Tragedi Longsor di Madrasah Rohingya Bangladesh: 7 Siswi dan 1 Guru Tewas
Beritabaru1.com – Dalam sebuah bencana yang mengguncang kawasan pesisir Cox’s Bazar, Bangladesh, sebuah longsor besar menimbun kamp pengungsi Rohingya, mengakibatkan kematian 7 siswi dan 1 guru. Kejadian tersebut terjadi pada hari yang sama dengan hujan monsun yang mengguyur kawasan tersebut, menghancurkan bangunan madrasah yang menjadi tempat belajar para pengungsi. Tragedi ini memperparah situasi yang sudah kritis di kamp tersebut, dengan korban tewas dan cedera terus bertambah. Upaya evakuasi dan pencarian korban berlangsung sementara, namun jumlah total korban belum sepenuhnya terungkap.
Latar Belakang Kamp Pengungsi Rohingya
Kamp Cox’s Bazar, yang menjadi tempat tinggal bagi lebih dari satu juta warga etnis Rohingya, telah lama menjadi saksi bisu perjalanan kelam pengungsi setelah terjadi peristiwa kekerasan militer di Myanmar pada 2017. Karena keterbatasan ruang dan sumber daya, tempat pengungsian ini dibangun di lereng bukit curam dengan struktur darurat dari bahan bambu dan terpal. Sementara pihak berwenang berupaya memperbaiki kondisi tersebut, bahaya longsor dan banjir tetap menjadi ancaman terbesar. Pada hari kejadian, angin kencang dan hujan deras memperparah risiko kecelakaan yang memicu kejadian ini.
Detil Korban dan Penyelamatan
Menurut laporan dari Komisioner Pemulihan dan Repatriasi Pengungsi, Mohammed Mizanur Rahman, 13 orang berhasil dievakuasi dari area longsor. Sayangnya, delapan dari mereka dinyatakan meninggal dunia, termasuk tujuh siswi yang berusia antara tujuh hingga dua belas tahun. Sementara lima anak yang selamat langsung dibawa ke rumah sakit untuk perawatan medis. Panna Akhter, pejabat distrik setempat, mengatakan kepada BBC Bangla bahwa anak-anak yang terlibat dalam tragedi ini termasuk dalam kelompok rentan akibat kondisi tempat tinggal yang tidak aman.
“Beberapa dari mereka berusia tujuh, delapan, 11, atau 12 tahun,” kata Panna Akhter, pejabat distrik setempat, kepada BBC Bangla.
Pasca tragedi, pihak berwenang Bangladesh mengeluarkan peringatan dini tentang risiko longsor susulan, mengingat hujan deras diperkirakan masih akan terus berlangsung beberapa hari ke depan. Evakuasi terhadap pengungsi di area berbahaya tinggi juga dimulai sebagai langkah pencegahan. Selain itu, organisasi kemanusiaan dan NGO lokal serta internasional bergerak cepat untuk memberikan bantuan darurat, termasuk penginapan sementara dan kebutuhan pangan, kepada korban yang terkena dampak.
Tragedi ini mengingatkan kembali tentang ketidakstabilan lingkungan di kamp pengungsi Rohingya, yang telah menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan dan keselamatan penghuni. Sebelumnya, longsor dan banjir telah mengorbankan minimal delapan pengungsi, termasuk lima anak, dalam sepekan terakhir. Selain itu, kamp ini juga menjadi tempat pengungsian yang rawan akibat penuhnya area dan kurangnya infrastruktur yang memadai. Pemerintah Bangladesh menegaskan bahwa mereka berupaya memperbaiki kondisi tersebut, meskipun tantangan tetap besar.
Dalam upaya mengurangi risiko serupa, sejumlah proyek perbaikan infrastruktur tengah dijalankan, seperti pembangunan jalan-jalan yang lebih kuat dan peningkatan sistem drainase. Namun, dengan hujan monsun yang masih berlangsung, langkah-langkah ini harus dipercepat. Para siswi dan guru yang tewas dalam kejadian ini menjadi peringatan tragis tentang pentingnya penguatan keamanan di area rawan bencana. Selain korban tewas, sejumlah siswa lainnya terluka dan masih membutuhkan perawatan intensif, menggambarkan dampak yang luas dari bencana ini.
