Menuju Kedaulatan Industri: Transformasi Hijau Indonesia
Beritabaru1.com – Indonesia saat ini menghadapi momen krusial dalam perjalanan menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan. Upaya tidak hanya berfokus pada penarikan modal asing, melainkan juga memperkuat fondasi domestik melalui penguasaan inovasi dan teknologi. Tujuannya jelas: melahirkan perusahaan nasional yang mampu bersaing di kancah global. Gagasan ini menjadi sorotan utama dalam diskusi Katadata Policy Dialogue dengan judul “Made in Indonesia: Membangun Daya Saing Industri yang Berkelanjutan”. Acara tersebut diselenggarakan di Jakarta pada hari Selasa, 28 Juli 2026.
Forum ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan menuju Katadata Sustainability Action for the Future Economy atau disingkat SAFE 2026. Dalam kesempatan tersebut, Dimas Muhamad yang menjabat sebagai Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi menyampaikan pandangan penting. Menurutnya, keberhasilan proses industrialisasi tidak seharusnya hanya dinilai dari volume investasi yang masuk ke dalam negeri.
“Made in Indonesia saja belum cukup. Yang kita butuhkan adalah Made by Indonesia. Kita harus memiliki perusahaan nasional yang mampu menyerap teknologi, berinovasi, dan menjadi global champion,” tegas Dimas.
Meneladani pengalaman Korea Selatan dan Vietnam, Indonesia dituntut membangun industri yang kokoh sebagai tulang punggung perekonomian. Dimas kemudian merumuskan tiga pilar utama yang harus dimiliki negara untuk berhasil melakukan transformasi industri.
Risiko Ketergantungan Pasar
Pendapat senada disampaikan oleh Ardy Muawin, Managing Director Industrialization Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Ia menyoroti potensi bahaya jika Indonesia terlalu bergantung pada mekanisme pasar semata. Ketergantungan berlebihan pada ekspor sumber daya alam serta tenaga kerja murah dinilai tidak akan membawa bangsa ini keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.
“Tidak ada satu pun negara maju di dunia yang memiliki industri lemah dan tidak menguasai teknologi,” ujar Ardy.
Melalui lembaga Danantara, pemerintah kini menerapkan pendekatan lebih selektif dalam menarik investor. Fokus utama bergeser pada transfer teknologi dan penciptaan rantai pasok nasional yang kuat.
Ujian Nyata di Sektor Baterai
Sektor industri baterai menjadi arena pengujian nyata bagi ambisi tersebut. Aditya F. Arif, President Director Indonesia Battery Corporation (IBC), mengakui bahwa penguasaan teknologi manufaktur baterai merupakan tantangan terbesar saat ini. Saat ini, IBC memang memulai langkah melalui kemitraan strategis dengan pemain global.
Namun, Aditya menegaskan bahwa kemitraan tersebut hanyalah batu loncatan untuk membangun kapabilitas teknologi nasional secara mandiri di masa depan. Ia menjelaskan bahwa visi mereka melampaui sekadar pembangunan pabrik baterai.
“Yang kami bangun bukan sekadar pabrik baterai, tetapi kemampuan teknologi Indonesia. Bagi kami, IBC juga berarti Indonesia Battery Champion,” pungkasnya.

