer. Tapi seiring waktu, kebutuhan akan kopi segar dan premium meningkat. Itu yang membuat saya terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas,”
katanya.
Perkembangan Bisnis dan Perubahan Pasar
Kopi yang diperjualbelikan di Dunia Kopi kini memiliki keunggulan dalam keanekaragaman dan kualitas. Pascapanennya pun beragam, mulai dari semi-wash hingga red honey, yang menunjukkan komitmen Suradi untuk menjaga keaslian rasa biji kopi. Dalam beberapa tahun terakhir, bisnisnya mengalami pertumbuhan pesat, dengan sebagian besar pelanggan berasal dari luar negeri. “Dulu, sekitar 70% pembeli orang asing. Jepang, Korea, dan negara lain menghargai kopi yang kami jual,”
ujarnya.
Perubahan ini mengakibatkan komposisi pelanggan yang sekarang lebih seimbang, dengan 50% pelanggan lokal dan 50% dari luar. “Kopi sekarang sudah bukan sekadar minuman, tapi bagian dari gaya hidup. Orang-orang mulai peduli pada proses produksi dan kualitas,”
katanya.
Suradi menyebut bahwa peningkatan kesadaran akan kopi premium menjadi momentum yang tak bisa disia-siakan. Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari upaya problem-solving dalam memenuhi preferensi konsumen yang terus berkembang.
Di bagian bawah Pasar Santa, Dunia Kopi selalu ramai. Pegawai sibuk menimbang biji kopi dan melayani pesanan pelanggan. Di sudut tertentu, Suradi menyediakan ruang khusus untuk mencicipi kopi secara gratis. “Di sini setiap tamu enggak harus beli. Bisa nyobain kopi apa saja, gratis,”
ucapnya.
Kebiasaan ini memperkuat hubungan dengan pelanggan, baik lokal maupun mancanegara, dan membantu menyebarluaskan kegemaran kopi yang berkualitas.
Penjualan yang dihasilkan setiap hari mencapai minimal satu ton, bahkan pernah mencapai tiga ton. “Yang rutin itu satu ton sehari. Pernah sampai tiga ton, bahkan lebih,”
katanya.
Saat wawancara, ada pelanggan yang membeli 200 kilogram kopi. Suradi menyebut transaksi dalam jumlah besar sudah biasa, karena banyak pembelinya merupakan reseller yang memasarkan produk ke daerah lain. Tren ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan kopi yang unik dan berkualitas terus meningkat, seiring problem-solving dalam menjaga standar mutu.
Dalam akhir pekan, penjualan minuman kopi di tempat juga meningkat tajam. “Sehari bisa 1.200 cup kopi,”
ujarnya.
Kenaikan ini mencerminkan popularitas Dunia Kopi sebagai tempat bertemu dan menikmati kopi dengan suasana yang nyaman. Suradi berharap, dengan pendekatan problem-solving yang terus dijalani, Dunia Kopi bisa menjadi ikon kopi Indonesia yang dipasarkan ke berbagai belahan dunia.
